DI KOTA, BANYAK DOKTER MENGANGGUR

sumber: kompas, 5 Juni 2007

DI KOTA, BANYAK DOKTER MENGANGGUR
Pemerataan Kesehatan di Jabar Sulit Tercapai

Bandung, Kompas
    Dokter banyak dibutuhkan di desa, terutama di daerah terpencil.
Namun, kebutuhan tersebut sulit terpenuhi sejak penyebaran dokter
berstatus pegawai tidak tetap atau PTT ke berbagai pelosok tidak lagi
menjadi sebuah keharusan. Sementara itu, di kota justru banyak dokter
menganggur karena tak dapat tempat untuk bekerja dan tak mampu membuka
praktik.
    Berdasarkan data tahun 2005, dari 39,9 juta penduduk Jawa Barat,
hanya ada 994 puskesmas. Jika dirata-rata, satu puskesmas melayani
40.202 orang. Padahal, idealnya satu puskesmas melayani 30.000 orang.
    Tenaga kesehatannya pun masih kurang. Dari 994 puskesmas di Jabar,
hanya ada 10 dokter spesialis, 1.622 dokter umum, 656 dokter gigi, dan
7.651 perawat. Rasio jumlah dokter dan penduduk masih 1 berbanding
24.637. Padahal, sesuai aturan Departemen Kesehatan, rasio idealnya 1
berbanding 2.500.
    Prof Dedi Subardja, Ketua Pusat Penelitian Kesehatan Universitas
Padjadjaran (Unpad), mengatakan, pelayanan kesehatan bagi masyarakat
meliputi pengobatan, pencegahan, dan penyuluhan. Namun, hal tersebut
sulit dilaksanakan karena jumlah puskesmas dan dokter di daerah masih
kurang.
    Penambahan puskesmas tentu membutuhkan dana. Sayangnya, hingga
saat ini anggaran kesehatan jarang dibahas. “Pihak-pihak yang bekerja
di bidang kesehatan, lembaga swadaya masyarakat, ataupun masyarakat
sendiri jarang sekali terdengar menuntut anggaran kesehatan, tidak
seperti yang dilakukan guru dan orang-orang pendidikan yang menuntut
anggaran pendidikan ideal,” kata Dedi.
    Pelayanan kesehatan secara lengkap menyangkut pengobatan,
pencegahan, dan penyuluhan pun tak bisa dilakukan dengan optimal
karena distribusi dokter tidak merata. Beberapa tahun ini dokter
banyak tinggal di kota dan menjadi pengangguran terselubung. Hal ini
terjadi karena selama sekitar tiga tahun ini pemerintah kurang memberi
fasilitas bagi dokter PTT untuk bekerja di daerah.
    Dedi mengatakan, sebelumnya dokter yang akan memiliki izin praktik
harus menjadi dokter PTT di daerah. Namun, sekarang dokter bisa
mendapatkan surat tanda registrasi ke Departemen Kesehatan. Dengan
surat tersebut, mereka bisa bekerja di rumah sakit atau di klinik.
    Unpad setiap tahunnya meluluskan lebih dari 100 dokter. Namun,
hanya sekitar 10 persen yang diterima sebagai pegawai negeri sipil
(PNS) melalui tes PNS di Depertemen atau Dinas Kesehatan. Sisanya
bekerja di klinik-klinik atau menjadi pengangguran terselubung.

Sulit dicapai
    Akibat tidak meratanya penyebaran, para dokter menumpuk di kota.
Mereka lebih banyak menjalankan pekerjaan dalam segi kuratif.
    Jumlah dokter yang lebih banyak di kota tidak akan memadai untuk
meningkatkan Indikator Kesehatan dan Indeks Pembangunan Manusia. Jika
dokter menjalankan tugas pengobatan, pencegahan, dan penyuluhan,
kehidupan kesehatan masyarakat lebih mandiri. Sementara dokter di kota
hanya berbisnis kesehatan. 
    Dari 10,6 juta rumah tangga di Jabar, pada tahun 2005 baru sekitar
4 persen atau sekitar 500.000 rumah tangga yang merupakan rumah tangga
sehat. Dampak jangka panjang dari ketidakmerataan, penyebaran
kesehatan di Indonesia ataupun di Jabar sulit dicapai. “Tidak ada
artinya jika Indonesia mencetak banyak dokter, punya kurikulum bagus,
tapi tidak mendistribusikannya,” kata Dedi. 
    Sementara itu, menurut Niken Sugiastuti, Kepala Seksi Rujukan,
Pelayanan Kesehatan, Dinas Kesehatan Jabar, Dinas Kesehatan Jabar
tidak melakukan pelayanan langsung ke daerah terpencil, tetapi hanya
memfasilitasi kebutuhan daerah, salah satunya memberi pelatihan. 
Pelayanan, termasuk di daerah terpencil, diserahkan kepada pemerintah
kota/kabupaten. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Satu Tanggapan to “DI KOTA, BANYAK DOKTER MENGANGGUR”

  1. kami membutuhkan dokter 3. jika berminat : klinik prima husada pacitan, jl. tentara pelajar no 14 widoro pacitan jawa timur. email : manhiaku77@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: