DENI KENALKAN SASTRA HINGGA KE DISTRO

sumber: Kompas, 28 Maret 2006

DENI KENALKAN SASTRA HINGGA KE DISTRO

    Meski tinggal di sebuah kampung di daerah Sukabumi, Jawa Barat,
Deni Rachman (26) mengaku sebagai generasi yang hilang dari
budayanya. Di masa dewasa, kerinduannya pada kesundaan dilunasi
dengan memperkenalkan karya-karya sastra Sunda, melalui distribution
store (distro), toko mode untuk anak-anak muda.  
    Di masa kecil, Deni tinggal di sebuah kampung di antara
perkebunan karet, teh, dan cengkeh di Gunungsari, Palabuhanratu,
Sukabumi. Sekolahnya berada di antara perkebunan karet. Hanya sedikit
murid yang menggunakan seragam dan sepatu ke sekolah.
    Bahasa sehari-hari bahasa Sunda. Namun, di rumah Deni lebih
banyak berbahasa Indonesia dengan logat Sunda. Ia mulai membaca buku
sastra dan kajian tentang Sunda saat kuliah di Jurusan Kimia,
Universitas Padjadjaran, Bandung tahun 1998.
    “Tapi saya merasa aneh. Bisa membaca, tapi tidak bisa menulis
dalam bahasa Sunda,” kata Deni. Itu sebabnya ia merasa menjadi
generasi Sunda yang sempat hilang. Sejak itu Deni tergerak ikut
memasarkan buku-buku Sunda.
    “Saya orang Sunda dan ingin Sunda eksis di masyarakat.
Saya memutuskan mengambil bagian dalam pemasaran dan promosi buku
Sunda,” kata Deni.
    Ia mulai memasarkan buku Sunda tahun 2001, dan membuat perusahaan
bernama Lawang Buku. Ia menjadikan kamar kosnya di Dago Elos V
sebagai gudang sekaligus kantornya. 
    Buku diambil dari penerbit. Pada awalnya, ia menjual buku di
Pasar Kaget Gasibu. Sekitar 70 buku dibawanya dalam ransel. Hanya
satu atau dua buku Sunda yang dibawanya yang terjual.

Pameran
    Langkah Deni berlanjut. Ia ikut pameran besar untuk menjual
bukunya. Di pameran, terutama yang bertema Sunda, penjualan buku
cukup tinggi. “Pernah dalam dua jam, omzet sampai Rp 3 juta, dengan
harga buku rata-rata Rp 20.000,” kata Deni.
    Selain di pameran besar, Deni menyebarkan buku-buku Sunda ke 30
toko buku yang tersebar di Kota Bandung dan Jatinangor. Ia juga
bekerja sama dengan distro, yang didatangi anak muda dan wisatawan
dari luar kota, serta memasarkan buku ke tempat nongkrong anak-anak
punk.
    “Jangan salah, anak punk itu wawasannya luas. Mereka berprinsip
lebih baik beli buku daripada beli makanan,” ujarnya.
    Deni membidik pasar anak muda karena ia menilai anak muda tidak
tertarik pada sastra Sunda, karena tidak mengetahui buku-buku
tersebut masih diterbitkan. Buku Sunda yang banyak diminati adalah
sastra dalam bentuk cerita pendek, dan kajian tentang Sunda.
    Hingga kini, Deni mengaku keuntungan menjual buku Sunda sangat
kecil. Omzet per bulan hanya Rp 2 juta. “Tapi tidak masalah. Dalam
berdagang, saya masih tetap mendapatkan ilmu,” kata Deni yang selalu
membaca buku-buku yang akan didistribusikannya.
    Meski keuntungannya tidak besar, Deni tetap memiliki keinginan
membangun yayasan untuk menyalurkan buku-buku Sunda yang dihibahkan
oleh penerbit padanya.
    Deni tidak ingin generasi Sunda berikutnya mengalami nasib
seperti dirinya, tercerabut dari akar budayanya karena tidak ada
informasi yang masuk ke kampung tempat budaya itu seharusnya tumbuh
subur.  (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: