DEMI GERHANA RELA TERJAGA

 

smber : Kompas, 5 maret 2007

                        DEMI GERHANA RELA TERJAGA

    Asnita (64), warga Jalan Supratman, Kota Bandung,  biasanya
terlelap di malam hari. Namun, pada Minggu (4/3) dini hari ia rela
terjaga. Ia datang bersama anak dan cucunya ke Observatorium Bosscha,
Lembang, Kabupaten Bandung, untuk melihat gerhana bulan total yang
akan terjadi mulai pukul 03.18.
    Mengenakan jaket tebal karena suhu di daerah tinggi itu amat
dingin, ia  melipat kedua tangannya di dada untuk menghangatkan tubuh.
Ia dan anak cucunya sudah sejak pukul 19.00 berangkat ke Observatorium
Bosscha.
    Sebelumnya, Asnita pernah datang ke observatorium untuk mengamati
berbagai fenomena alam bersama warga di daerah permukimannya. “Kami
datang bersama-sama satu rukun warga,” kata Asnita.
    Kali ini keluarga Asnita datang karena cucunya, Risna Karyanita,
yang bersekolah di SD Priangan, mengajaknya untuk mengamati gerhana
bulan di observatorium itu. Cucunya berjanji bertemu dengan
teman-teman sekolahnya di tempat peneropongan bintang itu.
    Citra Krisnawati (35), anak Asnita sekaligus ibu dari Risna,
mengatakan, ia datang karena ingin memberikan pengalaman mengamati
Bulan dengan teropong pada anaknya. “Anak saya mendapatkan infonya
dari sekolah tentang gerhana bulan kali ini,” kata Citra .
    Edi Santosa (59) dan Anah Rostianah (52), pasangan suami istri
dari Jalan Peneropongan Bintang, Lembang, Kabupaten Bandung, yang
bertetangga dengan Observatorium Bosscha sengaja tidak tidur agar bisa
datang dan mengamati gerhana bulan yang terjadi sejak pukul 03.18  dan
mencapai puncak gerhana totalnya pukul 05.44 -06.20.
    “Kami tahu informasi soal gerhana bulan dari tetangga yang bekerja
di observatorium ini,” kata Anah. 
    Anah sering kali membawa serta keluarga besarnya yang tinggal
berpencar di berbagai daerah di Kota Bandung. “Saya telepon anak-anak
dan saudara di Bandung untuk datang ke rumah saya dan bersama-sama
pergi ke observatorium,” ujar Edi.
    Selain keluarga Asnita dan Edi, ada sekitar 500 orang lainnya
berbondong-bondong berjalan sekitar 1 kilometer dari pintu gerbang
pertama  menuju pintu gerbang terakhir kawasan peneropongan bintang
Bosscha. Mereka menyemut duduk di jalan aspal, menunggu pintu portal
menuju gedung peneropongan dibuka.
    Mereka terdiri dari anak-anak dan orang dewasa. Ada pedagang,
petani, guru, mahasiswa, dan pegawai pemerintah maupun swasta. Pada
pukul 03.00 dengan tertib pengunjung memasuki aula kecil secara
bergiliran untuk mendapatkan penjelasan mengenai gerhana bulan yang
akan terjadi.
    Mereka yang telah mendapat penjelasan segera mengantre di muka
pintu gedung peneropongan bersama dengan seorang pemandu. Saat lampu
bulat di atas gedung menyala, seorang kakek berucap, “Nah, bulannya
sudah terang.” Pengunjung lainnya tertawa. 
    Mereka masuk dan mendapat penjelasan mengenai teropong dan
pemanfaatannya. Setelah diberitahu bahwa gerhana tidak bisa diamati
karena langit terus diselimuti awan, banyak di antara mereka memilih
pulang sambil menahan dinginnya udara. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: