DI KANDANG AYAM PUN SENI DIBURU PENONTON

Sumber : Sabtu, 16 Juni 2007

DI KANDANG AYAM PUN SENI DIBURU PENONTON

    Kesenian Jawa Barat ternyata punya banyak peminat. Meski sebagian
besar tontonan tersebut diselenggarakan malam hari, orang tetap saja
berbondong-bondong mendatangi tempat-tempat pertunjukan. Sayang,
potensi besar ini belum dikelola dengan baik dan merata di seluruh
daerah.
    Mungkin usaha beberapa warga Kota Bandung untuk mengembangkan seni
budaya patut dicontoh. Di antara mereka ada yang mendirikan panggung
kesenian untuk membangun akar budaya dan menyalurkan dahaga pada
hiburan tradisi masyarakat di sekitarnya.
    Kota Bandung lebih beruntung. Selain pemerintah dan lembaga,
banyak anggota masyarakat membangun sendiri panggung-panggung kesenian
atau galeri. Nyaris tiap minggu mereka selalu memiliki program
kesenian yang bisa didatangi.
    Anak-anak muda datang ke Pusat Kebudayaan Perancis untuk
mendengarkan puisi, menikmati pameran foto dan lukisan, menonton
pergelaran musik, teater, dan lain-lain. Di Galeri Sumardja, nyaris
selalu ada yang bisa dinikmati. Orang di sekitar daerah Ledeng
berbondong-bondong datang ke Center of Cultural Ledeng (CCL) untuk
menonton segala rupa seni karya seniman lokal bahkan dunia.
    Di sekitar Cileunyi, orang bisa mampir ke Sarakan Kampung Seni di
Cibolerang, Cinunuk. Hampir setiap malam Minggu orang bisa menonton
seni-seni tradisi. “Padepokan ini selalu dipenuhi masyarakat setiap
malam Minggu,” ujar Oos Koswara, seniman yang sering bekerja sama
dengan padepokan tersebut.
    Yang membuatnya kagum adalah senimannya asli dari daerah tersebut.
Sambil berlatih, mereka tampil sekaligus menguji diri di hadapan
penonton. Cibolerang merupakan daerah yang seni tradisinya terus
tumbuh karena dipelihara oleh masyarakat.
    Sementara itu, di daerah Padasuka, ada Saung Udjo. Nyaris setiap
sore bocah-bocah kecil di daerah tersebut bel-ajar memainkan angklung.
   Mereka juga selalu siap menyambut wisatawan domestik dan
mancanegara dengan kesenian yang tak hanya enak didengar, tetapi juga
sangat komunikatif. Tingkah para bocah yang polos dan atraktif membuat
turis gemas untuk ikut bermain angklung atau menari bersama mereka.

Kandang Ayam
    Masyarakat di daerah Dago juga beruntung karena setiap minggu
mereka gratis menonton berbagai acara seni tradisi di Taman Budaya
Jawa Barat yang dikelola pemerintah.
    Dina Artini (17) mengaku setiap minggu menonton pertunjukan seni,
terutama seni tradisi. “Seni tradisi itu lebih menarik karena
memperlihatkan orisinalitas suatu masyarakat,” kata Dina yang berharap
  semua masyarakat daerah di Jabar bisa merasakan kesenangan yang
sama.   “Saya beruntung karena tinggal dekat Taman Budaya, tapi
teman-teman di daerah lain di Jabar bagaimana? Apakah mereka bisa
menikmati seni tradisi sesering saya?” kata Dina.
    Neneng Lienfi, Kepala Seksi Sejarah dan Nilai Tradisional Dinas
Pendidikan Kabupaten Sukabumi, mengatakan, daerahnya memiliki banyak
program seni budaya yang bisa menyedot sekitar 5.000 wisatawan
domestik dan mancanegara pada satu acara. Kegiatan seperti peringatan
Hari Nelayan dan Seren Taun di masyarakat adat dilaksanakan tiap
tahun. Namun, belum ada panggung terbuka yang rutin menggelar acara
seni setidaknya seminggu sekali.
    Butuh kreativitas dan kemauan berbagi untuk menjalankan kehidupan
seni dan kebudayaan di masyarakat. Iman Soleh (45) menjadikan halaman
rumah orangtuanya yang berkandang ayam dan dikelilingi kamar-kamar kos
sebagai panggung terbuka CCL Kota Bandung. Ia menyediakan tempat duduk
untuk penonton dengan menggelar karung, kardus, atau kanvas di antara
pepohonan. Tempat duduk yang seadanya itu selalu dipenuhi sekitar 100
penonton mulai dari anak usia dua tahun, ibu rumah tangga, politisi,
tentara, hingga seniman dari berbagai belahan dunia. Mereka tak perlu
membeli tiket untuk menonton karena CCL menggelar acara untuk
menumbuhkan akar budaya. 
    “Di tahun 2007, setidaknya dalam sebulan digelar dua pergelaran
seni,” kata Iman, yang kadang kala menyisipkan pesan singkat dalam
pengumuman acara yang digelarnya agar penonton membawa konsumsi
sendiri. Maklum saja, setiap pergelaran dilakukan nyaris tanpa dana
yang besar. Bahkan, Iman dan teman-temannya sering harus merogoh saku
sendiri.
    Ketika Australia mengajaknya untuk bekerja sama dalam diplomasi
budaya Agustus mendatang, ia masih berpikir kira-kira dari mana
dananya akan didapat. Namun, segala persiapan terus dilakukan.
“Mudah-mudahan saja ada rezekinya,” tutur Iman.

Seperti Sanggar
    Iman menilai, saat ini Jabar belum memiliki program yang pasti
untuk wisata seni. Pemerintah yang mengurusi seni dan budaya masih
seperti sanggar. Mereka seolah menjadi kurator, manajer, pemegang
dana, bahkan pemain. “Padahal, ilmu jasa dan perkembangan seni adanya
di masyarakat. Oleh karenanya, harus tumbuh dari masyarakat,” kata
Iman, yang mengatakan tempat berkesenian yang dibangun masyarakat,
seperti Saung Udjo dan Galeri Barli, lebih baik gaungnya daripada
kegiatan pemerintah.
    Sementara itu, seniman di berbagai daerah tak mampu direngkuh
dengan baik. Di daerah-daerah, seniman tak terurus. Mereka tidak tahu
bahwa untuk mengembangkan seni sebetulnya ada dana di pemerintah.
“Saat ini seniman menyubsidi seninya, dirinya, dan juga penonton,”
ujar Iman.
    Masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta jalan sendiri-sendiri.
“Meskipun industri di Jabar sangat banyak, kontribusinya terhadap
kesenian dan kebudayaan nyaris tak terasa,” kata Iman. 
    Masyarakat sukarela mengeluarkan dana sendiri demi mengakar dan
berkembangnya seni budaya. Ada rahasia umum yang beredar di kalangan
seniman, jika ada kegiatan diplomasi budaya di luar negeri, dipastikan
40 persen dari rombongan adalah orang pemerintah. Biasanya mereka
tidak bekerja, hanya menumpang jalan-jalan dan belanja. Kalau ratusan
juta rupiah uang rakyat selalu mengalir ke tempat yang salah, kapan
wisata seni bisa tergarap dengan baik? (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: