DEMI UPACARA, PETANI LIBUR

sumber : Kompas, 14 april 2007

DEMI UPACARA, PETANI LIBUR
Tarian untuk Menguak Keinginan Bawah Sadar Masyarakat

Subang, Kompas
    Setiap tanggal 14 Maulid, masyarakat Kampung Palabuan, Desa
Sukamelang, Kecamatan Subang, Kabupaten Subang, menjalankan upacara
adat Nyepuhan dan Nyekeutkeun untuk menghormati leluhur dan
mensyukuri rezeki yang telah diterima. Tahun ini upacara
diselenggarakan tanggal 2 April malam hari.
    Puncak acara dimulai tanggal 3 April pukul 10.00 dan berlangsung
selama dua jam. Sejak pagi masyarakat sudah berdatangan membawa harta
benda yang akan disyukuri, sebagian besar makanan.
    Acara pertama dilaksanakan di rumah kuncen kampung, yang
berlangsung semalam suntuk. Penduduk datang untuk berdiam diri dan
berpuasa bersama. Mereka berdoa sambil mengucapkan terima kasih
kepada Tuhan.
    Sementara acara puncak diadakan di pemakaman umum Palabuan,
tempat Kibuyut Kumis, pembuka kampung, dimakamkan. Menurut kuncen
Kampung Palabuan, Uja (80), Kibuyut adalah keturunan dari Kerajaan
Cirebon. 
    Pada masa hidupnya, beberapa abad lalu, Kibuyut selalu meminta
masyarakatnya mensyukuri hasil panen yang diterima. Acara tersebut
diikuti tua dan muda. Sebagian besar warga kampung berprofesi sebagai
petani. Setiap upacara dilaksanakan, sebagian besar petani di kampung
itu meliburkan diri untuk mengikuti upacara.
    Jumana (45), penduduk kampung tersebut, mengaku merasa punya
utang jika tak ikut upacara adat. “Saya sudah bekerja setiap hari.
Tidak ada salahnya berhenti dulu sehari,” ujar Jumana.

Musik gembyung
    Upacara puncak diiringi musik gembyung. Musik tradisi itu
dipercaya dapat menghubungkan manusia dengan Tuhan. Menurut Nanu
Muda, dosen Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, yang
mendalami kesenian rakyat, musik gembyung yang terdiri dari sembilan
lagu biasanya monoton sehingga gerakan para penari pun menjadi
monoton.
    Gerakan yang monoton dan dilakukan dalam waktu lama mampu membuat
penari terhanyut dan tak sadar pada sekitarnya. Kondisi ini digunakan
masyarakat zaman dahulu untuk mengetahui keinginan bawah sadar
penduduk. Pada akhir acara, penduduk akan mendengarkan wejangan dari
sesepuh kampung. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: