DULU DAN KINI SAMA-SAMA “NGAMEN”

sumber : Kompas, 6 nov 2007

Seni Pertunjukan
DULU DAN KINI SAMA-SAMA “NGAMEN”

    Seorang paranormal memerintahkan penduduk agar menghanyutkan anak
berusia di bawah satu tahun untuk menghindari musibah. Tiba-tiba
seorang lelaki bertanya, “Bagaimana orangtua bisa tahu anaknya
berusia kurang dari satu tahun?”
    Penonton pun tertawa mendengar pertanyaan lugu itu. Humor
merupakan ciri khas longser, selain solusi di akhir cerita. 
    Pada akhir cerita Katurug Katutuh, yang artinya kurang lebih,
sudah jatuh tertimpa tangga pula, penduduk yang semula memercayai
kemampuan paranormal akhirnya sadar, paranormal bukan pemecah masalah
mereka.  
    Menurut Hermana, salah satu seniman longser, sejak lama longser
menyajikan solusi di akhir cerita. Kesenian tersebut berbeda dengan
drama dari Yunani yang selalu berakhir dengan tragedi.
    Longser dikenal masyarakat Sunda sejak awal abad ke-19. Hingga
kini masih tumbuh kelompok longser, salah satunya Panca Warna yang
didirikan tahun 1930-an.
    Menurut pengamat kesenian rakyat, Arthur S Nalan, longser diambil
dari kata yang tidak diketahui arti harfiahnya. Beberapa orang menduga
kata longser dipakai karena terdengar mirip bunyinya dengan lengger
(ronggeng di  Banyumas) dan doger (ronggeng di Subang). Ada yang
mengartikan longser melalui metode bahasa kirata atau dikira-kira
nyata yang dikenal di kalangan orang Sunda.
    “Berdasarkan kirata tersebut, ada yang mengartikan longser sebagai
gabungan kata long atau dipelong (diperhatikan) dan ser (menimbulkan
ser-seran). Kenapa menimbulkan ser-seran, saya juga tidak tahu,” ujar
Arthur.
    Arthur mengatakan, ada banyak hal yang terjadi pada longser masa
lalu. Biasanya grup longser mengamen di lapangan atau di bawah rumpun
bambu pada malam hari.
    Sebagai alat penerang digunakan obor yang ditancap pada tiang
bercabang tiga. Tiang juga berfungsi sebagai tanda mengganti adegan.
Sebelum ganti adegan, pemain akan mengelilingi tiang. Pada longser
saat ini, tiang obor dihadirkan di panggung.
    Hermana menambahkan, dalam longser tradisional ada pakem, antara
lain tatalu (penabuhan musik), kidung (salam pembuka), doa untuk
meminta berkah, cikeruhan, pencak silat, bobodoran, cerita, dan tarian
wayang.
    Pada longser modern, beberapa unsur, misalnya tarian wayang dan
pencak silat, tidak ditampilkan karena durasi pertunjukan longser
sekarang  lebih pendek. Pada masa lalu longser dimainkan semalam suntuk.
    Hermana mengatakan, kalau dulu pemain longser mengamen dari
kampung ke kampung, pemain longser modern mengamen dengan  mengirimkan
proposal ke berbagai lembaga. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: