DONGENG PADA SEBUAH BANTAL

sumber: Kompas, 20 agustus 2006

DONGENG PADA SEBUAH BANTAL
 Oleh Yenti Aprianti

    Ketika kecil, Darcy, bebek yang periang dan rajin belajar diajari
berhitung ibunya. Ketika usianya bertambah, ia mampu belajar dan
berangkat ke sekolah sendiri. Akhirnya Darcy diwisuda dan pakai toga.
Horee!
    Teman Darcy lainnya, si bebek jahil, tengah menertawakan ikan
yang hidup terpenjara dalam akuarium. Ikan kesal melihat si jahil, ia
pun menghantui si bebek jahil dengan memasang wajah mengerikan dan
tubuh dikembungkan.”
    Semua dongeng itu diungkapkan dalam ilustrasi gambar yang dibuat
Karla Sengkey (27). Berbagai cerita bergambarnya tidak dituangkan
dalam buku, melainkan di atas sarung bantal, taplak meja, selimut
bayi, tas, wadah tisu, boneka, dan barang kerajinan lain.
    Sejak kecil Karla suka melukis dan memelihara binatang. Binatang
banyak memberinya inspirasi untuk membuat berbagai ilustrasi. Setelah
lulus SMP Aloysius, Bandung, ia meneruskan belajar pada jurusan seni
rupa Seymour College, Australia. Lalu, ketika kuliah di University of
South Australia, ia mengambil jurusan ilustrasi.
    Sepulang dari Australia akhir 2003, Karla yang awalnya berniat
membuat buku cerita disarankan ibunya, Henrita Sengkey (57), ikut
mengelola usaha kerajinan yang sudah dibangun tahun 1990. Sejak muda,
Henrita yang lulusan Sekolah Asisten Apoteker Bandung ini senang
merajut dan membuat renda.

Berawal dari kue
    Namun, Henrita justru mengawali berwirausaha kue kering. Semula
ia menghadiahi seorang teman kue kelapa kering buatannya. Sejak itu
ia mendapat banyak pesanan. Henrita pun membuka toko kue bermerek
Menu di rumahnya di kawasan Gempol, Bandung, tahun 1982.
    Rumah itu tak berada di jalan utama, namun pelanggan terus
berdatangan. Istri pengajar Institut Teknologi Bandung ini biasa
memodifikasi resep kue-kue kering, yang dijualnya dengan harga Rp
16.000-Rp 40.000 per 175 gram.
    Tahun 1990 Henrita mulai mengembangkan usaha dengan membuat
parsel kue yang dihiasi produk kerajinan buatannya, seperti kain
penutup kulkas dan taplak. Produk kerajinannya itu biasanya diberi
aplikasi sulam tangan berbagai bentuk, seperti bunga dan rumah.
    Sebagian pelanggan menyukai parselnya. Lama-lama mereka banyak
memesan barang kerajinan yang berharga dari Rp 10.000 hingga ratusan
ribu. Tak sedikit juga yang membeli satu set kerajinan seperti
taplak, serbet, tempat tisu, tutup galon air mineral, dan tutup
kulkas. Harga satu set berkisar ratusan ribu hingga Rp 1,5 juta,
tergantung jenis kain yang digunakan.
    Tahun 2001 pelanggan toko makin banyak. Bahkan saat Lebaran
pelanggan harus mengantre, dan Henrita mesti menutup tokonya beberapa
jam untuk membuat lagi kue-kue baru. Tak mau mengganggu tetangga, ia
lalu menyewa rumah di Jalan Trunojoyo, Bandung.

Berbagai karakter
    Saat Karla, anak bungsunya selesai kuliah, Henrita memintanya
untuk membantu. Sejak itu Karla banyak memberi ide baru untuk
memperkaya ilustrasi yang diaplikasikan pada produk kerajinan yang
dibuat ibunya. Perempuan penggemar komik ini pun mulai mendesain
gambar binatang dengan berbagai ekspresi.
    Tak hanya anjingnya yang dijadikan ilustrasi untuk kerajinan, ia
juga membuat karakter unta, ikan, anak ayam, anjing laut, kelinci,
dan gajah. Khusus unta, ia hanya membuat karakter tersebut pada bulan
Puasa dan Lebaran.
    Tak hanya sulam tangan, Karla juga menerima pesanan melukis
ilustrasi binatang pada kain. “Tetapi saya hanya terima pesanan
sebelum puasa, karena saat itu usaha kerajinan dan kue sangat
sibuk,” ujar Karla yang baru menerima pesanan kembali setelah
Lebaran.
    Karakter yang banyak dibuat dan dipesan pembeli adalah bebek. Ia
punya empat karakter bebek, yaitu Darcy yang periang, Curzy si malas,
Marcy yang slebor, dan Quichy si pendiam.
    “Tadinya saya kira hanya anak-anak yang suka bebek, ternyata
banyak juga ibu yang suka,” ucap Karla. Ia pernah menerima pemesan
yang meminta selimut dengan aplikasi berbagai ekspresi bebek. Ia
membuat sebuah ilustrasi dengan jumlah terbatas. Namun, banyak
pembeli datang dan meminta seri cerita lain dari ilustrasi yang
dibuatnya. Permintaan ini membuatnya lebih bersemangat.
    Karla hanya menjual produk di toko ibunya, karena ia senang
mengungkapkan cerita bergambar yang ia buat pada berbagai barang
kerajinan. “Kalau di toko orang lain saya tidak mungkin bisa
bercerita,” kata Karla.
    Ia mengisahkan cerita bergambarnya pada karyawan agar mereka bisa
menceritakan kembali pada pembeli jika ia sedang tak berada di toko.
Ia juga menyediakan buklet ilustrasi dan menempel informasi tentang
berbagai karakter binatang yang dibuatnya.
    Selasa (25/7) siang, tiga orang muda masuk ke toko. Mereka
langsung menuju dinding di sebelah pintu masuk dan serius membaca
berbagai karakter bebek yang dibuat Karla.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: