DIDIK ANAK JADI PRIBADI TANGGUH

Sumber : Kompas, 12 Mei 2008

Pendidikan
DIDIK ANAK JADI PRIBADI TANGGUH

Bandung, Kompa
    Kondisi lingkungan yang semakin rusak dan kehidupan yang penuh
persaingan menjadi tantangan berat yang harus dihadapi anak-anak saat
ini. Untuk membantunya mengatasi berbagai masalah, orangtua perlu
mendidik anak menjadi pribadi tangguh, mandiri, dan tidak mudah putus asa.
    Demikian dikatakan Mayke S Tedjasaputra, staf pengajar psikologi
Universitas Indonesia, Minggu (11/5) di Kota Bandung. Menurut dia,
ketangguhan perlu dimiliki sejak masa kanak-kanak agar mampu
menghadapi setiap masalah. Bekal itu membuat anak menjadi pribadi
sukses di masa dewasa. “Sukses yang dimaksud bukan menjadikan anak
kaya raya, tetapi mampu menghindar dari depresi, bahagia, tidak
merepotkan orang lain, dan mampu membantu orang lain dengan baik,”
kata Mayke.
    Menurut dia, ciri anak tidak tangguh bervariasi. Misalnya, jika
tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, anak itu langsung stres
atau membanting mainan dan benda apa pun di sekitarnya. Saat
dilecehkan teman di lingkungan sosialnya atau di sekolah, anak yang
tidak tangguh akan mundur atau tidak mau sekolah.
    Anak melakukan hal itu karena tak memiliki keterampilan menghadapi
masalah. Tanggung jawab orangtua adalah membantu anak mencari solusi.
Untuk mendapatkan solusi yang baik, orangtua harus bisa berkomunikasi
dan mengerti perasaan anak sehingga dapat mengajaknya bernegosiasi.

Peka hadapi anak
    Untuk itu, Mayke menyarankan orangtua untuk peka dan tanggap
terhadap kebutuhan anak. Sering ada kejadian saat anak membutuhkan,
orangtua tidak ada atau tak dapat diganggu. Misalnya, saat anak lapar,
orangtua asyik menelepon. Anak biasanya akan terus mencari perhatian.
    Orangtua juga harus mengobservasi perilaku anak dan mengaitkan
dengan kondisi emosinya, seperti kapan marah, ceria, senang, dan
mengantuk. Pengetahuan itu diperlukan agar orangtua mengetahui
kebutuhan anak.
    “Saat melihat anak mendorong kursi untuk meraih mainan di atas
lemari, sebaiknya jangan dilarang. Cukup perhatikan dan beri arahan
bagaimana mendorong kursi yang aman, menaikinya, meraih benda, turun
dari kursi, dan mengembalikan kursi pada tempatnya. Larangan hanya
akan membuat anak tidak percaya diri,” ujar Mayke.
    Iin (34), ibu dua anak berusia 4 dan 1,5 tahun, mengatakan,
mendidik anak agar tangguh bukan hal mudah. Namun, ia bersyukur selama
ini mampu membuat anak mengikuti aturan dengan cara membangun
komunikasi yang baik.
    Sebelum berangkat berbelanja, misalnya, Iin akan bertanya benda
apa yang ingin dibeli dan membuat negosiasi agar anaknya tidak membeli
barang yang lain. “Ternyata hingga saat ini selalu berhasil. Anak saya
patuh pada perjanjian kami dan tidak meminta dibelikan barang lain,”
katanya.
    Sementara itu, Iyos (30) yang baru memiliki satu anak berusia 2,5
tahun, mengaku, anaknya selalu tinggal di rumah bersamanya. “Ketika
berada di sekitar teman sebayanya, ia tak berani bergaul, tetapi
justru makin menempel pada saya,” kata Iyos.
    Ia mencoba membawa anaknya bergaul dengan keponakannya yang pandai
bergaul. “Setelah beberapa bulan main dengan sepupunya, anak saya
mengalami kemajuan. Ia jadi berani berhadapan dengan teman
sebayanya,” ujar Iyos. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: