ENTON, SANG GURU YANG DICARI MURID

sumber : kompas, 6 okt 2006

ENTON, SANG GURU YANG DICARI MURID
   
    Di muka rumahnya, setiap hari setidaknya tiga mobil berjejer.
Mobil tersebut milik muridnya. Mereka datang untuk mengetahui
kabarnya atau sekadar bersenda gurau. 
    Pada Lebaran, selama seminggu rumah Enton di Kompleks Pasir Jati
Blok E, Ujungberung, Kota Bandung, kebanjiran tamu. Ada yang datang
dari Bandung, Jakarta, Medan, bahkan dari luar negeri.
    Enton menyambut murid-muridnya dengan lapang. Kunjungan muridnya
wujud betapa berharganya guru seperti Enton.
    “Saya selalu berharap murid-murid saya menjadi orang yang lebih
baik dengan cara yang jujur dan benar. Baik ilmunya, baik rezekinya,
baik kesehatannya,” ujar Enton (74), yang masih mengajar sebagai guru
Seni Rupa di SMAN 16 Kota Bandung, Kamis (5/10).
    Pada Hari Guru Sedunia, yang diperingati di Bandung, Enton
mendapat penghargaan sebagai guru paling lama mengabdi.
    Anak pertama dari delapan bersaudara putra pegawai perkebunan
teh Malabar ini diamanatkan oleh orangtuanya menjadi guru.
    Enton yang dititipkan di rumah saudaranya di Kota Bandung
disarankan belajar di sekolah guru atas (SGA) Kota Bandung tahun
1956, sambil mengajar sebagai guru magang di sekolah rakyat Cicadas
Barat.
    Untuk meningkatkan kemampuan mengajar, ia mengajar di SMP swasta
Putra V di Jalan Karapitan tahun 1961-1964 sebagai guru Ilmu Alam.
Lalu, ia pindah ke SMA Putra sebagai guru negeri yang diperbantukan
di swasta tahun 1964-1970. Lulusan Pendidikan Seni Rupa Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung ini mengajar Seni Rupa di SMA. 
    Di tahun 1970-1979, Enton pindah ke SMAN 10 Kota Bandung.
Selanjutnya, ia ke SMAN 2 Kota Bogor, meninggalkan istrinya, Subiah,
yang telah meninggal pada tahun 2002, dan tiga anaknya.
    Baru tahun 1983 ia kembali ke SMAN 10 Kota Bandung. Lalu, pindah
ke SMAN 16 Kota Bandung hingga kini.
    Enton dinyatakan pensiun sejak 14 tahun lalu, dengan gaji Rp 1
juta. SMAN 16 sempat mencari guru penggantinya. Namun karena honor
yang diterima sedikit, guru pengganti itu mengundurkan diri. Kakek
lima cucu ini pun dipanggil kembali menjadi guru honorer. 
    “Dengan mengajar, saya bisa memberikan ilmu meski sedikit,” kata
Enton, yang membebaskan muridnya belajar yang disukai.
    “Tidak semua orang suka melukis. Yang tidak suka saya minta
menonton compact disc berisi berbagai jenis kesenian. Kalau tak
berminat, cukup mengapresiasi saja. Jangan paksa anak mempelajari
yang mereka tidak suka,” kata lelaki yang kini menerima honor Rp
624.000 per bulan. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: