DOYO, KEBANGGAAN SEORANG PETANI

sumber : Kompas, 20 mei 2006

DOYO, KEBANGGAAN SEORANG PETANI
Oleh Yenti Aprianti

    “Pak, ganti dong identitas pekerjaannya. Masak enggak malu
disebut petani? Ganti jadi wiraswasta, begitu,” ungkap Doyo Mulyo
Iskandar (38), menirukan pernyataan salah seorang anaknya.
    Doyo pernah mengalami krisis kepercayaan karena pekerjaannya
sebagai petani. Apabila di kampungnya, Kampung Cibeunying, Desa
Cibodas, Kabupaten Bandung, ada perayaan seperti hajatan perkawinan,
Doyo segera membawa anak-anaknya ke kebun agar mereka tidak minta
dibelikan jajanan yang dijual pedagang di sekitar tempat perayaan.
Sebagai petani miskin, ia tidak pernah memegang uang sepeser pun.
    Jika dia atau anggota keluarganya sakit, Doyo tidak bisa berobat
ke dokter karena tidak ada biaya, meskipun sejak subuh hingga malam
ia bekerja keras mengurus kebun.
    Menjadi petani dirasakannya sebagai pekerjaan yang selalu rugi.
Setiap musim tanam tiba, jangankan membangun rumah, justru luas
tanahnya yang semula 7.000 meter persegi terus berkurang karena
terpaksa dijual untuk modal baru. Ia sering tidak memanen sayuran
yang ditanamnya dan membiarkannya busuk karena harga jual saat panen
selalu jatuh drastis.
    Meski demikian, Doyo tetap yakin pertanian adalah pilihan
hidupnya. Sarjana dari Institut Teknologi Tekstil Bandung ini sejak
kecil dididik ibunya, Eceh (80), yang bekerja sebagai petani.
    Eceh membesarkan enam anaknya sendiri karena suaminya, Mahmud
Iskandar, meninggal sejak Doyo berusia sekitar enam tahun. Meski
demikian, ibunya mampu membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya
hingga ke perguruan tinggi. Itu sebabnya Doyo menyebut ibunya petani
tangguh.

Belajar dari tetangga
    Berkaca pada kehidupan ibunya, Doyo pun menguatkan diri berusaha
di bidang pertanian walau keluarganya tidak mendukung. “Mereka sering
bilang, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau tetap jadi petani,” ucap
Doyo.
    Jalan bagi kesuksesan Doyo mulai terbuka saat Isak, pemuda di
desanya, disekolahkan ke Jepang untuk mempelajari teknologi budidaya
pertanian hortikultura. Sepulang dari pendidikan itu kemudian banyak
ilmu tentang pertanian yang dia tularkan kepada petani setempat.
    Doyo pun memberanikan diri belajar pada tahun 1996. Dia bekerja
di lahan pertanian milik Isak yang sukses membudidayakan berbagai
jenis komoditas sayur. Sepulang bekerja di pertanian sayur milik
teman sekampungnya itu Doyo baru mengurus kebunnya sendiri.
    Di perusahaan pertanian Isak, Doyo belajar mengenal komoditas
hortikultura baru yang diminati pasar. Ia belajar mulai dari
menyangkut penanaman, pengepakan, pengiriman barang, bahkan hingga
mencari pasar untuk produknya. Di perusahaan pertanian tersebut Doyo
dipercaya menjadi manajer produksi.
    Setelah dianggap mampu mandiri, atasannya memberi kesempatan
kepada Doyo untuk mengembangkan usahanya serta membagi ilmu kepada
petani lain di desanya. Kepercayaan diri Doyo makin tumbuh ketika ia
mendapat pelatihan tentang standar mutu produk yang dilakukan
Pemerintah Australia di desanya.

Menyuluh petani
    Doyo dan petani lain bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Sejak mengubah pola pertaniannya pada tahun 1996, Doyo berhasil
memasarkan produk pertaniannya ke belasan toko swalayan di Jakarta
secara berkelanjutan.
    Doyo kini memiliki 17 pegawai di kebun sayurnya. Mereka bekerja
dengan upah rata-rata Rp 20.000 per hari. Selepas bekerja di kebunnya
mereka diperbolehkan mengurus lahan mereka sendiri. Ada juga pegawai
yang ia pinjami lahan agar bisa segera mandiri.
    Sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh Doyo bahwa petani bisa
memiliki cukup waktu senggang untuk istirahat, bercengkerama dengan
keluarga, serta membagi ilmunya kepada petani lain.
    Hampir setiap pekan Doyo pergi berkeliling dari desa ke desa,
membagi ilmu serta pengetahuan soal pertanian dan pemasaran produk
pertanian dengan mengunjungi langsung petani di desanya. Ia bertindak
tak ubahnya seperti penyuluh pertanian.
    Ia bahkan pergi ke beberapa provinsi di seluruh Indonesia. “Yang
belum pernah saya datangi hanya Irian,” tutur Doyo. Bagi Doyo, dari
kegiatan membagi pengalaman bertani, ternyata ia banyak mendapat
teman yang kemudian menjadi mitra bisnis.

Beli kasur
    Setiap tahun Doyo juga menerima sekitar 200 tamu yang ingin
belajar bertani.
    Ayah dari Titin Sumartini (17), Siti Nurisiani (12), Muhammad
Hilmi (2,5), dan kakek seorang cucu ini sekarang tidak hanya bisa
memberi mereka uang jajan, tetapi juga berhasil membeli lahan
melebihi yang ia miliki dulu. Selain itu, ia telah membangun rumah
untuk keluarga, juga membangun rumah untuk petani, pelajar,
mahasiswa, atau siapa pun sebagai tempat mereka menginap saat belajar
pertanian di desanya.
    “Sekarang, kalau punya uang sedikit, saya sisihkan beli kasur
untuk tamu. Kalau mereka menginap dan ternyata membayar, saya
bersyukur. Tetapi, tidak bayar pun tidak apa-apa,” ujar Doyo. Ia
selalu melibatkan istrinya, Neneng Jumartin, yang bertugas mengurus
keperluan tamu di rumahnya.
    Ia tidak pernah lupa menyimpan beberapa bagian dari rezeki
tambahannya untuk menyubsidi pelajar atau mahasiswa yang menetap
cukup lama di desanya guna belajar atau meneliti pertanian, tetapi
tidak punya cukup uang.
    Sekarang Doyo bangga memperkenalkan dirinya sebagai petani. Ia
juga bangga menantunya, Aa Ridwan (21), memilih menjadi petani.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: