DODONG KODIR, MENCIPTAKAN MUSIK DARI SAMPAH

sumber: Kompas, 9 JUni 2007

DODONG KODIR, MENCIPTAKAN MUSIK DARI SAMPAH
Oleh Yenti Aprianti

    Dodong Kodir (56) tak bisa melenggang dengan menenteng tas
plastik ke kampus sebab orang-orang pasti penasaran dan menghampiri
dia. Maklumlah, Dodong biasanya punya sesuatu yang menarik dalam tas
yang dijinjingnya, meskipun itu cuma seonggok sampah.   
    Saat mengunjungi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta akhir
April lalu, setelah ia mengisi acara pada Hari Tari Dunia di ISI
Surakarta, Dodong mondar-mandir membawa kantong plastik di sekitar
reruntuhan bangunan akibat gempa Yogyakarta setahun lalu. Orang pun
tertarik melihat isi kantong itu, padahal sampah yang dia kumpulkan
sudah ditaruh dalam mobil.
    Sampah itu disimpannya baik-baik dalam kendaraan yang membawanya
melakukan perjalanan Bandung-Solo-Yogyakarta-Bandung. Sampah itu
berupa bambu berdiameter 10 sentimeter dan panjang sekitar satu
meter. Benda itu bekas properti panggung pada Hari Tari Dunia di ISI
Surakarta. Di tangan Dodong, benda itu menjadi seruling besar yang
suaranya agak ngebass.
    Pemusik pada Studio Tari, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)
Bandung ini dikenal sebagai orang yang suka mengulik sampah menjadi
alat musik dan penghasil bunyi. Karena keahlian itu ia sering diminta
oleh seniman teater, tari, atau musik, menciptakan atau meniru bunyi-
bunyi yang tepat untuk menyempurnakan ilustrasi musik mereka.

Plastik hingga cangkir
    Banyak cara yang dilakukan Dodong untuk mendapatkan bunyi yang
diinginkan, termasuk nongkrong di tempat penampungan sampah di
kampungnya, Gang VII, Cisitu Lama, Kota Bandung. Ada cerita, tahun
1998 seniman Harry Rusli dan Harry Dim tengah menggarap pergelaran
musik dan teater bertajuk “Petaka Sampah”. Mereka membutuhkan suara
lalat.
    Harry Dim menelepon Dodong dan minta dibuatkan alat yang
menghasilkan bunyi ribuan lalat terbang. Pesanan itu harus cepat
dilaksanakan karena pergelaran diselenggarakan sekitar dua pekan lagi.
    Maka, sejak pagi Dodong duduk di penampungan sampah. Dia
mendengarkan suara lalat-lalat terbang. Keakrabannya dengan bunyi
menyebabkan intuisinya terasah. Intuisi pula yang mendorongnya
memilih secuil plastik tipis. Benda itu ia bayangkan seperti sayap
lalat. Plastik tipis seukuran penghapus pensil itu diambil dari
tempat sampah, lalu ditempelkan ke mulut, dan ditiup pelan-pelan.
    “Asyik, suaranya persis lalat terbang. Saya nongkrong di tempat
sampah sampai sore dan jadi lalat seharian,” ungkapnya saat ditemui
di ruang tamu rumahnya yang sempit. Ruang tamu itu terasa sempit
karena difungsikan pula sebagai gudang penemuannya.
    Ruang berukuran enam meter persegi itu, sekitar dua meter persegi
di antaranya diisi setumpuk alat musik berbentuk aneh-aneh. Ada pegas
yang dikaitkan pada cangkir kaleng dan disangga gagang kayu. Benda
itu penghasil suara petir. Ada pula alat yang mirip dengan pegas yang
lebih kecil, sebagai penghasil suara embusan angin.
    Selain suara angin dan petir, Dodong juga menyimpan suara laut
saat tsunami, deburan ombak di pantai, longsor, suara jet, kicauan
burung, serta puluhan bunyi lain. Bahannya pun macam-macam, dari
peluru sepeda, tempat minum ayam, sampai ganjalan tiang bangunan.
Barang-barang itu ia dapatkan dari onggokan sampah, dapur keluarga,
diberi teman, atau membeli di pasar loak. Meski banyak alat yang
harus dibeli, dia menghabiskan tak lebih dari Rp 200.000.
    Alat-alat itu ia pinjamkan kepada mahasiswa seni dan teman-teman
seniman. Dodong tak takut barangnya hilang. Ketika sudah menciptakan
sebuah alat penghasil bunyi tertentu, ia bisa membuatnya lagi. “Hal
tersulit adalah menemukan alat untuk menghasilkan bunyi yang tepat,”
ujarnya.
    Berkat penemuannya, lelaki tamatan sekolah teknik (ST, setingkat
sekolah menengah pertama) Jurusan Listrik ini bisa pentas dengan
musisi-musisi dari berbagai belahan dunia, seperti Yunani, Jepang,
Denmark, dan Perancis. Dia bermain antara lain dengan pemain alat
petik oud dari Bahrain, Mohammed Haddad; pemain kontrabass Ukraina,
Kamil Tchalawep; pemain pipa China, Yuan Chun; dan penyanyi tenor
Perancis, Sebastien Obrecht.

Aktual
    Tak sekadar mengeluarkan bunyi, alat musik dan penghasil bunyi
buatannya dibentuk seartistik mungkin. Ia kadang mengambil jepit
rambut bekas anaknya, kancing baju, atau pernak-pernik lain yang tak
terpakai.
    Dalam menciptakan bunyi, ia selalu mengikuti hal-hal aktual.
Misalnya, saat tsunami terjadi, Dodong terinspirasi membuat suara
tsunami dan ombak di bibir pantai. Saat virus flu burung mulai
menyerang, ia menciptakan bunyi kendang dari wadah minum ayam. Ia
juga menciptakan bunyi longsor ketika banjir melanda negeri ini.
    Apa yang dilakukannya merupakan usaha menyaingi teknologi musik
digital. “Teknologi sudah mampu menghasilkan banyak bunyi dan musik,
tetapi masih banyak juga bunyi yang tak dapat dihasilkan oleh
teknologi tersebut. Saya berusaha berkompetisi sekaligus melengkapi
teknologi canggih,” kata ayah tiga putri ini-mereka terjun di dunia
tari dan musik.
    Dodong belajar musik secara otodidak. Sejak kecil ia sering
menonton pertunjukan tari. Ia senang mendengarkan musik pengiring
tari. Itu sebabnya ketika dia bersekolah di ST, ia merasa salah
jurusan dan memutuskan berhenti pada tahun 1966. Dia lalu belajar
secara nonformal pada Perguruan Tari Sekar Pakuan pimpinan tokoh tari
Sunda, Yuyun Kusumadinata. Untuk mencapai perguruan tari itu, setiap
hari Dodong berjalan kaki sekitar 10 kilometer dari rumahnya.
    Yuyun memberinya kesempatan belajar musik pengiring tari. Yuyun,
yang juga dosen pada Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, lalu
mengajaknya bekerja di almamater itu sekitar tahun 1976.
    Di kampus yang kini bernama STSI itulah, Dodong mengembangkan dan
mengeksplorasi bunyi. Ia menciptakan musik yang tak ada pada
gamelan. “Saya tak puas dengan yang biasa,” katanya.

Biodata

* Nama: Dodong Kodir
* Tanggal lahir: 8 November 1951
* Pendidikan:
  – SD Merdeka V, Kota Bandung
  – ST VI Padjadjaran, Kota Bandung
  – Kursus Pendidikan Administrasi
* Pekerjaan: Pegawai Negeri di STSI Bandung
* Istri: Tutin Suwartini (54)
* Anak:
  1. Dewi Ratnaningpuri (30, guru TK dan penari)
  2. Mira Tejamirah (27, sarjana tari)
  3. Diah Kusumaningrum (26, pelatih drumband)
* Alamat: Cisitu Lama, Gang 7 No 15, Dago, Kota Bandung.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Satu Tanggapan to “DODONG KODIR, MENCIPTAKAN MUSIK DARI SAMPAH”

  1. alamatnya masih di situ? atau di cimahi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: