Ringkasan Buku High Point

HIGH POINT

Paul Bohannan dan Mark Glazer

 

 

BAB 1

UNILINEAL EVOLUTION

Bahasan ini mengangkat pemikiran Herbert Spencer, Lewis Henry Morgan, dan Edward Burn ett Tylor.  Ketiganya berangkat dari pemikiran alamiah (Biologi) untuk memandang masyarakat. Herbert Spencer misalnya memandang bahwa masyarakat adalah sebuah organisme. Masyarakat   terus berkembang dengan memperlihatkan struktur yang terus meningkat. Bagian-bagian masyarakat yang berbeda sesungguhnya hidup untuk saling mendukung, seperti bagaimana organ-organ tubuh manusia saling bergantung satu sama lainnya. Hal itu pula yang terjadi dalam masyarakat. Elemen-elemen yang saling bergantung membentuk masyarakat hanya akan berhenti jika dihancurkan oleh kekerasan.

Social growth  diidentikan pula seperti tubuh yang saling terintegrasi dalam formasi tertentu dan menuju kemajuan. Meski demikian, social growth tidak selalu pararel. Ada masyarakat primitif ada pula yang telah lebih maju.  Namun masih dengan pandangan biologi Spencer pun menganalogikan struktur masyarakat seperti organism. Semakin besar pertumbuhannya, makin meningkat pula strukturnya.

Fungsi sosial berubah jika struktur berubah. Spencer menganalogikan masyarakat primitif seperti hewan rendah yang memiliki kemiripan satu sama lain, sementara masyarakat maju seperti hewan tingkat tinggi yang perlakuannya berbeda satu sama lain.

Pemikiran Herbert Spencer menunjukan pemikiran yang positivistik dengan menandai fenomena dalam kategori-kategori. Hal ini juga dilakukan oleh Lewis H Morgan. Ia mengkategorikan perkembangan masyarakat sebagai masyarakat yang savagery, barbarism, dan civilization  dalam berbagai tahap.  Masyarakat berubah dari satu tahap ke tahap lainnya dalam waktu yang lama dan lambat.

Morgan juga dengan begitu yakin membuat kategori-kategori bagaimana manusia memenuhi kebutuhan dasarnya dalam berbagai criteria seperti pemakan tumbuhan, ikan, hasil tani, dan hasil ternak. Ia juga membuat kategorisasi keluarga untuk menerangkan ciri sebuah masyarakat.

Jika Spencer dan Morgan menitikberatkan bahasannya pada masyarakat, EB Taylor menitikberatkan bahasan pada kebudayaann. Namun sama seperti Spencer dan Morgan, ia pun mengkategorikan perkembangan kebudayaan dalam hal ini mengenai religi antara lain animism, politeisme, dan monoteisme. Ia melakukan komparasi-komparasi dan bahkan menggunakan analisis statistical untuk melihat kebudayaan.  Melalui penjelasan-penjelasan pemikirannya, ketiganya melakukan generalisasi.

 

BAB 2

EARLY CULTURAL ANTHROPOLOGY

                Pembahasan kebudayaan diusung oleh Frans Boas, AL Kroeber, Robert H Lowie,Edward Sapir, Benyamin Lee Whorf, R. Fulton Benedict, Ralph Linton, A Kardiner. Mereka menitikberatkan perhatian pada kerja penelitian di lapangan untuk memandang bagaimana sebuah kebudayaan bekerja. Banyak gagasan berkembang, salah satunya tentang etnografi.  Berbagai cara pandang untuk menjelaskan kebudayaan dikembangkan oleh para antropolog di atas.

                Berbeda dengan Taylor yang membahas kebudayaan dalam kategori-kategori, Frans Boas justru meniscayakan skema kebudayaan karena menurutnya  dalam membahas tentang  kebudayaan, orang dihadapkan pada relativisme kebudayaan. Yang masih digunakan dalam antropologi hingga kini. Dalam pandangan relativisme budaya, Boas mengatakan bahwa setiap kebudayaan adalah setara dan dapat diperbandingkan. Tidak ada kebudayaan yang superior dan inferior.  Ia juga memperkenalkan bagaimana menjadi seorang professional di lapangan penelitian dan bagaimana melakukan metode komparatif.   

                AL Kroeber memperlihatkan lemahnya teori-teori Antropologi yang ada di Amerika. Ia berusaha menjelaskan tentang kebudayaan melalui kerja investigasinya di lapangan. Salah satu hasilnya tentang  bagaimana pilihan personal memperlihatkan pola kebudayaan suatu masyarakat. Ia memperlihatkan cara kerjanya yang bergerak dari hal-hal empiris di masyarakat untuk menerangkan kebudayaan yang bersifat abstrak.

                  R.H. Lowie menolak gagasan bahwa evolusionisme  dan ras menentukan kebudayaan. Ia juga menyatakan bahwa kebudayaan tidak dapat direduksi dengan pandangan psikologi. Ia justru menawarkan gagasan tentang perkembangan kebudayaan disebabkan karena adanya kontrak kebudayaan di dalam masyarakat.

                Edward Sapir amat tertarik pada bahasa. Menurutnya bahasa memperlihatkan bagaimana orang berpikir, sementara kebudayaan apa yang dilakukan dan dipikirkan oleh suatu kelompok sosial. Semua bahasa berkembang berdasarkan target atau tujuan budaya itu sendiri.

                Benjamin Lee Whorp  juga membicarakan tentang bahasa. Tetapi beda dengan Sapir ia menitikberatkan perhatian pada bagaimana perubahan arti dari sebuah bahasa dipengaruhi oleh dimensi persepsi. Ia mencoba mengulik tentang aspek tersembunyi dari bahasa, salah satuny amelalui aturan gramatikal yang di dalamnya memiliki alasan kultural.

                R Fulton Benedict mengemukakan tentang hubungan antara konfigurasi kebudayaan dan perilaku individual.  I a juga menghasilkan pandangan tentang Pola Kebudayaan Yang menjadi sentral bagaimana memahami perilaku individual. Menurutnya memahami kebudayaan bisa dilakukan dengan cara mengintegrasikan data yang berhubungan dengan konfigurasi budaya.  

                Ralph Linton adalah ilmuan yang handal dalam mensintesikan segala hal. Dalam kebudayaan ia  memberi wawasan luas dalam banyak hal, terutama dala bahasa budaya dan kepribadian. Salah satu pemikirannya tentang peran dan status.Ia membahas peran dalam formula fungsionalisme. Bagi banyak ilmuan, fungsionalisme mengandung makna tujuan dan aspek matematik yang memandang bahwa dua hal dapat berubah bersama. Namun dalam pandangan Linton, fungsionalisme  berasal dari fungsi yang merujuk pada interelasi individu-individu. Ia menyatakan ciri dari kebudayaan dapat dilihat dari empat hal, yaitu bentuk yang merujuk pada pengaturan pola perilaku, makna merujuk pada asosiasi yang dibubuhkan pada elemen budaya oleh anggota masyarakat –yang mungkin bersifat subjektif dan tak disadari, guna terkait pada guna perlakuan berdasar konteks kultural, dan fungsi. Ia membahas bahwa status terkait dengan struktur serta hak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat. Peran merujuk pada aspek perilaku terkait status.

Abram Kardiner menerangkan tentang adaptasi personal pada budaya dan lingkungan. Untuk menerangkan hal tersebut ia membuat konsep struktur kepribadian yang ditumbuhkan dari pengalaman masa kanak-kanak. Sementara pengasuhan anak di tiap budaya berbeda sehingga kekhususan budaya suatu masyarakat akan tampak. Ia mengatakan bahwa pola budaya suatu masyarakat mempengaruhi perilaku individu-individu di dalamnya.  

 

BAB 3

STRUCTURE, FUNCTION, RECIPROCITY

Ilmuan yang menggunakan pendekatan ini menurut Bohannan dan Glazer antara lain Emile Durkheim, Marcel Mauss, Brownislaw Malinowski, A.R. Redcliffe Brown.

Emile Durkheim memperlihatkan cara kerja positivistik karena melibatkan studi statistik. Ia menitikberatkan pembahasan mengenai solidaritas sosial, situasi dimana orang-orang terikat bersama dalam unit masyarakat. Untuk menerangkan solideritas sosial tersebut ia menggunakan konsep solideritas organik dan kesadaran kolektif. Solideritas organik terjadi pada masyarakat yang plural dimana individu harus saling bekerjasama agar dapat bertahan hidup. Sementara dikenal juga solidaritan mekanik yang terjadi pada masyarakat yang bersifat homogeny dimana anggotanya memiliki rasa yang kuat untuk saling bertukar pengalaman. Solideritas sosial juga dapat diterangkan melalui kesadaran kolektif yang mengekspresikan konsep kebudayaan.

Marcel Mauss  menerangkan tentang klasifikasi primitif yang menunjukan adanya sistem kognisi tentang kelas dan diorganisasikan oleh hirarki. Fungsi klasifikasi itu adalah membuat hubungan dari fenomena yang dimengerti. Klasifikasi juga memperlihatkan adanya hubungan antara konsep dan dasar dari kesatuan pengetahuan. Ia juga menerangkan tentang gift exchange sebagai pabrik sosial yang mengekspresikan aspek sosial, institusi seperti agama, moral, dan ekonomi. Gift exchange  tidak dilakukan karena sukarela tetapi suatu kewajiban sosial.

Brownislaw Malinowski melakukan kerja etnografi dengan langsung hidup bersama masyarakat yang ditelitinya. Ia merupakan pemikir tentang fungsionalisme yang berorientasi pada biologi dan psikologi. Fungsionalisme adalah transformasi kebutuhan individu pada kebutuhan sosial kedua lainnya. Ia membuat kategori-kategori untuk menerangkan fungsionalismenya. Menurutnya manusia memiliki 7 kebutuhan dasar yaitu nutrisi, reproduksi, kenyamanan fisik, keamaanan, relaksasi, pertumbuhan, dan pergerakan. Setiap institusi sosial dan kebudayaan membutuhkan kepuasan. Kebudayaan merupakan alat yang merespon kebutuhan manusia yang selalu beradaptasi.  Institusi sendiri merupakan sekelompok orang yang berkumpul untuk mencapai tujuan.

A.R. Radcliffe Brown mengkombinasikan aspek fungsionalis dan strukturalis. Ia juga mengemukakan posisi metodologi yaitu individu dihitung dan adanya sistem sosial .Ia juga melakukan kategori tentang tiga konsep vital yaitu proses, fungsi, dan struktur. Proses sosial merujuk pada unit aktivitas sosial. Beberapa proses sosial memperlihatkan proses sinkronik dimana perubahan terjadi dengan cepat.  Fungsi merujuk pada hubungan antara proses dan struktur sosial. Struktur merujuk pada organisasi yang mengatur bagian-bagian. Dalam struktur sosial, individu yang berpartisipasi dalam kehidupan sosial menjalankan status dalam jaringan sosial. Jaringan sosial dibuat dari hubungan antarindividu dalam masyarakat yang dikontrol oleh norma dan pola.

 

BAB 4

CULTURAL ECOLOGY AND NEOEVOLUTIONARY THEORY

                Ada empat tokoh yang dinilai mengangkat pendekatan ini antara lain Julian Steward, Leslie A White, Marshall D Sahlins, dan Marvin Haris.

                Julian Steward mendasarkan pemikirannya pada evolusi dan ekologi. Ia membahas tentang evolusi multilineal yang diorganisasi oleh pola-pola pararel dari perkembangan. Ia juga  memperkenalkan tentang tipe kebudayaan yang dibangun dari elemen budaya yang terseleksi dari hubungan antara masalah dan cara berpikir. Tipe budaya itu antara lain feodalisme, despotisme oriental, kelompok patrilineal.  Inti kebudayaan merupakan hasil dari adaptasi manusia terhadap lingkungan dengan kunci penggeraknya: teknologi. Itu sebabnya ia amat perhatian pada metode produksi, pola perilaku manusia, dan hubungan antara teknik produksi dan elemen lain dalam kebudayaan.

                Berbeda dengan Steward, Leslie A White membahas  keterkaitan teknologi dan budaya dari berbagai cara.  Ia berpendapat bahwa penggunaan energi terkait dengan evolusi teknologi. Sejarah peradaban manusia juga didasari oleh  bagaimana sebuah budaya mengendalikan energi dengan menggunakan teknologi. Evolusi budaya dimulai dengan pengendalian energi dengan menggunakan teknologi yang lebih efisien. Pengendalian penggunaan energy tergantung dari ideology dan organisasi sosial. 

                Marshal D Sahlins memandang evolusi biologi dan budaya berjalan pada dua arah dalam waktu yang sama. Evolusi menciptakan perbedaan dan kemajuan. Perbedaan memperlihatkan adanya adaptasi yang membawa perubahan dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Ia memandang adanya evolusi spesifik yang berfokus pada adaptasi dari budaya yang khusus terhadap lingkungan (evolusi budaya). Sementara evolusi general berfokus pada kemajuan yang dicapai masyarakat, bahwa masyarakat dari hari ke hari akan semakin maju dan mencapai evolusi budaya yang lebih tinggi.

                Marvin Harris menerangkan masyarakat melalui pendekatan material  yang kemudian disebutnya sebagai materialisme kebudayaan. Pendekatannya ini tak hanya membahas bagaimana memahami masyarakat tetapi juga bagaimana metodelogi yang digunakan untuk mendapatkan data dan mengolahnya. Ia menggali data secara emik namun menganalisisnya menggunakan pendekatan etik untuk memahami masyarakat. Cara pandangnya adalah watak budaya yang dapat menerangkan bagaimana sebuah masyarakat berevolusi dan beradaptasi. Ia menemukan bahwa alasan-alasan materialisme lah yang mendasari berkembangnya sebuah budaya di masyarakat

 

BAB 5  

SYMBOLS AND STRUCTURES

 

                 Simbol dan struktur dibahas oleh para tokoh antropologi antara lain E.E Evans Pritchard,  Claude Levi Strauss, Victor Turnes, dan Clifford Geertz.

                E.E Evans Pritchard  menggali alasan mengapa antropologi disebut sebagai ilmu dan masyarakat sebagai sitem moral. Ia juga memandang kemanusiaan, tidak hanya budaya, dalam melihat antropologi tidaklah membuat ilmu tersebut kehilangan keilmiahannya. Ia juga memandang bahwa masyarakat yang tidak lagi dikenal di dunia tetap dapat dipelajari dari sejarahnya. Metode sejarah memasuki area antropologi.

                 Pemikiran  Levi Strauss bermakna bagi antropologi sosial. Ia mengungkapkan tentang strukturalisme yang mengandung tiga aspek utama dari pemikirannya antara lain antropologi sosial dan teori aliansi, kognisi manusia dan proses mental, dan aspek structural dari mitologi. Teori aliansi menekankan pada pentingnya perkawinan dalam masyarakat yang bertentangan dengan pentingnya keturunan. Pertukaran perempuan di antara kelompok laki-laki dalam sebuah  masyarakat merupakan hasil dari solideriitas sosial dan kesempatan bagaiman bertahan hidup dalam masyarakat tersebut. Regulasi perkawinan memudahkan model bagaimana perempuan dipertukarkan dengan hadiah, dan lainnya.  Ia juga meneliti tentang incest taboo yang memperlihatkan bagaimana sek dikendalikan oleh budaya. Ia juga menerangkan tentang proses mental yang berasal dari otak manusia dan bagaimana hal tersebut berfungsi.  Proses mental ini berpararel dengan penjelasannya tentang mite. Dari sini dibahas adanya regulasi terstruktur namun tak disadari dari pikiran manusia. Dengan karakteristik structural itu sebuah mite bisa dikomparasikan dengan yang lain. Analisis strukturalis pada mite memungkinkan reduksi pada material menuju proporsi yang mudah diatur sebagai hasil pemahaman yang dihasilkan dari penggunaan strukturalis tersebut dalam mengungkap cerita yang berkembang dalam masyarakat. Tanpa reduksi material, analisis tentang mite menjadi sulit. Strauss juga berpendapat bahwa struktur tidak secara konkret dimanifestasikan dalam realitas. Struktur adalah model kognitif dari realitas.Mental struktur pada manusia modern maupun primitif disadari atau tidak disadari membantunya menjalani kehidupan sehari-hari. Struktur mental menjadi dasar bagi keuniversalan manusia dan orientasi perilakunya.

                Jika Durkheim mengangkat Solideritas dan Spencer mengusung Superorganik dalam membahas struktur sosial, Victor Turner menggunakan istilah liminalitas dan komunitas untuk mengupas hubungan antara individu dan struktur sosial. Ia bergerak dari pemikiran tentang ritual kematian yang menyimpan alasan ritual. Ritual kematian mengandung tiga proses antara lain pemisahan individu dari kehidupan sosialnya, limen atau keadaan akhir kehidupan, dan berkumpulnya kembali individu dengan status baru. Liminalitas merupakan tahap dimana manusia menghadapi pengalaman ditinggal anggota lainnya melalui ritual kematian dan pengalaman inilah yang menurut Turner membangun komunitas. Jika Merton mengatakan bahwa struktur sosial adalah pengaturan pola-pola maka hal tersebut dapat diterangkan melalui keberadaan komunitas. Aksi sosial dilakukan untuk meraih target utopis. Seseorang yang masih hidup memiliki status di masyarakat namun statusnya hilang jika ia melewati kematian. Hal ini dipelajari dari liminitas. Ia juga menerangkan tentang structural dan ideologi yang menjadi jalan tengah dalam proses. Ia juga menekankan bahwa tanpa kebudayaan struktur sosial tidak dapat dipraktekan.

                 Clifford Greetz membawa kita pada metode etnografi dan bagaiman berpikir antropologis. Budaya hanya dapat dimengerti dengan menggunakan istilah dari kebudayaan pemiliknya karena dalam istilah tersebut terkandung kekayaan nuansa, kekayaan makna, dan kompleksitas. Antroplog berupaya untuk memperlihatkan citra mental komunitas. Kebudayaan dapat dimengerti melalui teori besar yang ditemukan dalam masalah khusus di lapangan. Ia mengupas kebudayaan melalui cara pandang semiotika. Itu sebabnya ia menggali makna yang terkandung dalam ekspresi kebudayaan masyarakat menggunakan interpretasi yang kemudian disebut Thick Description. Thick description menggambarkan berbagai fakta mengenai berbagai aspek perilaku manusia yang memperlihatkan makna. Perilaku adalah pergerakan tubuh yang terdiri dari sejumlah  hal bermakna. Perilaku manusia memperlihatkan berbagai variasi makna. Mendalaminya membuat etnografer mampu melihat konsep budaya pada masyarakat tersebut.

~ oleh warungminum pada September 13, 2009.

Satu Tanggapan to “Ringkasan Buku High Point”

  1. kirimin kelebihan dan kelemahan teori A.R. Radcliffe Brown vs Brownislaw Malinowski, secepatnya butuh banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: