EMPAT SEKAWAN DARI KAMPUNG CIKUKANG

sumber : Kompas, 31 may 2007

Kesenian Tradisional
EMPAT SEKAWAN DARI KAMPUNG CIKUKANG

    Usia mereka sudah tak muda lagi. Tubuh mereka pun sudah bongkok.
Namun, kecintaan pada kesenian tak menyurutkan niat empat orang,
nyaris 80 tahunan, itu menempuh perjalanan Ciamis-Bandung.
    Gondang buhun mempersatukan mereka. Penduduk asli Kampung
Cikukang, Ciulu, Banjarsari, Kabupaten Ciamis, itu berangkat menuju
Bandung untuk mempertunjukkan kekayaan tradisi kampung halamannya
berupa kesenian gondang buhun di Taman Budaya Jawa Barat, Dago, Kota
Bandung. Gondang buhun terdiri dari nyanyian dan musik yang berasal
dari tumbukan alu pada lesung.
    Empat sekawan tersebut adalah Enah, Karlah, Anah, dan Niti.
Keempatnya mengenal kesenian gondang sejak kecil. “Sejak kecil saya
dan semua perempuan di desa diajar memainkan kesenian gondang oleh ibu
dan nenek,” ujar Enah.
    “Kalau perempuan tidak bisa menggondang dianggap aneh,” kata Karlah.
    Kemahiran memainkan gondang juga dipercaya masyarakat sebagai
pemikat lawan jenis. Biasanya saat perempuan tengah menabuh lesung,
para lelaki yang terpikat dengan suara lesung akan mengintip dari
jauh. “Dulu lelaki tak berani mendekati perempuan secara langsung,”
kata Karlah. 
    Ia dilatih memainkan gondang, termasuk menyanyikan lagu-lagu
bernada tinggi, hampir setiap hari dari pagi hingga sore.
    Keempat sekawan itu mengaku senang memainkan gondang karena seru.
“Kami bisa main bersama-sama, gembira,” kata Enah.
    Ketika ada pesta pernikahan atau khitanan, dipastikan para
perempuan di desanya diundang untuk memainkan gondang. “Dulu pengantin
perempuan juga harus bisa menggondang dan ikut menggondang bersama
kami,” kata Anah. 
    Anah mengatakan, di kampungnya tinggal empat pemain gondang yang
masih hidup. Mereka mengaku sejak dulu tidak pernah menerima honor
untuk main gondang. “Kami main sukarela karena suka,” tutur Anah.
    Mereka juga pasti diajak untuk menggondang saat di kampungnya
diselenggarakan upacara syukuran panen. Dalam upacara tersebut para
perempaun menabuh lesung saat para pria memasukkan padi ke lumbung.
Dalam upacara tersebut tercermin kerja sama antar pria dan perempuan
dalam pekerjaan. 
    Sayangnya, sejak tahun 1963, para perempuan Cikukang tak lagi
memainkan gondang. Mesin penggilingan mulai dikenal. Tradisi menumbuk
padi sendiri pun dilupakan. Kini, dengan sisa-sisa ingatan yang ada,
mereka berusaha mengembalikan lagi keindahan gondang buhun kepada
masyarakat. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: