Narkoba, DARI DUNIA MALAM TERKENA HIV

Kompas, 29 April 2006

 
    Dua bulan terbaring dan terus merasa sakau membuat Irwan (30)
merasa kapok menggunakan narkoba. “Saat itu, kulit saya disentuh
saja rasanya sakit,” ujar Irwan di Bandung, Jumat (28/4). 
    Namun, janji di tahun 1998 itu tidak cukup kuat untuk menghindar
dari bujuk rayu kawan-kawannya sesama pengguna narkoba. Irwan mulai
menggunakan narkoba tahun 1990 saat di kelas dua SMP, di Makassar.
Awalnya ia sering kongkow dengan kelompok pengguna motor. Dari
komunitas itu, ia mengenal alkohol, lalu diskotek yang membawanya
mengenal narkoba. Orangtuanya lalu memindahkannya ke Jakarta.
    Namun, di Jakarta ia bertemu temannya dari Makassar dan kecanduan
lagi. Kali ini ia mulai menggunakan narkoba suntik. Ia sempat
menjadi bandar narkoba. Ketika polisi mencium kegiatannya, ia kembali
ke Makassar.
    Di Makassar, orangtuanya sempat pindah ke kampung sehingga Irwan
sulit membeli putau. “Tapi lagi-lagi bertemu dengan teman lama, saya
mulai memakai lagi,” ujar Irwan yang sempat menikah tahun 1998 dan
memiliki dua anak berusia 7 dan 5,5 tahun.
    Untuk sembuh dari ketergantungannya, Irwan dirawat di sebuah
pusat rehabilitasi selama setahun. Setelah tes HIV, ia dinyatakan
positif. Kini ia menjadi koordinator program di tempat rehabilitasi
narkoba Rumah Cemara. “Sekarang minum alkohol pun saya tidak mau
karena akan merembet menagih yang lain,” ujarnya. 

Hidup di jalan
    Sementara itu, Dot (34), mantan pengguna narkoba suntik atau
penasun, pernah “hidup” terluntang-lantung di jalan akibat disisihkan
oleh orangtua, keluarga, dan lingkungannya. Hidup telantar selama
tiga tahun dijalaninya penuh siksa. Setiap bangun pagi, hal pertama
yang dipikirkan hanyalah bagaimana memperoleh uang untuk membeli
putau.
    Kuliahnya pun jadi terbengkalai. Dot menyatakan hampir seluruh
pemakai narkoba cenderung berbuat kriminal hanya sekadar memenuhi
hasrat akibat sakau (ketagihan), dan memilih hidup penuh kebohongan
dan kelicikan untuk mendapatkan narkoba.
    “Saat disuruh masuk program detoksifikasi oleh orangtua, gue
keberatan. Gue bayangkan di rehabilitasi itu seperti di penjara. 
Namun, lewat rehabilitasi gue disadarkan bahwa yang salah itu  gue,
bukan orangtua atau orang lain,” ucapnya.
    Salah satu karakter pemadat adalah kecenderungan apatis dan
egois. Dalam perspektif alam bawah sadarnya, kondisi yang dialami
adalah karena kesalahan orangtua atau pihak lain. Inilah yang
mempersulit proses pemulihan.
    Padahal, keberhasilan rehabilitasi bergantung tingkat kemauan dan
kesadaran junkies itu sendiri. (jon/ynt)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: