DUTA BUDAYA YANG MASIH TERUS DICARI

sumber: kompas, 7 Feb 2007

DUTA BUDAYA YANG MASIH TERUS DICARI
Bisa Dijadikan Barang Investasi

Bandung, Kompas
    Prangko tidak hanya berfungsi sebagai alat bayar pengiriman sebuah
surat, tetapi juga menjadi duta budaya, pendidikan, dan identitas
kedaulatan bangsa. Itu sebabnya, banyak orang menjadi kolektor prangko
atau filatelis.
    Menurut Ketua Unit Filateli PT Pos Indonesia Abdussyukur, Selasa
(6/2), prangko menjadi duta kebudayaan karena memperkenalkan budaya
suatu negara kepada masyarakatnya atau masyarakat lain di dunia.
    Melalui prangko, Indonesia memperkenalkan berbagai macam kesenian,
kebudayaan, dan bahkan jenis makanan tradisional tiap etnis. Untuk
makanan, setiap tahun PT Pos Indonesia menerbitkan empat jenis makanan
dari empat provinsi.
    Untuk melayani kolektor prangko di luar negeri, PT Pos Indonesia
memiliki agen-agen penjualan prangko Indonesia di berbagai negara,
antara lain Eropa, Jepang, Australia, Thailand, Amerika, dan China.
    “Karena menyukai prangko Indonesia, banyak kolektor prangko
Indonesia di luar negeri akhirnya belajar bahasa Indonesia,” ujar Abdus.
    Kolektor prangko dan benda pos lainnya biasanya mengumpulkan
prangko berdasarkan negara atau tema prangko. Mereka tidak sekadar
mengumpulkan benda tersebut, tetapi juga mempelajari berbagai aspek
sejarah terkait.   
    Banyak kepala negara mengo-leksi prangko karena prangko merupakan
barang ringan yang memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai tanda
kedaulatan negara. Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki lembaga
Persatuan Pos Sedunia (UPU) yang anggotanya terdiri dari negara-negara
merdeka. UPU pernah menyatakan bahwa prangko yang diterbitkan
separatis Azerbaijan ilegal karena mereka belum berdaulat. 
    Prangko juga dijadikan alat untuk mempererat hubungan antarbangsa.
Misalnya, Indonesia pernah melakukan berbagai kerja sama penerbitan
prangko dengan Slovakia. Tahun ini Indonesia akan menerbitkan prangko
bersama China, dan tahun 2008 bekerja sama dengan Ceko. Prangko kerja
sama ini bergambar sama, baik dari budaya Indonesia maupun negara
mitra, dan diterbitkan di hari yang sama pula. Namun, nama negara dan
nominalnya berbeda.

Investasi
    Avie Wijaya (47), pedagang sekaligus kolektor prangko, mengatakan,
ia memulai pekerjaannya sebagai pedagang prangko sejak 12 tahun lalu
karena tertarik pada nilai investasinya. Harga prangko dari China
biasanya naik sebagai barang investasi setelah beberapa  saat
diterbitkan.
    Di Indonesia, banyak masyarakat Tionghoa yang mengoleksinya.
Prangko dagangannya kini ada yang berharga Rp 75 juta per lembar,
yaitu prangko pada era 1950-an. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: