GAYA JEPANG ANAK MUDA BANDUNG

 

Kompas, 16 April 2006

Aksen
GAYA JEPANG ANAK MUDA BANDUNG

Oleh Yenti Aprianti dan Lis Dhaniati

    Komik, animasi, musik, permainan, dan budaya Jepang lainnya tidak
hanya menjadi hiburan bagi para penikmatnya. Tetapi, telah berkembang
menjadi jiwa mereka. Khayalan dan kreativitas tumbuh sebagai harta
mereka. Salah satu hasilnya adalah eksistensi “costume player”
Jepang.
   
    Costume player-disebut juga cosplay-adalah mereka yang
menggunakan pakaian yang desainnya mirip tokoh dalam cerita dalam
animasi, komik, grup musik, atau permainan elektronik. Peminatnya
sebagian besar adalah remaja hingga dewasa muda yang masih duduk di
bangku kuliah.
    Di Bandung ada banyak penggemar karya Jepang yang sebagian bahkan
merasukkan dirinya dalam budaya Jepang. Di dalam acara berbau Jepang
para remaja ini tak sulit ditemukan. Ciri mereka sangat khas. Dari
pakaiannya saja, kita akan tahu betapa mereka sangat gandrung pada
Jepang.
    Cosplay gaya Jepang muncul di Bandung sekitar tahun 2004.
Kehadirannya menujukkan keinginan memperlihatkan jati diri dan
kreativitas remaja. Acara cosplay yang cukup besar di Bandung dimulai
Maret 2004. Ada sekitar 30 remaja hadir dengan dandanan ala Jepang.
Padahal ide acara ini muncul dari pemikiran iseng dua remaja yang
saat itu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
    Yosephine Yolanda (17) saat itu ingin mengadakan acara ulang
tahun dengan kostum tokoh animasi Jepang yang menjadi kegemarannya.
Keinginan itu disambut baik oleh temannya, Karina Tanuwijaya (18).
Karina segera menelepon redaksi sebuah majalah animasi untuk meminta
dukungan. Akhirnya, acara ulang tahun itu menjadi acara pertama
pertemuan para cosplay.
    Para cosplay seolah punya wadah berekspresi. Demi cosplay, tak
hanya acara di Bandung yang mereka datangi, tetapi juga sampai ke
Jakarta.

Berbagai aliran
    Para cosplay yang gemar terhadap selebritas Jepang punya aliran
sendiri, yaitu Cosplay Japanese Star atau Cosplay J-Star. Dalam
Cosplay J-Star ada dua aliran, yaitu J-pop dan J-rock.
    Memang dalam cosplay ada berbagai aliran. Aliran yang pertama
tumbuh dan banyak pengikutnya adalah Cosplay Anime. Pakaian yang
digunakan terinspirasi tokoh animasi. Misalnya Yolanda, yang gemar
sekali pada Akira yang dingin dan selalu menggunakan hokama atau
samurai.
    Sedangkan Aditya Wisnu Wardana (22) berdandan seperti tokoh Kira
Yamato dari komik Gundam seri II karena merasa sifatnya mirip dengan
si tokoh.
    Aditya yang sudah memiliki sekitar tujuh kostum ini mengaku
sering memakai “pakaian anehnya” untuk kuliah. “Yang penting kita pe-
de,” kata Aditya. Ia suka berdandan seperti itu karena ingin mencoba
mode baru.
    Dalam cosplay, ada aliran khusus di mana perempuan berdandan
seperti lelaki dan lelaki berdandan seperti perempuan. Nama alirannya
Cross Play. Chris (19) adalah penggemar Cross Play yang menggunakan
pakaian tokoh perempuan.
    Aliran lain adalah Cosplay Original, yaitu pengguna kostum ala
Jepang yang desainnya sudah dimodifikasi dengan imajinasi sendiri,
tetapi tetap membawa ciri utama dari gaya aliran tertentu. Misalnya,
membuat kostum samurai digabungkan dengan obi atau sabuk kimono.
    Agil (19), misalnya, mengenakan kimono hitam ditimpa baju perang
terbuat dari lempengan karton yang dijahit dengan tali nilon. “Ini
tidak meniru tokoh siapa pun. Kalau meniru, aku takut enggak puas
karena enggak persis sama tokoh yang ditiru,” kata Agil.
    Ada juga aliran Tokusatsu yang menggunakan kostum superhero
Jepang, seperti Power Ranger. Tokusatsu bisa dibuat dari kardus atau
lempengan besi. Pembuatan kostum ini biasanya lebih mahal dan sulit
daripada cosplay jenis lain. Apabila kostum cosplay lain menghabiskan
Rp 300.000, Cosplay Tokusatsu bisa sampai jutaan rupiah.
    Aliran Ganguro mengadaptasi rias wajah tokoh pop Jepang. Aliran
Ganguro di Jepang biasanya mencoklati wajah mereka yang pias. Mereka
juga menggunakan lipstik dan perona mata putih. Sementara di
Indonesia aliran ini diadaptasi hanya sebagian. Kebanyakan remaja
meniru tanpa mencoklati wajah. Patricia (19) sesekali suka juga
berias wajah Ganguro di mal.
    Demi cosplay yang membutuhkan dana tidak sedikit, para remaja pun
menabung. “Saya rela mengurangi jatah makan dari uang kos,” kata
Marvin (19), mahasiswa. Sementara Aditya harus menjadi loper koran
dan kurir katering.
    Bahkan, Ipeh (19), yang lebih suka disebut asisten cosplayer ini,
mengaku tidak malu meminjam uang demi kostum yang ingin dimilikinya.

Perancang dan pengguna
    Para cosplay biasanya juga senang menggambar dan mendesain baju.
Mereka perancang sekaligus pengguna dari desain yang dibuat. Untuk
menekan biaya, selain butuh kreativitas, banyak juga dari mereka yang
akhirnya bisa menjahit baju dari kelas pemula sampai mahir.
    Kuo (18), mahasiswi seni desain Universitas Kristen Maranatha,
mengatakan, banyak penjahit yang sering tidak mengerti keinginan
mereka yang masih sering dipandang aneh. Terlebih menyangkut
perlengkapan. Ia pun membuat sendiri bando yang berbentuk seperti
telinga kelinci.
    Tak jarang “keanehan” mereka mengundang masalah. Seperti
Emeraldo (17) yang sempat diberhentikan polisi saat melaju dengan
sepeda motor di jalan raya. Rupanya, polisi mempermasalahkan samurai
imitasi yang nongol dari tasnya. “Dia tanya itu apa. Setelah kuberi
tahu ia cuma bilang agar lain kali dibungkus koran sehingga tidak
menarik perhatian,” kata Emeraldo tertawa.
    Saat cosplay bercakap, di sana-sini akan terdengar istilah bahasa
Jepang terselip dalam kalimat yang meluncur dari bibir mereka. Para
penggemar budaya pop Jepang ini banyak juga yang merasa perlu les
bahasa masyarakat Negeri Sakura.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Satu Tanggapan to “GAYA JEPANG ANAK MUDA BANDUNG”

  1. Yenti yang baik,

    Ini bukan komentar, tapi permohonan maaf. Saya mohon maaf karena tidak hadir dalam pesta pernikahan Yenti dengan Rony di Bogor, Sabtu, 18 Oktober lalu. Maklumlah, kebetulan hari itu saya sedang tidak dimungkinkan pergi ke luar kota. Saya turut berbahagia atas pernikahan kalian. Semoga kalian menjadi pasangan istri-suami yang rukun, mendapat keturunan yang baik, dan memperindah tamansari keluarga Indonesia dan dunia. Amin.

    salam hangat,

    HAWE SETIAWAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: