“RAME-RAME” BUKTIKAN JIWA WIRAUSAHA

Kompas, 2 Nov 2007

“RAME-RAME” BUKTIKAN JIWA WIRAUSAHA

    Puluhan mahasiswa memajang ruang sempit seukuran 1 meter persegi
menjadi ruang pajang produk yang mereka buat dan perdagangkan. Ada
yang menata jamur dan bolu; ada yang membakar roti; ada juga yang
menata kaus dan melayani pengunjung yang bertanya tentang lobs-ter. 
    Semua kegiatan ini terjadi di ruang terbuka Kampus Universitas
Islam Bandung (Unisba), Kamis (1/11). Di tempat tersebut sekitar 20
stan diisi 16 kelompok mahasiswa. Mereka mengikuti pameran bisnis
dalam kegiatan Student Entrepreneur Days.
    Setiap kelompok mahasiswa terdiri dari lima anggota. Semuanya
mahasiswa Teknik Industri Unisba yang mengarahkan mahasiswa di jurusan
tersebut berani menjadi usahawan.
    Setiap mahasiswa mendapatkan mata kuliah Kewirausahaan Bisnis
Global. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa tak hanya diajari
merencanakan sebuah bisnis, tetapi juga mempraktikkannya.
    Dewi (20), mahasiswa Unisba bersama empat temannya, sudah menjual
kerudung, selimut, dan pakaian ke Jambi, Aceh, dan Pekan Baru. “Kami
berbelanja di Bandung dan menjualnya ke luar Jawa,” kata Dewi.
    Selama menjalankan bisnis tersebut Dewi mengaku tak pernah rugi.
“Keuntungan selalu kami bagi rata. Tapi saya akui, administrasi dan
manajemen bisnis masih kacau sehingga belum bisa mendata berapa persen
keuntungan yang bisa kami dapat,” ujarnya.
    Ferdi (22) bersama empat kawannya, Priyagung, Rizal, Nengah Iwan,
dan Andri Permana memproduksi keripik jamur yang mereka beri merek
J’aime.
    Modal awal mereka hanya Rp 50.000. Bersama empat temannya, Ferdi
membagi tugas produksi dan pemasaran.
    “Waktu kami sangat sempit karena harus kuliah dan usaha. Itu
sebabnya membuat keripik kami kerjakan dari pukul 19.00 sampai pukul
03.00 sebab harus beberapa kali menggoreng,” katanya.
    Dari modal Rp 50.000, mereka  meraih keuntungan sekitar 10 persen.
Mereka memasarkan keripik jamur ke koperasi mahasiswa dan warung
sekitar kampus.
    “Dalam sehari kami bisa menjual 45 bungkus keripik dengan harga Rp
3.000,” katanya.
    Ferdi mengaku ingin membangun usaha sendiri selulus kuliah.
“Mungkin tidak di bidang makanan, tetapi di bidang komputer. Saya
ingin usaha di bidang jual-beli komputer,” katanya.
    Hal yang sama dicita-citakan Dicky (22), Iik (22), Megy (22), dan
Sugi (22) yang memproduksi sendal, kaus, topi, dan lainnya. Mereka
ingin berwirausaha. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juni 15, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: