PISANG GORENG, DIBURU SAMPAI BUYUT

Sumber: Kompas, 16 Okt 2005

DIBURU SAMPAI BUYUT
 Oleh: Yenti Aprianti

    Beberapa jenis makanan seperti nasi kuning dan lontong sayur
pernah dijual Yohana Rukiah (86) di rumah gubuknya. Namun, makanan
itu selalu bersisa karena tak laku. Baru setelah mencoba menjual
pisang goreng, penganan sederhana ini selalu diserbu.
    Kini usaha pisang gorengnya sudah 57 tahun dan buyut-buyut dari
pelanggan lamanya menjadi pelanggan baru toko pisang gorengnya.
Penampilan tokonya memperlihatkan bahwa tempat yang dikelola itu
sudah tua. Stoples-stoples tahun 1960-an masih bertengger di etalase
tokonya.
    Penataan barang dagangannya terlihat kurang rapi. Tidak seperti
toko-toko kue modern yang bisa ditemukan di Bandung, toko kue Rukiah
tampak sederhana. Di salah satu etalase terdapat tampah-tampah berisi
gorengan dan di sisi lain sebuah rak dipenuhi pisang-pisang mentah
sebagai bahan utama pisang goreng andalannya. Namun, dari yang
sederhana ini kisah tokonya dimulai.
    Tahun 1940, Rukiah yang saat itu bernama Lim Loei Nio datang dari
Blitar, Jawa Timur, untuk tinggal bersama kakaknya yang berdagang
hasil bumi di Bandung. Usianya saat itu 21 tahun.
    Selain bekerja di toko kakaknya, Rukiah masih sempat menjahit
pakaian sebagai hobi. Ia sering membeli alat-alat menjahit di toko
Dezon, Bandung. Di sanalah ia bertemu dengan pelayan toko, Hajadi
Sastra Amidjaja, yang menikahinya pada tahun 1942.
    Setelah menikah, Hajadi pindah bekerja di toko batik. Untuk
membantu keuangan keluarga, Rukiah berdagang di rumah. Awalnya, ia
menjual nasi kuning dan lontong sayur, namun jarang laku. Ia pun
beralih menjual gorengan, antara lain pisang goreng, bola ubi,
peuyeum (tape) goreng, dan combro. Combro adalah penganan dari
parutan singkong yang diisi oncom dan digoreng.
    “Dulu, jarang sekali ada yang jual gorengan seperti itu, tidak
seperti sekarang, gerobak-gerobak penjual gorengan ada di mana-
mana,” kata Rukiah.
    Kemudian gorengan buatan Rukiah dikenal warga Bandung. Ia pun
mulai kewalahan. Begitu lakunya, dari tahun 1948 hingga 1973, ia
membuka toko sejak pagi buta hingga dini hari lagi.
    “Karena ramai, suami saya berhenti dari toko batik dan membantu
saya di warung. Dia kebagian tugas mengipasi arang karena kami
menggoreng dengan anglo yang berbahan bakar arang,” cerita Rukiah,
yang kini sehari menghasilkan sekitar 600 potong pisang goreng dan
300 combro.
    Waktu itu mereka berjualan di gubuk yang mereka sewa di Jalan
Dalem Kaum, Bandung. Letaknya bersebelahan dengan lokasi tokonya
sekarang. Kini gubuk itu sudah tak ada, dan berubah jadi pertokoan.
    Gubuk itu sering dijadikan tempat nongkrong, terutama oleh orang
muda. Salah satu yang berteman dengan mereka adalah seorang penulis
buku dari Malang, Jawa Timur.
    “Saya lupa namanya. Tapi dialah orang yang memberi nama toko
kami, toko Pisang Goreng Simanalagi,” kata Rukiah, ibu lima anak.
Nama pemberian itu digunakan sebagai merek tokonya hingga kini.
    Suatu hari, keluarga Rukiah diminta keluar dari gubuk sewaan yang
sudah reyot dan sempit. Pemilik rumah berniat membangun gubuk itu.
Mereka pindah ke rumah lain di Gang Kaum, Bandung. Untuk menjual
pisang goreng, ia dan suami mendirikan tenda dari karung goni di
lapangan yang kini menjadi bangunan toko Robinson, Jalan Dalem Kaum,
dekat Alun-alun Bandung.
    Tahun 1940-an hingga 1970-an, Alun-alun Bandung masih menjadi
jantung kota, di mana keramaian manusia berpusat. Ada empat bioskop
besar di daerah alun-alun, yaitu Bioskop Varia, Majestik, Nusantara,
dan Dian.
    Biasanya yang menyerbu warung pisang goreng adalah muda-mudi yang
baru menonton film. Pisang Goreng Simanalagi menjadi primadona. Para
pembeli mengantre hingga dini hari. “Karena ramainya, jam 01.00
malam saya masih menggoreng pisang,” ujar Rukiah.
    Sebagai tempat nongkrong, Rukiah tak hanya kenal para mania
bioskop, tapi ia juga kenal pemilik bioskop. Itu sebabnya, ia bisa
menonton gratis.
    “Pemilik bioskop kenal saya. Saya bisa masuk tanpa membayar.
Saya paling suka menonton film-film yang dimainkan Rukiah,” ujar
Rukiah yang mengidolakan bintang film Indonesia bernama Rukiah, dan
menggunakan nama artis itu untuk nama “Indonesianya”.

Berbagai peristiwa
    Sekitar tahun 1967, Rukiah berhasil membeli rumah model lama di
Jalan Dalem Kaum yang kini menjadi toko pisang gorengnya. Tahun 1973,
adanya peristiwa menjelang Malari di Bandung, tokonya tutup lebih
cepat sekitar pukul 23.30.
    Kemudian tahun 1998, sejak peristiwa berdarah pada bulan Mei,
tokonya tutup sekitar pukul 19.00. Kini pada hari Minggu toko ini
tutup. Tokonya tak lagi menjadi tempat nongkrong, tetapi masih banyak
pelanggan yang lalu lalang membeli gorengan buatan Rukiah.
    “Dulu, saya punya pelanggan anak kecil yang bekerja sebagai
loper koran. Sekarang anak itu sudah jadi bos di surat kabar, dan
masih sering datang ke sini beli pisang goreng,” kata Rukiah senang.
    Para pelanggan Rukiah, yang dulu datang bersama pacar mereka,
kini mendatanginya sambil membawa cucu. Mereka pun sering berbagi
kenangan di toko tua yang ia tempati sekarang.
    “Bahkan, ada pelanggan baru yang ternyata buyut dari pelanggan
kami,” kata Victor Sastra Amidjadja (45), anak bungsu yang ikut
membantu usaha Rukiah.
    Rukiah hanya membuat pisang goreng dari pisang raja dan pisang
tanduk. Ukuran pisang gorengnya sebesar sabun mandi, namun dihargai
Rp 900 per buah. Kecuali pisang raja goreng yang dijual Rp 1.500
karena ukurannya lebih besar.
    “Kami menjual pisang goreng lebih mahal dari pisang goreng di
tempat lain karena rasanya. Bahan pisang yang kami gunakan adalah
pisang tanduk dan pisang raja, yang harga per kilogramnya memang
lebih mahal,” kata Rukiah yang dalam seminggu menghabiskan sekitar
200 kilogram pisang.
    “Kalau pedagang pisang goreng lain biasanya menggunakan pisang
nangka yang harganya lebih murah dari pisang tanduk dan pisang
raja,” kata Victor menambahkan. Adonan tepung untuk pisang goreng
yang dibuatnya pun tak menggunakan gula pasir.
    Pisang goreng buatan Rukiah sering dibawa pelanggan ke luar
negeri seperti ke Hongkong, Spanyol, dan Amerika Serikat. “Pelanggan
dari Amerika juga keluarga dari pelanggan-pelanggan kami dulu. Dia
sering pesan gorengan sampai ratusan untuk pesta kebun. Dia katanya,
juga menemukan cara agar bisa mengawetkan combro kami,” ujar Victor.
    Meskipun diberi nama Toko Pisang Goreng Simanalagi, namun combro
Rukiah hingga kini juga menjadi gorengan favorit pembeli.

~ oleh warungminum pada Juli 8, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: