FUNGSI ALUN-ALUN TELAH BERUBAH

sumber : kompas, 13 jan 2006

FUNGSI ALUN-ALUN TELAH BERUBAH
Memandang Bandung Dari Menara Masjid

Bandung, Kompas
    Setelah lebih dari tiga tahun dibangun dan ditata kembali,
Alun-alun Kota Bandung dibuka lagi untuk umum pada Kamis (11/1).
Alun-alun, yang merupakan produk budaya tradisional, telah berubah
desain dan fungsinya sesuai dengan perkembangan masyarakat.
    Alun-alun Kota Bandung dibangun pada tahun 1810, berbarengan 
dengan pembangunan Jalan Pos di bawah pimpinan aarschalk Herman Willem
Daendels, dan pindahnya ibu kota dari Dayeuhkolot ke tepi barat Kali
Cikapundung. Jalan Pos kini bernama Jalan Asia-Afrika.
    Alun-alun merupakan bagian dari tradisi Mataram, yaitu di pusat
pemerintahan didirikan tiga komponen penting, yakni istana, pasar, dan
rumah patih. Karena pengaruh Islam, di pusat pemerintahan dilengkapi
masjid. Alun-alun adalah bagian dari halaman istana atau  gedung
pemerintahan .
    Setelah kolonial Belanda masuk, di sekitar alun-alun dibangun
kantor pos, kandang kuda, yang dalam bahasa Sunda disebut banceuy, dan
penjara.
    Alun-alun berasal dari bahasa Jawa, alun, yang berarti ombak.
Biasanya di alun-alun diadakan berbagai hiburan untuk rakyat, yang
ketika bersorak, mereka bergerak seperti ombak.
    Menurut sejarawan, Prof Dr Nina Herlina Lubis, alun-alun juga
ditandai dengan  pohon beringin di tengah-tengahnya. Pohon tersebut
melambangkan kekuasaan dan pengayoman terhadap rakyat.
    Kini gambaran lama tentang alun-alun banyak berubah. Alun-alun
Kota Bandung tidak memiliki pohon beringin lagi di tengahnya. Namun,
masih ada enam pohon beringin yang berjajar di sepanjang jalan
alun-alun timur.
    Menurut Cite Manajer Pembangunan Alum-alun Kota Bandung Gilang
Nugraha, pembangunan alun-alun berlangsung tiga tahun. Kini alun-alun
terdiri dari tiga bagian, yaitu taman dan dua tingkat lahan parkir
bawah tanah. Lahan parkir ini bisa menampung 700  mobil  dan 500
sepeda motor.
    Di sayap kiri dan kanan lahan parkir tersedia tempat bagi 80
pedagang makanan. Di bagian atas taman ditanami pohon kurma, palem,
sawit, serta pohon berbunga, seperti kenanga, cempaka, dan melati.
Alun-alun  menjadi bagian dari halaman masjid.
    “Mudah-mudahan orang yang ingin berbuat tidak baik akan malu
melakukannya di depan masjid,” kata Gilang, awal pekan ini.
    Masyarakat bisa menikmati pemandangan Bandung dari menara masjid
setinggi 85 meter. Harga tiketnya Rp 2.000 untuk dewasa dan Rp 1.000
untuk anak-anak.
    Menurut buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto,
selain untuk pertemuan para perantau, Alun-alun Kota Bandung juga
diramaikan juru foto komersil, pencopet, dan pekerja seks komersial
(PSK). 
    Iyan Bahar (56), perantau dari Solok, Sumatera Barat, yang sudah
40 tahun tinggal di Bandung, mengatakan, tahun 1970-an hingga 1980-an
alun-alun merupakan pusat kota. “Kalau perantau atau turis belum ke
alun-alun, rasanya belum ke Bandung,” kata Iyan.
    Alun-alun menjadi tempat untuk mengobrol selepas berbelanja di
Pasar Baru yang berjarak sekitar 150 meter dari alun-alun.  (ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: