FELIX, PAKAIAN SUNDANYA MENARIK MINAT TURIS

sumber: kompas, 5 april 2006

FELIX, PAKAIAN SUNDANYA MENARIK MINAT TURIS

    Sehari-hari ia menggunakan baju kampret atau santung berwarna
krem dipadu celana di bawah lutut, serta ikat kepala dari kain polos
berwarna biru tua. Kadang-kadang, ia menyampirkan sebuah tas dari
buah maja yang telah mengeras dan dibelah di bagian atasnya untuk
membuka dan menutup.
    Baju santung, adalah baju yang polanya seperti ponco. Biasanya
berlengan panjang dengan sambungan jahitan di atas siku. Santung
yang pada bagian muka dibelah, dan diberi kancing dinamakan baju
kampret.  
    Begitulah penampilan sehari-hari Felix Feitsma (55). Sudah 10
tahun ia memakai pakaian rakyat Sunda. Dalam masyarakat Sunda lama,
yang belum terpengaruh budaya Mataram, status sosial tidak dibedakan
dengan pakaian. Ketua adat dan rakyatnya sama-sama memakai baju
kampret dan celana pangsi.
    Suatu hari, Felix yang berprofesi sebagai pemandu wisata
mendengar wisatawan yang dipandunya mengatakan, orang Sunda tidak 
beda dengan orang Medan atau Malaysia, bajunya sama. Sementara itu,
di Yogyakarta masih ada yang baju adat. 
    Sejak itu, lelaki berdarah Belanda, yang dibesarkan di Bandung
dan amat mencintai budaya Sunda ini, memilih pakaian rakyat Sunda.
Menurut Felix, pakaian Sunda-sebagai identitas-mampu meningkatkan
minat para turis ke Jawa Barat.
    “Setiap wisatawan datang ke sebuah tempat karena ingin melihat
budayanya. Setelah melihat budaya masyarakat lain, mereka bisa
mengembangkan teknologi di negerinya. Orang Eropa memiliki
sphagetti setelah melihat mi di China,” ujar Felix.

Serat alam
    Menurut Felix, pakaian orang Sunda asli biasanya berwarna krem,
coklat, atau biru tua. Benangmya dibuat dari serat alam seperti
daun, akar, kulit kayu, atau kapuk. Kain yang terbuat dari kapuk
biasanya berwarna krem. Sementara kain unsur alam lainnya berwarna
coklat. Untuk menghasilkan warna biru, kain dicelup pada rendaman
buah tarum.
    Adapun pakaian asli perempuan Sunda adalah kemben dan kain. Pada
perkembangannya, akibat pengaruh budaya luar yang menyampirkan
selendang di leher, kombinasi kemben dan selendang tersebut berubah
menjadi kebaya.
    Sebagai kolektor berbagai kain berserat alam, Felix merasa perlu
mengetahui seluk-beluk pakaian yang dikenakan agar bisa memetik
kearifan lokal masyarakat Sunda. Juga memberi wawasan bagi wisatawan,
agar banyak yang datang ke Jabar berwisata edukasi. (ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: