Keluarga Punk, Di Rumah Kami Ibu Biasa

Sumber : Kompas, 1 april 2006

Keluarga Punk
“DI RUMAH, KAMI IBU BIASA”

    Penampilan boleh berbeda. Rambut pink dengan tato di punggung,
serta kaus hitam bergambar tengkorak. Namun, Lois (20), sebagai ibu 
dari satu anak, mengaku hidup seperti layaknya seorang ibu. 
    Di pagi hari, ia membersihkan rumah, mencuci pakaian, perabotan
rumah tangga, memandikan anak, memasak untuk keluarga, dan menyuapi
Travis (3) anak semata wayangnya.
    “Pokoknya hidup saya sama saja dengan ibu-ibu rumah tangga lain,
hanya penampilan saja yang beda,” ujarnya tersenyum.
    Sabtu (25/3), setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumahnya,
Lois menyempatkan diri datang ke acara Punk Rock di Jalan Mohammad
Ramdan, Kota Bandung.
    Sambil menonton atraksi beberapa band punk, ia juga berkumpul
dengan anggota komunitas punk.
    Namun, Lois tidak lupa membawa serta Travis. Seperti dirinya yang
tampil modis dalam gaya punk, anaknya pun berdandan ala punk, 
celana jins, kaus, dan topi hitam.
    Sehari-hari, Travis sering mendengarkan musik-musik punk rock
yang keras kegemaran ayah-ibunya.
    Tak heran, saat di acara, Travis dan temannya, Rizki (4), anak
dari anggota komunitas punk lainnya, tidak pernah jauh  dari 
panggung.
    Kedua bocah tersebut lincah meloncat-loncat dan berlari-lari. 
Tanpa canggung mereka saling beradu memperebutkan botol air 
mineral di panggung. 
    Para pemain band pun tidak terganggu, penonton pun tidak
menggerutu. Bahkan Travis meniru remaja-remaja punk yang menari pogo
(meloncat dan saling menubruk tubuh teman-temannya).
    “Orang-orang punk itu seperti keluarga,” kata Lois. “Makanya saya
senang berteman dengan mereka,” ujar perempuan yang juga menjadi
vokalis di grup Punk Rock, Maksiat.

Berpenampilan biasa
    Lois tidak menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atasnya. Ia
pernah ditentang orangtuanya karena menyenangi punk.
    “Tapi saya tidak menyesal, yang penting saya senang dan punk itu
bebas tapi tahu aturan,” kata Lois yang menikah dengan sesama
penyuka punk. Suaminya bekerja sebagai pedagang suku cadang
kendaraan bermesin diesel.
    Dewi (22) juga seorang penggemar punk. Ia mengecat rambut dan
menato tubuhnya. Ia menikah dengan Tigor Rollins (31), juga orang
punk.
    Keduanya bekerja di bidang manajemen pertunjukan band punk, dan
penjualan berbagai perlengkapan punk.
    “Penampilan saja yang berbeda, tapi di rumah kami seperti ibu
biasa,” ujar Dewi.
    Meski berkata demikian, Dewi mengaku sering menyesal karena
berpenampilan seperti sekarang.
    “Saya ingin juga berpenampilan seperti ibu rumah tangga lain,”
kata Dewi. Keinginan itu muncul karena dua anaknya yang masih kecil
sering bertanya kenapa dirinya menato tubuhnya. Sementara itu, ibu
teman-teman mereka tidak demikian.
    “Anak-anak juga suka bertanya, kenapa rambut saya warna-warni,”
ujar Dewi.
    “Saya sedih juga mendengarnya,” lanjut Dewi.
    Namun, meski ingin berpenampilan “wajar”, Dewi mengaku tidak bisa
mengelak dari dorongan hatinya.
    “Kami hidup dari komunitas punk, masak gaya kami berbeda dengan
mereka,” ujar Dewi yang berharap suatu hari ia bisa berubah.
    Dewi mengaku penampilannya yang berbeda juga menghambat
hubungannya dengan keluarga.
    “Anak-anak saya sih bisa diterima oleh nenek dan kakek mereka,
tapi saya malah serba salah. Saya jarang mengunjungi mertua karena
malu berpenampilan begini. Rumah mereka, kan di kampung,” tutur Dewi.
    Dewi berharap, Althur Ikhsan (6) dan Rizki Ikhsan (4), dua orang
anaknya, tidak mengikuti jejaknya sebagai orang punk, agar tidak
dilihat aneh oleh orang lain seperti yang dirasakannya. (Yenti
Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: