Kepercayaan Rakyat Sunda Seputar Kehamilan

Neng, ulah sok motong-motong,” ujar Bi Maah , pengasuh keponakanku memperingatkanku agar tidak memotong atau menggunting.

     “Motong naon, Bi (Memotong apa, Bi)? Ini cuma mau membelah jambu biji, mau dimakan,” ujarku.

     “Jeuleuma keur ngandung mah, motong naon wae oge, ulah. (Orang yang lagi hamil sih memotong apa saja, pokoknya jangan),” katanya.

     Bi Maah pun berkisah, suatu hari saat hamil anaknya kedua, ia lupa nasehat orang tua. Saat hendak memasak ayam, ia pun memotong dan mencabuti bulu ayam sendiri, tanpa menyuruh orang lain. Ia baru sadar saat sedang mencabut bulu di bagian lubang pendengaran ayam. Menurutnya bulu di bagian tersebut paling susah dicabut. Saat berhasil mencabut satu lembar bulu, kandungannya bereaksi seperti  bergerak mengejutkannya. “Tapi Bibi teu keneh wae inget kana laku lampah nu teu meunang teh (Tapi reaksi di kandungannya tak juga membuat Bibi ingat pada perilaku yang tidak diperbolehkan itu),” ujar perempuan beranak tiga tersebut. Saat  lahir anak Bibi cacat. Daun telinganya hilang sedikit.

     Bi Maah lantas mengingatkan jika ibu hamil melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan adat, maka segeralah mengatakan jangjawokan(mantra) ibu hamil,  “Utun inji ulah saturut-turutna, amit-amit jabang bayi “. Arti jangjawokan tersebut adalah “(Anakku) laki-laki (atau) perempuan jangan menjadi seperti itu, amit-amit  jabang bayi.” Jangjawokan tersebut merupakan  penangkal agar apapun hal yang dipandang adat buruk dan tidak boleh dilakukan seorang ibu hamil tidak menimpa bayi yang hendak dilahirkan.

Menggunakan anonim

     Selain larangan memotong apapun tanpa mengucapkan jangjawokan. Menurut narasumber lainnya, Mami Suhermi, yang merupakan ibu kandung penulis menceritakan banyak aturan bagi ibu hamil berdasarkan kepercayaan rakyat Sunda. Kepercayaan  rakyat Sunda seputar kehamilan lainnya adalah ibu hamil tidak boleh  mengatakan kata “macet” dan “susah” karena dipercaya jika mengatakannya maka saat melahirkan bayi akan sulit lahirnya.

      Itu sebabnya, ibu hamil disarankan mengganti  kata “macet” atau “susah” dan semua sinonimnya dengan anonim kata tersebut. Misalnya kata “macet” diganti “lancar” dan kata “susah” diganti “mudah”. Misalnya saat hendak mengatakan bahwa jalanan macet sehingga membuat ibu hamil terlambat kerja, maka kata yang harus diucapkan ibu hamil menjadi, “Tadi jalanan lancar betul, sampai-sampai saya terlambat kerja.”

     Jika kata “macet” atau “susah” terlanjur dikatakan, maka ibu hamil harus segera mengatakan penangkal kejadian yang tak diinginkan dengan mengucapkan jangjawokan,  “Utun inji ulah saturut-turutna, amit-amit jabang bayi “. Harapannya, bayi yang dikandungnya bisa lahir dengan lancar dan selamat.

     Larangan lainnya, secara tak sadar, orang seringkali duduk begitu saja di pintu yang menghubungkan dua ruangan, misalnya kamar dan ruang keluarga untuk ikut nimbrung mengobrol dengan anggota keluarga lainnya. Hal ini tidak boleh dilakukan oleh orang hamil karena dipercaya bisa membuat bayi yang dilahirkan berlama-lama di lubang kelamin ibunya saat hendak dilahirkan. Itu sebabnya, orang yang melihat ibu hamil duduk di muka pintu harus segera mengingatkan si ibu hamil untuk segera pindah dari tempat duduknya.

     Seperti biasa, ibu hamil yang baru sadar bahwa ia duduk di  jalan masuk atau muka pintu pun harus segera mengatakan jangjawokan kehamilan agar hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi.

      Jangjawokan tersebut juga harus dikatakan jika ibu hamil melihat sesuatu yang tidak wajar seperti melihat orang cacat, melihat orang gila, melihat orang berkata atau berperilaku kasar seperti bertengkar atau berkelahi.  Selain harus menghindari mendengar kata-kata kasar, ibu hamil juga dilarang mengatakan kata-kata kasar  dan berperilaku  kasar agar anaknya tidak berperangai demikian.

Makanan yang dipantangkan dan dianjurkan

Selain larangan mengatakan kata-kata yang dilarang, berperilaku yang tidak baik, dan melihat sesuatu yang tidak wajar, menurut kepercayaan rakyat Sunda, ibu hamil juga punya makanan yang perlu dipantang. 

Makanan yang dipantangkan pada ibu hamil antara lain,  sayur atau buah yang bentuknya tidak wajar seperti pisang dempet, rambutan berbiji dua, dan lainnya. Hal ini dilakukan agar anak yang dikandung tidak kembar siam.  Jangankan memakannya, melihat buah atau sayur yang tak wajar sebaiknya ibu hamil segera mengatakan, “Utun inji ulah saturut-turutna, amit-amit jabang bayi”.

Selain itu ibu hamil juga tidak diperbolehkan mengonsumsi kencur karena jenis rimpang tersebut dipercaya bisa mengakibatkan hancur atau rapuhnya tali ari-ari.

Kalau ada makanan yang dipantangkan, ada juga makanan yang justru dianjurkan bagi ibu hamil, antara lain meminum minyak goreng agar bayi lancar dilahirkan serta mengonsumsi air kelapa agar kulit bayi bersih dan mulus.

Jangjawokan sebagai konversi

     Kepercayaan rakyat sering juga disebut takhyul. Kepercayaan rakyat biasanya disampaikan dengan sejumlah syarat, yaitu terdiri dari (1) tanda-tanda atau sebab-sebab dan (2) hal yang diperkirakan akan ada akibatnya (Danandjaja, 2007: 154).

     Contohnya pada ibu hamil mengatakan kata “susah” (sebab) maka proses kelahiran akan susah (akibat).

     James Danandjaja mengungkapkan beberapa hal dihubungkan berdasarkan: 

(1) persamaan waktu, contohnya jika anak dilahirkan malam maka ia akan menjadi pemberani karena langsung mampu beradaptasi suasana malam yang gelap dan dipercaya sebagai masa berkeliarannya makhluk-makhluk gaib.  Ada lagi contoh lain, ibu hamil harus menggantungkan gunting, peniti, dan bawang putih di bajunya jika berpergian malam agar kehamilannya tidak diganggu makhluk halus. Orang Sunda percaya makhluk halus berkeliaran di malam hari.

(2) persamaan wujud, contohnya larangan memotong karena takut anaknya tunadaksa, larangan mengatakan macet atau susah, larangan melihat, berkata, dan berperilaku yang mengandung kekerasan, larangan makan sayur atau buah dempet.  

(3) persamaan bunyi sebutan, contoh larangan mengonsumsi kencur agar ari-ari tidak hancur

     Di antara hubungan sebab akibat, ada konversi dalam kepercayaan rakyat Sunda. Peran konversi itu dipegang oleh jangjawokan orang hamil yang berbunyi, utun inji ulah saturut-turutna, amit-amit jabang bayi. Pengucapan jangjawokan akan mengubah keadaan. Sebab konversi dalam kepercayaan rakyat berfungsi seperti magic atau ilmu gaib karena merup[akan suatu tindakan untuk mengubah sesuatu atau mencapai sesuatu dengan cara gaib (Danandjaja, 2007: 155).

      Dalam buku Foklor Indonesia karya James Danandjaja, berdasarkan klasifikasi takhyul yang diungkapkan Wayland D Hand, takhyul tentang kehamilan termasuk dalam golongan takhyul di sekitar llingkungan hidup manusia, yaitu kategori lahir, masa bayi, dan masa kanak-kanak. 

Percaya tak percaya

Oleh orang berpendidikan barat kepercayaan rakyat dianggap rendah karena kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mengutip yang dikatakan Brunvand,  tidak ada orang  yang bagaimana modernnya pun dapat bebas dari takhyul baik dalam kepercayaan maupun kelakuannya (Danandjaja, 2007: 154).

Mengacu pada hal tersebut, masih banyak ibu muda berpendidikan modern mengikuti anjuran para orangtua untuk mengikuti apa yang dilarang dan dianjurkan oleh kepercayaan rakyat yang ada di sekitar lingkungan mereka.

     Linda (29) misalnya, meskipun tidak sepenuhnya percaya dengan takhyul seputar kehamilan yang masih dipegang  orang-orang tua di sekitar lingkungannya, tetapi ia sendiri merasa takut untuk melanggarnya.

     “Antara percaya dan tidak percaya karena kebenaran dari takhyulnya itu tidak dapat segera dibuktikan. Tetapi kalau melanggar saya tidak berani karena kalau benar apa yang dipercayai orang tua itu, yang  terkena hukuman bukan saya saja, tetapi juga bayi saya,” ujarnya. Misalnya kepercayaan memakan pisang dempet menyebabkan anaknya kembar siam. “Wah kasihan kan anak saya kalau sampai begitu. ‘Utun inji ulah saturut-turutnya, amit-amit jabang bayi’,” ujar ibu dua anak tersebut.

     Ketakutan tersebut wajar terjadi karena meskipun tidak diikuti dengan penjelasan ilmiah,  kepercayaan rakyat yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi seringkali diperkuat dengan contoh-contoh kasus yang dinilai tak wajar teradi pada orang yang pernah melanggar takhyul yang berlaku. Misalnya terjadi pada kasus Bi Maah yang memperkuat kisahnya tentang perilakunya mencabut bulu ayam tanpa mengucap jangjawokan dan sobeknya daun telinga anaknya. 

     Hal tersebut sejalan dengan yang dituturkan Brunvand bahwa takhyul berdasarkan asumsi atas kesadaran atau bukan kesadaran mengenai syarat-syarat dan akibat-akibat, sebab dan akibat dalam dunia kehidupan sehari-hari. Walaupun asumsi itu tidak ilmiah, aspek kepercayaan takhyul dan aspek perbuatan takhyul sangat luas persebarannya di semua lapisan masyarakat (Danandjaja, 2007: 155).

Takhyul kehamilan di internet

     Di masa komunikasi makin modern, kepercayaan rakyat seputar kehamilan juga diperbincangkan melalui cara berbeda, salah satunya melalui blog di internet.  Meskipun ditulis, tetapi ciri lisan dari susunan kalimat perespon blog  amat jelas sekali. Misalnya dapat dilihat di blog Rumah Maya yang salah satu topiknya berjudul Mitis2 Dikala Hamil….

     Estri, pemilik blog Rumah Maya menuturkan salah satu mitos di lingkungannya dengan kalimat : “Jangan benci sama orang lain sampe keterlaluan, nanti anaknya mirip tuh orang.”

     Kalimat tersebut merupakan kalimat yang langsung diserap dari ujaran lisan karena susunan atau struktur kalimatnya tidak mengikuti aturan kalimat tertulis. Jika ditulis dalam kalimat tertulis maka menjadi, “Jangan keterlaluan membenci orang lain, nanti anak yang dilahirkan mirip orang tersebut.”

     Para perespon blog tersebut banyak juga yang berada dalam kondisi “percaya tidak percaya” pada kepercayaan rakyat seputar kehamilan, mereka menyebutnya sebagai mitos.

     Menurut Mami, semakin tinggi tingkat pendidikan ibu hamil, mereka makin menuntut penjelasan ilmiah. “Kalau dulu cukup dikatakan pamali, orang langsung patuh, sekarang tidak bisa,” kata Mami. Menurut Mami di masa lalu, semua larangan yang diberitahukan pada ibu hamil tidak diikuti dengan penjelasan akibat yang akan diderita jika melanggar karena untuk mengatakan akibatnya saja itu sudah diilarang. “Tapi karena anak-anak menuntut, terpaksa diungkapkan juga,” tutur Mami yang tetap masih merasa jengah untuk mengungkapkan akibat dari larangan seputar orang hamil meski ia sudah menghadapi kehamilan empat cucunya.

     Dalam bukunya Brunvand mengungkapkan takhyul mampu bertahan di masyarakat modern dijelaskan melalui berbagai teori. Misalnya, disebabkan oleh cara berpikir yang salah, koinsidensi, predileksi secara psikologis umat manusia untuk percaya pada hal gaib, ritus peralihan hidup, teori keadaan dapat hidup terus, perasaan ketidaktentuan akan tujuan yang sangat didambakan, ketakutan akan hal yang tidak normal atau penuh risiko dan takut akan kematian, pemodernisasian takhyul, serta pengaruh kepercayaan bahwa tenaga gaib dapat tetap hidup berdampingan degan ilmu pengetahuan dan agama (Danandjaja, 2007: 169).

     Dua teori mengapa takhyul tetap dipercaya adalah teori gesunkenes kulturgut yang diajukan oleh sarjana Jerman Hans Naumann bahwa sebagian folklor kini adalah bagian kebudayaan yang bertahan hidup dari folklore orang terpelajar tetapi sudah mengalami pembejatan.

     Teori lainnya dari Sir James Frazer tentang sympathetic magic yang menyatakan ada hubungan erat antara benda-benda yang tak ada hubungannya. Ilmu gaib itu dapat berupa ilmu gaib homeopatis atau objek-objek yang mirip akan mempengaruhi seperti pada kepercayaan rakyat seputar kehamilan terkait dengan pisang dempet, perbuatan kasar, orang cacat, dan tindakan memotong.

     Di antara situasi percaya dan tidak percaya masyarakat modern terhadap takhyul seputar kehamilan, sesungguhnya takhyul tersebut jika ditelaah sedang menjalankan fungsinya, antara lain:

1)  Penebal emosi keagamaan dan kepercayaan. Koentjaraningrat  mengungkapkan manusia yakin akan adanya makkhluk gaib di sekelilingnya dan berasal dari jiwa-jiwa orang mati atau manusia takut mengalami krisis dalam hidupnya, manusia yakin ada gejala yang tak dapat diterangkan dan dikuasai akalnya, manusia percaya kekuatan sakti di alam, manusia dihinggapi emosi kesatuan dalam masyarakatnya, atau manusia mendapat suatu firman dari Tuhan, atau semua sebab tersebut.

2)  Alat pendidikan, yaitu kepercayaan rakyat seputar kehamilan mendidik dan membiasakan ibu hamil untuk berperilaku baik misalnya tidak berkata dan berperilaku kasar selama hamil  sehingga diharapkan saat anak telah lahir ia bisa memberi teladan pada anaknya untuk berbuat baik. (Danandjaja, 2007: 169 – 170).

~ oleh warungminum pada September 13, 2009.

3 Tanggapan to “Kepercayaan Rakyat Sunda Seputar Kehamilan”

  1. Trims info yang sangat bagus dan bermanfaat🙂

  2. wah, kebetulan saya lagi hamil,, mitos mitos seperti itu memang sering terdengar oleh saya.. terimakasih…. ijin copy yah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: