DRAMA BAHASA SUNDA DIMINATI

 sumber: 12 Feb 2008

DRAMA BAHASA SUNDA DIMINATI
 Sejumlah Peserta Festival Datang dari Luar Jawa Barat

Bandung, Kompas
    Setiap periode, jumlah peserta Festival Drama Bahasa Sunda terus
meningkat. Untuk tahun 2008, jumlah peserta sebanyak 71 kelompok
teater atau bertambah 18 kelompok dibandingkan dengan tahun 2007.
Bahkan, peserta tidak hanya dari Jawa Barat, tetapi juga dari Daerah
Istimewa Yogyakarta.
    “Kami sangat senang dengan antusiasme peserta yang begitu banyak.
Apalagi, 90 persen peserta dan penonton festival adalah anak muda. Ini
sesuai misi kami untuk melestarikan bahasa Sunda di kalangan anak
muda,” kata R Dadi P Danusubrata, Ketua Teater Sunda Kiwari sebagai
penyelenggara acara di Bandung, Senin.
    Usia peserta sangat beragam, mulai dari usia sekolah dasar hingga
orang tua. Sebagian besar adalah anak muda. Mereka berasal dari Garut,
Tasikmalaya, Sumedang, Cirebon, Subang, Karawang, Cimahi, Kuningan,
Sukabumi, Bandung, dan juga dari luar Jabar, yaitu DI Yogyakarta.
    Pada hari pertama, Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) X di Gedung
Kesenian Rumentang Siang, Kota Bandung, Senin siang, ditonton sekitar
500 orang. Bahkan, penonton harus mengantre di depan loket. Padahal,
harga satu tiket Rp 10.000 untuk satu pertunjukan. Antrean yang padat
juga tampak di pintu masuk gedung pertunjukan.

Pilih naskah
    Khusus peserta festival diwajibkan memilih naskah drama berbahasa
Sunda dari enam naskah yang diberikan, yaitu Jeblog karya Nunu
Azharuddin, Badog karya Dipa Galuh Purba, Randu Jalaprang karya Tatang
Sumarsono, Akalna Si Apin disadur bebas oleh Rosyid E Abby dari karya
Akal Bulus Scapin karya Moliere, Karikatur Nu Gelo karya Arthur S
Nalan, dan Rorongo karya Arma Djunaedi.
    Menurut Ketua Panitia Pelaksana FDBS X Encep Dwi AM, naskah Jeblog
dimainkan 9 grup, Badog 14 grup, Randu Jalaprang 3 grup, Akalna Si
Apin 4 grup, Karikatur Nu Gelo 11 grup, dan Rorongo 24 grup.
    “Ini bagian dari upaya melestarikan bahasa Sunda di kalangan anak
muda. Karena itu, festival dikemas dalam bentuk drama guna merangsang
emosi masyarakat terhadap kesenian Sunda,” kata Encep.

Kendala dana
    FDBS X dilaksanakan dari Senin (11/2) hingga Minggu (2/3). Setiap
hari digelar rata-rata tiga pertunjukan. Peserta mendaftar mulai 1
Oktober 2007 hingga 1 Februari 2008. Setiap peserta dikenai biaya
pendaftaran Rp 200.000.
    Dari 71 grup terkumpul Rp 14,2 juta. Dari dana itu festival
dijalankan. Padahal idealnya, menurut Dadi, FDBS dengan masa
pertunjukan 21 hari membutuhkan dana minimal Rp 100 juta. “Kami sudah
menyebarkan banyak proposal, tetapi tak satu pun yang membalas.
Bahkan, pemerintah daerah pun belum memberikan bantuannya,” kata Dadi. 
    Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jabar Ijudin Budhyana
mengatakan FDBS ikut membantu melestarikan bahasa Sunda. Bahasa
sebagai alat rekam sebuah komunitas harus dilestarikan dan dikembangkan.
    Menurut tokoh masyarakat, Uu Rukmana, teater Sunda makin langka
karena apresiasi masyarakat kurang. Apresiasi berkurang karena makin
banyak alternatif tontonan dan teater Sunda kalah bersaing.
    “Pada tahun 1950-an Bandung punya dua gedung pertunjukan drama
Sunda, yaitu Gedung Sri Murni di Kosambi dan Purwaseta di Tegallega,”
kata Uu. Mereka menyelenggarakn pertunjukan setiap hari pada pukul
08.00-24.00. Pertunjukan drama itu berakhir sekitar tahun 1970-an. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

4 Tanggapan to “DRAMA BAHASA SUNDA DIMINATI”

  1. kalo bisa sih tambahin contoh” dramanya cz ank” skolah klo mau bikin tugas naskah kan tingal copy hehehhe

  2. minta naskah deramanya donk….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: