GARA-GARA ANAK TUNAGRAHITA

sumber : KOmpas, 26 agustus 2006

GARA-GARA ANAK TUNAGRAHITA

Oleh Yenti Aprianti

    “Pak Zainal, sabar ya. Sepertinya anak Bapak memiliki kelainan,”
kata seorang rekan kerjanya, yang kebetulan dokter di Kantor Wilayah
Departemen Kesehatan Jawa Barat, beberapa hari setelah istrinya
melahirkan anak keduanya, Rima Nur Yuliyanti, 17 Juli 1988.
   
    Zainal Arifin (48) yang saat itu bekerja sebagai staf perencanaan
di kantor tersebut amat sedih mendengar pernyataan rekannya. Ia
mengerti apa yang tersurat dari kata-kata itu; bayinya berkebutuhan
khusus.
    Dari fisiknya sudah jelas, bayinya adalah tunagrahita. Makin
besar tubuhnya, makin mudah mengidentifikasi ketunagrahitaan itu.
Secara umum, kata Zainal, fisik orang tunagrahita antara lain
berambut kaku, tangannya gemuk seperti bayi tetapi kasar, lidahnya
tebal serta pendek jika dijulurkan, alisnya tebal kaku, dan beberapa
anak biasanya bermata sipit seperti orang mongol.
    Kenyataan itu menyeret Zainal pada bayangan buruk tentang masa
depan anaknya yang amat gelap. Orang awam selalu mengira, jangankan
untuk belajar, bekerja, atau memiliki keturunan, merawat diri saja
penyandang tunagrahita tidak akan bisa.
    Pikiran-pikiran inilah yang menyebabkan Zainal mengalami depresi.
Ia mengunjungi psikiater dan menelan obat-obatan penenang karena
setiap malam selalu gelisah dan menangis memikirkan nasib anak
perempuannya yang selalu ia panggil Ima.
    Apa yang terjadi padanya ternyata tidak membantunya keluar dari
masalah. Apalagi gajinya sebagai pegawai negeri sipil saat itu hanya
Rp 45.000 per bulan. Padahal, kebutuhan rumah tangga mencapai Rp
100.000 sampai Rp 150.000 per bulan, sebab Rima membutuhkan berbagai
terapi untuk bisa tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan tubuh dan
jiwanya.
    Pengobatan rutin untuk anak tunagrahita terus dilakukannya
terhadap anaknya, meskipun sangat mahal karena membutuhkan dokter-
dokter spesialis, terutama dokter syaraf, psikiater, dan psikolog.

Kerja serabutan
    Tak ingin terjebak dalam masalah tanpa solusi, suami Aan Rostiati
(43) yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa di Kota Bandung ini segera
berjuang untuk membangun masa depan anaknya. Di dalam doanya, ia
berkata, “Jika aku berhasil, aku bertekad akan membantu Ima dan
teman-temannya.”
    Pekerjaan apa pun dilakukannya. Sepulang bekerja di Kanwil
Departemen Kesehatan sekitar pukul 14.00, Zainal langsung menawarkan
diri menjadi pembantu tukang bangunan untuk mendapatkan upah Rp 1.000
per hari. Upah itu amat berharga demi pengobatan Ima.
    Jika tidak ada pekerjaan bidang bangunan, ia menjadi sopir
angkutan umum jurusan Ciroyom-Sukajadi. Zainal-lah yang pertama
membuka jurusan ini. Ketika itu, dia melihat banyak warga membutuhkan
jurusan ini, tetapi tidak ada transportasi umum yang melintas di
tempat tersebut. Ia bekerja sebagai sopir sampai pukul 20.00.
    Karena uang pengobatan masih juga kurang, ayah dari Yopi
Nurdiyansyah (24), Ima (18), Debi Nur Sustiyanti (16), dan Noviyanti
Nur Fadiyah (5) ini pun beralih menjadi sopir colt jurusan Bandung-
Cikampek. Penghasilannya lebih banyak karena ia bekerja hingga pukul
24.00. Namun, jika ada tawaran menjadi pembantu tukang bangunan, ia
tetap menerimanya.
    Suatu hari pada tahun 1996, seorang dokter di kantornya meminta
Zainal membangun rumahnya. Zainal yang awalnya hanya pembantu tukang
bangunan segera menolak karena tidak percaya diri. Namun, dokter
tersebut ngotot. Zainal pun akhirnya yakin dan menjalankan proyek
tersebut. Diajaknya beberapa temannya sesama tukang bangunan.
    Entah kenapa, Zainal kemudian dikenal sebagai kontraktor. Ia
banyak mendapatkan order membangun rumah. Ia pun bekerja sama dengan
adiknya yang kuliah di Desain Interior, Institut Teknologi Bandung
untuk membantu mendesain konsep rumah yang ada di pikirannya.
    “Sejak saat itu, rezeki saya seperti roket,” kata Zainal,
bersyukur dan memutuskan berhenti jadi pegawai negeri.

Bangun sekolah
    Zainal ingat tekadnya. Ketika Ima bersekolah di sekolah luar
biasa (SLB), ia merasa tak cocok terhadap kurikulum yang diberikan
sekolah karena terkesan terlalu akademik. Padahal, kebutuhan anak
tunagrahita adalah keterampilan. Melalui keterampilan, kecerdasan
anak tunagrahita akan melaju dengan baik.
   
    Berangkat dari ketidakpuasannya, Zainal lalu membangun SLB Asih
Manunggal di Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung. Ia menerima murid
dari berbagai kalangan. Di sekolah yang sederhana itu ia leluasa
mengolaborasikan kurikulum pemerintah dengan kurikulum yang
diciptakan para orangtua siswa.
    Berbagai ide untuk memberdayakan anak-anak tunagrahita mengalir
dari para orangtua. Zainal juga membangun “kantin kurikulum” bagi
siswa.
    Pukul 08.00 anak-anak dibimbing oleh guru melakukan berbagai
keterampilan seperti membuat jajanan gorengan, lalu dijual kepada
orangtua di sekolah. “Dengan praktik langsung, anak mudah belajar
matematika. Mereka tahu, kalau membeli tujuh gorengan seharga Rp 50,
maka pembeli harus membayar Rp 350,” kata Zainal.
    Lewat kantin pula, anak-anak belajar bahasa Inggris. Banyak merek
makanan dan minuman berbahasa Inggris. Saat itulah guru
memperkenalkannya, dan mereka menyimpan pengetahuan baru itu dengan
baik karena tahu esok hari kemungkinan ada yang menanyakan nama
barang tersebut. Mereka juga mulai belajar mengenal huruf dan angka
dari bungkus makanan. Tak hanya itu, mereka juga mengenal harga diri
karena dilatih untuk bekerja.
    Selain membuat jajanan gorengan, anak-anak juga diajarkan
berbagai keterampilan lain seperti merias diri, membungkus barang,
membuat keset, telur asin, dan lainnya.
    Dengan uang pribadinya, Zainal dan para orangtua tunagrahita
sering jalan-jalan ke pelosok Jawa Barat mencari anak tunagrahita
yang tidak mampu. “Hampir sebagian besar anak tunagrahita lahir dari
keluarga tidak mampu sehingga tidak bisa sekolah dan dikembangkan
potensinya,” ungkap Zainal, yang kini merupakan anggota badan
pendiri Persatuan Orangtua Tunagrahita Indonesia.
    Ia dan teman-temannya pernah menemukan seorang anak tunagrahita
di Cimahi yang dikurung dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00 karena
tak ada yang menjaga. Ibunya yang miskin harus bekerja di pabrik
kerupuk dengan penghasilan Rp 10.000 per hari.
    Bersama orangtua lain, ia berhasil menggalang dana bantuan yang
diwujudkan dengan membuatkan warung untuk ibu tersebut; dengan
demikian ia tidak perlu ke luar rumah dan bisa merawat anaknya lebih
intensif.
    “Kami para orangtua tunagrahita percaya, jika kami menyayangi
anak-anak tunagrahita lain, suatu hari ketika kami sudah tiada, ada
orang lain yang mengasihi anak-anak kami,” ungkap Zainal yang
anaknya kini menjadi penari bali klasik dan sering diundang berpentas.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Satu Tanggapan to “GARA-GARA ANAK TUNAGRAHITA”

  1. Mudah-mudahan harapan Bapak Zainal arifin terkabul…AMIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: