DENTING GITAR DALAM AURA KERINDUAN

sumber: Kompas Jogja, 23 Agustus 2004

DENTING GITAR DALAM AURA KERINDUAN

    DALAM sebuah konser klasik, penonton memang sering menjadi ukuran
untuk menemukan  nilai apresiasi pementasan. Begitu pula penampilan
delapan gitaris yang pernah juara “Festival Gitar Yamaha” di
Indonesia maupun Asia Tenggara 1997-2001, di Yogyakarta, Jumat
(20/8), tak lepas dari format itu. Ruang Pandawa Hotel Mercure”
tempat dilangsungkan pertunjukan-seperti menjadi saksi betapa
sesungguhnya kerinduan akan konser gitar klasik begitu kuat merasuk
sebagian masyarakat Yogyakarta.
    Bukan hanya penonton yang terpuaskan, delapan gitaris; Andre
Indrawan, Royke B Koapaha, Rahmat Raharjo, Woody Satya Darma, dan
Setyabudhi Situmorang dari Yogyakarta, serta Jubing Kristanto, Phoa
Tjun Jit, dan Wildan Kamil Arifin dari Jakarta, tak bisa menutupi
perasaan bangganya mendapatkan sambutan dari penonton Yogyakarta.
    Tjun Jit dan Jubing, gitaris dari Jakarta ini menilai, respon
dari penonton Yogya luar biasa. Keduanya mengukur dari  tiket yang
terjual habis dan banyaknya penonton berdiri. Apresiasi penonton
dinilai tinggi karena sering memberikan tepukan, seirama dengan
dinamika pertunjukan itu. 
    “Permainan gitar di Yogya lebih berkembang dari kota lain.
Regenerasi jalan terus dan para juara pun banyak dilahirkan Yogya.
Idealnya, di lingkungan seperti ini konser gitar diadakan sebulan
sekali dengan syarat lagu-lagu yang disajikan lebih bervariasi,”
kata Tjun Jit.   
    Frans (22), penonton yang mempelajari gitar klasik sejak lima
tahun lalu, begitu antusias menonton konser ini. “Habis jarang
sekali. Seharusnya konser seperti ini diadakan 15 kali dalam
sebulan,” katanya. Ia menilai, harga tiket Rp 15.000 relatif murah.
    Hal yang sama dikatakan dua mahasiswa jurusan gitar, Institut
Seni Indonesia (ISI). “Bagusnya, diadakan sebulan sekali,” kata
Jamlikun (21). Sementara Tia (20) menilai, dua bulan sekali pun tak
mengapa, asal rutin. Menurut keduanya, konser gitar semacam ini baik
sekali untuk menumbuhkan semangat belajar, mempelajari teknik bermain
gitar, dan menguasai panggung.  
    Menurut Rahmat Raharjo, musisi yang juga dosen ISI jurusan
gitar, “Peminat musik klasik sudah banyak. Apresiasi orang juga
sudah lebih maju, tidak hanya musik pop, atau musik instan,” ungkap
Rahmat yang sudah mengenal instrumen gitar sejak usia lima tahun.
    Keyakinan akan musik klasik, yang akan terus berkembang saat ini,
juga diungkapkan Royke B Koapaha. Royke menilai bahwa saat ini banyak
penyanyi dan musisi yang hanya mengejar ketenaran saja. Akibatnya,
penyanyi dan musisi hanya akan menjadi artis yang didikte dari
atasannya.
    Bagi Woody Satya, musisi tak hanya bermain dengan gitar, tapi
mempelajari musik itu sendiri. Dalam musik ada harmoni atau teknik
komposisi. Teknik seperti inilah yang menjadi bekal Woody menjadi
animator film.

    KONSER itu berlangsung tiga jam, waktu yang relatif lama untuk
sebuah pertunjukan. Tetapi sekitar 300 penonton, yang memadati
ruangan itu, seperti tak mau beranjak, terpukau sampai pertunjukan
berakhir.
    Lagu yang ditampilkan adalah lagu-lagu pop dan lagu rakyat yang
sederhana. Namun, hal yang sederhana itu begitu energik dan kaya
nuansa ketika digarap dalam aransemen bernuansa klasik. Tepuk tangan
penonton selalu hadir dalam jeda-jeda permainan. 
    Betapa sangat kuat sekali emosi penonton ketika gitaris Jubing
Kristianto (38) menyelipkan dangdut saat memainkan lagu Becak Fantasi
ciptaan Ibu Sud,  yang telah diaransemen Jubing. Royke sebagai
penggarap musik, bersama Woody, Rahmat, dan Setyabudhi, sempat
membuat beberapa penonton geleng-geleng kepala ketika tampil dengan
lagu Rek Ayo Rek.
    Boleh dikata, denting gitar malam itu mampu menumbuhkan aura
kerinduan akan teknik permainan gitar klasik. Lagu-lagu lain yang
ditampilkan, antara lain, Neng Geulis, Masih, lagu tema Mission
Impossible, Pelangi di Matamu, Bandar Jakarta, For a Few Dollar,
Andante, Mallorca, Ostinato, Waltz No. 3, dan Concerto. Penampilan
mereka yang terkadang bermain solo, kuartet, dan formasi lainnya,
ditutup dengan lagu Sayonara, yang dimainkan oleh ke delapan gitaris.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: