DI MANA ALAM MENJADI BUKU DAN TEMAN

Sumber : Kompas,  1 Agustus 2006

Taman Kota 
DI MANA ALAM MENJADI BUKU DAN TEMAN

    Sekelompok burung terbang bergerombol dari pohon satu ke pohon
lainnya. Seorang anak mencoba mengikuti arah terbangnya burung-
burung tadi.
    Namun, burung-burung segera bersembunyi di antara rindangnya
dedaunan. Keberadaannya hanya terdeteksi dari suara cericit dari
atas pohon dan jatuhnya ranting kecil.
    Anak itu terus melongok ke atas pohon. Sesekali ia mengambil
ranting kecil lalu dipatahkannya hingga lebih kecil, seukuran kuku
jarinya. Hup, dilemparkannya ke atas dahan-dahan yang lintang-
melintang di atas kepalanya, dengan maksud mengganggu burung-burung
tadi.
    Beberapa ekor burung ada yang pindah ke pohon rimbun lainnya.
Namun, ada juga burung yang sempat turun untuk mematuk biji yang
sempat jatuh ke tanah. Bulunya berwarna kuning kecoklatan.
    Setelah mencoba mengejar burung tersebut, anak yang penasaran
dengan burung itu lalu berlari ke sebuah papan informasi tentang
burung. Matanya membaca satu demi satu keterangan tentang burung-
burung yang ada di taman itu.
    Si bocah segera menghampiri ibunya lalu menarik kaus ibunya untuk
membacakan informasi di papan tersebut. Telunjuknya menunjuk pada
gambar burung di urutan kedua yang berada di sebelah kiri. 
    Sesekali, sang anak meminta bantuan ayahnya. Dengan sabar, lelaki
itu bangkit dan meninggalkan korannya untuk menerangkan sesuatu
kepada anaknya.
    Tak berapa lama, acara belajar pun usai. Si anak segera turun
dari kursi besi dan mengambil sepeda merah muda yang tergolek di
dekatnya. Ia pun mengayuh dengan gembira sepeda tersebut mengelilingi
kolam kecil di tengah taman.
    Di pinggir kolam, ada tiga anak kecil lainnya, dua lelaki, dan
satu perempuan. Anak-anak itu sedang belajar memancing. Mereka
membuat sendiri alat untuk menjaring ikan. Sebuah kantong plastik
bening diisi cacing yang mereka ambil dari dalam tanah di ujung
taman. Kantong itu diikat pada sebuah ranting, lalu dicelupkan masuk
ke dalam kolam. Karena airnya terlalu hijau, tidak tampak apakah
kolam tersebut ada ikannya atau tidak.
    Di dekat ketiga anak tersebut, beberapa mahasiswa tampak serius
berdiskusi. Mereka duduk beralas koran dengan posisi melingkar.
    Kelompok-kelompok diskusi lainnya menyebar di berbagai sudut,
dan tampak tidak terganggu oleh tawa riang anak-anak kecil dari
kawasan Kebon Bibit, Kota Bandung, yang biasa menghabiskan waktu
bermain seluncur di tanah miring di taman tersebut.

Tetap tenang
    Di tempat lainnya, secara tersebar, beberapa orang asyik
menyendiri sambil membaca buku. Keriuhan di sekelilingnya tetap mampu
membawa kesenyapan memasuki dunia khayal mengikuti alur cerita yang
ditawarkan novel yang dibaca.
    Adi, seorang penggguna taman, mengaku tak sempat mendengar
celotehan anak-anak di sekelilingnya sebab terlalu berkonsentrasi
mengikuti cerita dalam novel yang dibacanya. Ia sudah tiga hari
selalu turun dari kampusnya ke taman untuk membaca buku.
    “Asyik saja membaca di taman. Soalnya rasanya tenang saja
meskipun banyak orang,” ujar Adi yang mengatakan taman Ganesha di
depan kampusnya selalu menemaninya menghabiskan buku-buku bacaannya.
    Itu sebabnya ia merasa punya ikatan yang cukup kuat dengan taman
tersebut. Hal yang sama juga dirasakan  Wati Chairiawati (41), dosen
Universitas Islam Bandung, yang tengah menanti anaknya pulang
sekolah.
    “Kalau bisa, sih, Kota Bandung memperbanyak lagi taman kotanya.
Jangan selalu tempat yang sudah hijau ditebang pohonnya lalu
dijadikan mal,” kata Wati. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: