DESA CIBODAS, KAMPUS PARA PETANI

 Sumber : Kompas, 22 mei 2006

Sumber Ekonomi
 DESA CIBODAS, KAMPUS PARA PETANI
 Oleh Yenti Aprianti

    Sayur-mayur tidak bisa dipisahkan dari perkembangan Desa Cibodas,
Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di desa berhawa
dingin dengan tiupan angin menyejukkan ini, sayur ditanam di mana-
mana. Di pekarangan, di samping, dan di belakang rumah, juga di kebun-
kebun. Rumah-rumah di desa yang berketinggian sekitar 1.000 meter di
atas permukaan laut dengan suhu 18-26 derajat Celsius ini asri.
    Sebagian besar rumah penduduknya bagus-bagus dengan dinding
tembok dan lantai keramik. Jalan pun beraspal cukup mulus. Di depan
jalan utama di Desa Cibodas bahkan ada kolam renang untuk anak-anak
berekreasi dan berolahraga. Kolam itu berada dekat lahan pertanian
sayur.
    Rumah penduduk dengan halaman luas biasanya dihiasi rumput hijau
dan bunga-bunga. Namun, banyak juga yang menjadikan pekarangan rumah
sebagai sumber ekonomi, misalnya dengan menanami kaboca (labu
jepang), seledri, bawang daun, dan brokoli, atau berbagai bibit
sayuran untuk dijual kepada petani di sekitarnya.
    Tina (26), seorang ibu rumah tangga, leluasa membantu suaminya
menanam bibit cabai di halaman rumah sambil mengurus anaknya yang
masih bayi. Di belakang rumahnya, ia juga menanam 30.000 bibit
brokoli. Para petani di sekitarnya biasa membeli bibit langsung ke
rumahnya dengan harga Rp 30 per kantong (polibag).
    Demikian juga dengan Medi Juanda (53), seorang petani. Karena
permintaan sayur dari para pedagang tidak bisa dipenuhi hanya dari
kebunnya, Medi menggunakan halamannya untuk ditanami seledri dan
bawang daun.
    Di kebun-kebun tampak aneka warna sayuran. Ada yang ungu, putih,
kuning, merah, hijau, oranye, hingga hitam. Seluruh warna begitu
menggemaskan, segar, pekat, dan bersinar, menggiurkan untuk disantap.
Dari sayur lokal hingga sayur yang bibitnya didatangkan dari Jepang
atau Belanda.
    Desa ini memproduksi kentang, kubis, brokoli, cabai merah, daun
bawang, seledri, dan berbagai jenis tomat. Ada juga paprika belanda
yang gemuk dan besar seperti apel. Tumbuh juga berbagai sayuran yang
bibitnya dari Jepang, seperti mizuna (daun lobak), syungiku
(kenikir), cisito (cabai), piman (paprika jepang yang berbentuk
lonjong), kyuri (mentimun), damame (kedelai), satsumaimo (ubi jalar),
ingen (buncis), nasubi (terung), gobo (semacam gingseng), kaboca
(labu), sironegi (bawang daun), asparagus jepang, dan horenso (bayam).
    Hampir seluruh keluarga di desa yang terletak di belakang Taman
Wisata Maribaya ini menggantungkan hidup dari pertanian sayur atau
hortikultura. Berdasarkan data tahun 2004, dari 8.904 penduduknya,
ada 2.464 yang telah memiliki mata pencarian. Sebanyak 1.507 orang
dari jumlah penduduk yang telah bekerja adalah petani, terdiri dari
746 petani pemilik lahan dan 761 buruh tani.
    Sebagian besar petani mampu mengembangkan pertanian dengan pola
modern mengikuti tuntutan teknologi budidaya pertanian. Selain itu,
pasar komoditas pertanian di desa ini pun cukup berkembang. Hasil
produksi sayur di desa ini dipasarkan ke Singapura, Taiwan, dan dalam
waktu dekat akan diekspor ke Korea Selatan. Selain itu, ada petani
yang menjualnya ke supermarket di Jakarta, Denpasar, Surabaya, dan
Bandung. Sisanya untuk pasar-pasar induk di Jawa Barat dan Jakarta.
    Dengan keberhasilan ini, rasanya sulit membayangkan bahwa desa
yang dibuka oleh keluarga Eyang Sarja dan Pawira dari Cibeunying,
Kota Bandung, tahun 1886 ini akan maju seperti sekarang. Sejak masa
penjajahan, masyarakat di desa ini hidup dari pertanian sayur. Hanya
saja, sayur yang ditanam waktu itu sebatas ubi jalar, jagung, cabai,
kol, dan kentang.
    Pada masa kemerdekaan hingga 1980-an, sebagian besar petani
menjual produksinya ke pasar-pasar tradisional. Sayur yang akan
dijual dimasukkan begitu saja ke dalam karung. Para petani hanya tahu
menanam. Mereka lebih sering merugi karena mendapatkan harga sayur
yang jatuh di musim panen.
    Oleh karena itu, sebagian penduduk kampung tidak bisa hidup
sejahtera. Rumah mereka yang berdinding anyaman bambu tampak kumuh
dan reot. Penyakit menular menjangkiti penduduk karena lingkungan
yang tidak sehat. Kandang ternak menempel langsung pada rumah-rumah
penduduk.
    Jika malam tiba, penduduk terisolasi karena listrik belum masuk.
Listrik baru masuk ke desa itu tahun 1985. Jika turun hujan, jalan
tanah yang menurun dan menanjak menjadi licin hingga sulit dilalui
kendaraan. Kini jalan sudah beraspal, rumah-rumah sudah memiliki
jamban sendiri. Rata-rata petani di desa ini berpenghasilan Rp 2 juta
per bulan.
    Para petani di desa ini bukan petani biasa. Meski sebagian besar
hanya tamat sekolah dasar, mereka cukup percaya diri untuk saling
tukar ilmu dengan para pejabat dari berbagai dinas pertanian di
Indonesia, mahasiswa, serta petani dari luar negeri, seperti Nigeria
dan negara-negara lainnya di Asia.
    Setidaknya, desa ini menjadi langganan praktik lapangan dan
tempat penelitian bagi orang-orang yang terjun di bidang pertanian
hortikultura. Desa Cibodas ibarat kampus bagi para petani. Setiap
tahun sekitar 200 tamu datang ke desa ini. Para tamu biasanya
menginap sampai tiga hari, bahkan ada yang tinggal menetap sampai
enam bulan.
    Untuk penginapan dan makan, para tamu tak perlu pusing. Sejumlah
warga bersedia memberikan tumpangan untuk menetap dengan tempat tidur
dan jadwal makan teratur. Biayanya hanya berkisar Rp 90.000 per
orang. Listrik dan air bisa dipakai dengan gratis.
    Belajar bertani di desa ini bisa juga gratis, disesuaikan dengan
kemampuan mereka yang ingin belajar. Sebab, untuk perorangan ada
beberapa petani yang siap menampung dan memberi latihan dengan cara
magang di kebunnya.
    Ilmu yang bisa diberikan para petani meliputi pemilihan bibit,
proses produksi, teknologi budidaya terbaru dan terbaik, pemasaran,
pengemasan, hingga lalu lintas ekspor produk pertanian serta analisis
usaha tani.
    “Tidak perlu takut membagi ilmu. Toh, ilmu pertanian selalu
berkembang. Selain itu, petani tidak boleh menyerah, sebab ilmu yang
didapat di desa ini mungkin harus mendapat perlakuan yang sedikit
berbeda karena kondisi alam yang tidak sama di tempat petani lain.
Justru dengan begitu kami jadi saling bertukar ilmu,” kata Doyo Mulyo
Iskandar (38), seorang petani.
    Mereka belajar dalam program Pusat Pelatihan Pertanian dan
Pedesaan Swadaya (P4S). Program inilah yang memajukan kehidupan
pertanian di desa ini. Program ini didirikan dan dikelola Ishak (40),
petani sayuran, setelah ia mendapat kesempatan magang mempelajari
pertanian di Jepang.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

5 Tanggapan to “DESA CIBODAS, KAMPUS PARA PETANI”

  1. selamat sore, mohon maaf saya mau tanya informasi tentang kabuca (labu) saya sekarang sedang membutuhkan. kiranya bisa memberikan alamat (tempat) para petani kaboca. Terima kasih banyak

  2. Saya Didin Muhidin, dari Cilengkrang Bandung. Dulu pernah belajar pertanian eksklusive di Pak Doyo. Pak DOYO SAYA ADA PENTING BANGET SAMA BAPAK MASALAH PERMINTAAN PRODUK ORGANIK YG LUAR BIASA SAMA SAYA. KIRA-KIRA BISA KETEMU GAK YA PAK? Didin Muhidin : 081932346796 – 085220253511

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: