RUMAH-RUMAH YANG TERTUTUP

 

 

                Kabupaten Bogor cepat berubah. Salah satunya Kecamatan Dramaga, tempat saya dibesarkan. Setiap tahun ada saja kompleks  perumahan yang dibangun di lahan-lahan yang dulu merupakan persawahan luas. Sawah tak hanya berubah jadi rumah, tetapi jadi jalan-jalan besar, pertokoan, terminal angkutan kota, kantor-kantor, sekolah, dan pabrik-pabrik baru. Desa-desa makin padat bukan saja oleh anak cucu penduduk asli yang terus beranak pinak, tetapi oleh para pendatang yang merupakan korban penggusuran tanah di ibu kota.

                Kehidupan di Kecamatan Dramaga seperti berlari hingga meninggalkan wilayah itu sekejap membuat saya hampir tak mengenali daerah itu lagi. Kehidupan di sana tidak lagi berciri daerah pertanian yang baik untuk menanam padi, kacang-kacangan, buncis, mentimun, dan ditumbuhi banyak pohon buah-buahan yang sebagian besar kini menjadi buah yang langka diperdagangkan, seperti buah huni, lobi-lobi, kecapi, rendang, dan kupa.

Ngomong-ngomong soal buah, sebagai gambaran, buah kecapi adalah buah berserat tinggi dengan kulit buah agak berbulu halus seperti beludru, berwarna hijau (ketika muda) dan kuning (setelah matang). Daging buahnya berwarna putih, terbagi beberapa biji yang dapat dihisap air buahnya yang manis keasaman. Sekilas daging buah dan bijinya mirip dengan buah manggis. Sementara itu buah huni, rendang, lobi-lobi, dan kupa adalah buah bulat yang memiliki kemiripan satu sama lain. Buah-buah itu asam dan kesat saat masih muda namun menjadi asam-asam manis setelah matang. Semua buah memiliki biji. Buah huni adalah buah lonjong kecil seukuran mutiara yang berwarna krem saat mentah dan ketika berangsur menjadi matang warnanya berubah menjadi merah, dan ungu setelah betul-betul matang.  Buah rendang pun demikian, tetapi ukuran buah rendang lebih besar dari buah huni. Ukurannya sebesar kelereng namun lonjong. Sementara buah lobi-lobi berwarna merah saat matang dan berbentuk bulat seperti kelereng. Buah kupa lebih besar lagi dari buah rendang, berwarna ungu. Semua buah biasa dijadikan salah satu bahan rujak.

Kini wilayah tersebut juga tidak berciri swadaya dengan keahlian vernacular. Di masa lalu untuk membuat langgar atau mesjid kecil untuk shalat berjamaah dan anak-anak belajar mengaji, masyarakat berkumpul dan membangun secara bergotong royong. Kini untuk memperbaiki mesjid, petugas rukun tetangga akan menagih sumbangan uang pada setiap rumah atau memasang tong di tengah jalan dan menugaskan anak-anak untuk “menjaring” uang sumbangan dari kendaraan yang lewat dengan kalimat pengantar yang amat khas dan saya hapal betul karena hampir setiap hari terdengar selama nyaris setahun. Kalimat “undangan” menyumbang itu begini bunyinya: “Mohon diperlambat, Pak, laju kendaraannya. Barangkali bapak atau penumpang bapak ingin memberikan amal jariyahnya guna pembangunan  mesjid Nurul Islam.”

                Tidak seperti pada masyarakat primitif dan vernacular yang berswadaya membangun rumah dan bangunan, pada masyarakat urban, keterampilan membangun rumah adalah modal jasa yang bisa dijual. Karena makin berkembangnya sisi ekonomi dalam pembangunan rumah dan makin sedikitnya waktu senggang yang dimiliki anggota masyarakat,  pembangunan fasilitas publik diserahkan pada ahli pembangunan rumah dengan biaya yang ditanggung anggota masyarakat. Ciri-ciri masyarakat industrial dengan konsumerismenya yang terus berkembang.

 Di tahun 1980-an kehidupan pertanian di Ciherang, salah satu desa di Kecamatan Dramaga, masih sangat kental. Kakek saya dari ibu adalah salah satu petani. Saya masih ingat, di masa kecil, sebagian besar  orang seangkatan kakek saya adalah petani. Menurut ibuku, ketika musim panen padi tiba, di rumah kakek dan nenek biasanya berkumpul banyak tetangga yang usianya di bawah kakek dan nenek. Mereka adalah datang untuk membantu kakek dan nenek panen padi. Buruh tani yang membantu kakek biasanya orang yang sama dari setiap masa panen. Begitu juga saat kakek panen sayur mayur, kakek dan nenek akan sibuk menempatkan sayur mayur pada bakul-bakul (wadah agak kotak dari anyaman bambu) untuk dibagikan pada tetangga. Kakek dan nenek juga sering mendapatkan kiriman sayur dari tetangga lain yang sedang panen.  Pada masyarakat petani, hubungan antara manusia erat. Rumah dibangun dengan ruang-ruang yang memungkinkan mereka berkumpul dengan tetangganya.  The idea of the house as a social control mechanism. Creation of the ideal environment is expressed through the specific organization of space and is closely related to the concept of the ethnic domain (1969: hal. 49)  

Menyantap makanan bekas arwah

                Menurut Amos Rapoport, house types easily to understood if viewed as expressiona of ideal environments reflecting different world views and ways of life (1969: hal, 49). Rumah-rumah di petani sebagian besar terbuat dari tembok dengan halaman luas.  Menurut ibu, sebelum saya lahir, halaman itu digunakan sebagai lahan penjemuran padi. Ketika padi sudah kering, di para buruh tani dan nenek menumbuk padi.

Saya tidak pernah menyaksikan kegiatan mereka sebab lahan tanah untuk penjemuran tersebut sudah berubah jadi jalan yang makin hari makin lebar.  Tetapi kakek dan beberapa petani di desanya masih memiliki rumah dengan teras yang luas. Luas terasnya bahkan setara dengan luas ruang tamunya. Setiap sore, sambil menghisap tembakau yang dibungkus daun kawung kering berwarna krem, kakek mengobrol dengan tetangga lainnya. Biasanya mereka membicarakan soal perkembangan pertanian, hama, pupuk, keluarga, atau aktivitas di mesjid desa.

                Meskipun kakek shalat di mesjid, tetapi kakek dan nenek masih rutin melakukan hadiah puji pada leluhur dengan ritual yang khas. Hadiah puji merupakan ekspresi rasa syukur karena tetap di beri rezeki salah satunya dari hasil pertanian. Rasa syukur dipersembahkan pada Tuhan dan kesejahteraan yang didapat oleh manusia dihadiahkan pada leluhur yang sudah meninggal karena dianggap berjasa dalam memberikan keterampilan bertahan hidup, salah satunya melalui pertanian.  Mereka berharap dengan mengekspresikan rasa syukur, alam akan tetap subur, dan manusia akan tetap sejahetra. Ritual ini memperlihatkan keharmonisan manusia dan alamnya. For primitive man and peasant people, the relation of man with nature, and hence with landscape and site, is personal. The primary  world view is of harmony with nature (Rapoport, 1969: hal.75).

Ritual hadiah puji dilaksanakan setiap Kamis malam.  Pada Kamis sore, nenek mengisi cangkir-cangkir kecil dengan tujuh macam rujak buah. Saya sering membantu membuatkannya. Buah yang selalu ada antara lain, selasih, honje, dan pisang batu. Buah lain bisa apa saja sesuai dengan musim buah saat itu. Biasanya nanas, jambu air, jambu klutuk, pepaya, atau bengkuang. Nenek juga menyediakan kopi pahit dan manis, lalu memberi teh manis dan pahit, bubur merah dan putih, tujuh macam camilan, serta tujuh macam bunga, serta dupa dengan kemenyan bakar. Keperluan sesajian itu mudah didapat di pasar tradisional dekat rumah karena masih banyak penjualnya. Salah satu langganan keluarga saya  membeli sesajian tersebut adalah pedagang cina. Nenek menyebut para pedagang yang menjual keperluan sesajian itu sebagai pedagang rurujakan.

                Sesajian disimpan menjelang magrib di gua atau pandaringan atau pangbeasan, yaitu bagian rumah tempat menyimpan beras, bibit jagung, dan keperluan dan hasil pertanian lain yang berada di belakang terhubung dengan dapur.  Pangbeasan merupakan tempat yang penting bagi petani seperti kakek karena di sana ia melaksanakan ritual mengungkapkan rasa syukur. Hal ini seperti yang diungkapkan Rapoport bahwa masyarakat primitif dan petani memiliki ritual upacara yang lebih banyak dan direfleksikan pada bangunan/rumah mereka. In many cases what distinguishes these people from each other is not their material life, but their ceremonial. This is inevitably reflected in their buildings (1969, hal. 43)

Ketika usai shalat magrib dan isya, kakek akan masuk ke pangbeasan untuk mengaji berbagai surat dari alquran, dan wirid (memuji nama Tuhan). Setelah selesai, sekitar setengah jam, kakek keluar. Kakek tidak memperbolehkan saya dan anggota keluarga lainnya mengambil berbagai jenis rujakan karena ia meyakini para leluhur yang sudah meninggal sedang datang untuk bersantap. Kakek baru mengizinkan kami menyantap sesajian setelah lebih dari satu jam ia keluar dari pangbeasan dengan alasan leluhur sudah kenyang makan. Jadi bisa dikatakan, setiap minggu saya dan saudara-saudara kandung menyantap hidangan bekas arwah.  Rasa rujaknya unik dan tidak bisa ditemukan di tempat lain kecuali jika sedang melaksanakan ritual itu.

Keakraban kakek sebagai petani dengan lingkungannya amat lekat. Ketika membaca cerita pendek berjudul Bung Kim di Kampung Kami  dalam buku Kumpulan Cerita Pendek Korea berjudul Laut dan Kupu-Kupu, penulisnya Lee Moon Goo menuliskan tentang kehidupan agraris di Korea selatan yang mirip dengan kehidupan pertanian di Indonesia. Tokoh Kim dalam cerita itu selalu dikirimi sujebi, makanan siang, oleh istrinya. Mereka akan makan siang bersama sambil bercanda di pematang sawah  yang beberapa di antaranya ditumbuhi pohon poplar, sejenis pohon randu.

Membaca cerita pendek tersebut, saya jadi ingat nenek saya yang setiap siang membawakan rantangan atau makanan berupa nasi dan lauk-pauk yang ditaruh di rantang untuk disantap dengan kakek di kebun di dekat sawah. Kadang saya ikut mengantarkan rantangan melewati pematang yang di sisinya diteduhi pohon randu yang menjatuhkan buah yang retak dan berisi kapuk ringan yang melayang-layang jika tertiup angin. Saya, kakek, dan nenek makan di kebun yang berisi rumpun bambu dan berbagai pohon buah. Kakek dan petani lain sengaja menyisakan kebun di tengah sawah-sawahnya sebagai “pabrik” penghasil humus dan lahan peresap air sehingga ia tidak perlu menggunakan pupuk kimia sintetis terlalu banyak, kesuburan tanahnya tetap terjaga, serta selalu ada air yang membasahi pesawahan meskipun sedang musim kemarau.

Teras makin sunyi

Makin tua, kakek makin jarang duduk di teras rumah dan kedatangan tetangga. Padahal dulu di sore hari kenalan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah pun sering datang. Bisa jadi karena mereka semakin tua sehingga kesehatannya tidak memadai lagi untuk berpergian sekedar bertandang ke rumah tetangga. Beberapa di antaranya sudah meninggal dunia.

Kakek dan petani lainnya menyekolahkan anak-anak mereka. Banyak generasi setelah kakek tidak lagi menjadi petani, tetapi bekerja sebagai pegawai kantor atau birokrat, seperti ibu saya yang memilih menjadi guru. Kakak ibu yang tertua, lelaki satu-satunya di keluarga, juga bekerja sebagai ahli di sebuah pabrik ban di Bogor.  Ia menjadi petani setelah pensiun. Mereka hidup terikat oleh waktu kerjanya. Praktis ketika sampai di rumah mereka memfokuskan diri dengan pekerjaan domestik. Tidak ada lagi kegiatan bertetangga meskipun tetangga terdekat sesungguhnya masih satu keluarga, semisal sepupu ibu atau saudara kandung. Semua orang sibuk bekerja bahkan beberapa ada yang harus melaju ke luar kota setiap hari. Teras-teras rumah menjadi sunyi. Ruang tamu hanya dikunjungi orang saat Lebaran.

Ibu tidak rutin lagi menyelenggarakan ritual  hadiah puji dengan menyediakan sesajian. Menurut ibu, hadiah puji  bisa dilakukan seusai shalat tanpa sesajian sehingga lebih praktis. Ibu hanya sesekali saja menyajikan sesajian jika sedang tak banyak pekerjaan rumah yang menuntut perhatiannya. Itu dilakukan bukan karena yakin bahwa leluhur akan datang makan sajian, tetapi lebih karena tidak ingin mengecewakan kakek. Seringkali kakek menanyakan apakah minggu ini aka nada hadiah puji. Begitulah, kakek saya masih sosok tradisional, dan ibu sudah berubah menjadi sosok masyarakat urban yang simpel dan efisien.   

Setelah kakek meninggal, sawah dan kebun digarap oleh buruh tani dengan sistem bagi hasil. Saat panen tiba, tidak seperti dulu dimana kakek membagikan berbakul-bakul sayur pada tetangga, ibu kedatangan buruh taninya yang biasanya memberikan satu karung mentimun atau hasil tani lainnya sebagai bagian dari ibu. Sawah tidak menghasilkan keuntungan yang besar selain hanya sebuah hiburan dikirimi sayur langsung dari kebun. Ibu bilang, “Dulu panen bisa jadi emas, kini cuma bisa bikin gemas” karena makin hari hasil yang dikirim makin sedikit, bahkan tidak menghasilkan sama sekali karena buruh tani mengaku merugi, sementara untuk mengecek ke lahan pertanian ibu dan bapak tak sempat melakukannya.

Sebaliknya, setelah kakek dan nenek meninggal, ibu makin sering didatangi tamu tak dikenal yang menanyakan apakah mereka hendak menjual sawah dan kebunnya. Para tamu merupakan orang Jakarta yang butuh lahan untuk membangun rumah, ada juga yang berprofesi makelar.  Makin hari, di awal tahun 1990-an, makin banyak orang Jakarta yang tinggal di lingkungan tempat tinggal kami. Mereka berbicara dengan logat betawi dan sering berteriak-teriak. Mereka tinggal di rumah kontrakan atau membangun rumah di lahan-lahan yang dulunya kebun atau sawah. 

Di sekitar rumah kami banyak rumah tua yang kosong karena pemiliknya sudah meninggal sementara anak-anaknya menetap di luar  kota karena pekerjaan. Rumah-rumah kosong itu dikontrakan pada orang-orang Jakarta. Ketika jumlah pendatang makin banyak, banyak orang sengaja membuat rumah-rumah kecil untuk dikontrakan pada pendatang yang berprofesi sebagai tukang bangunan, pedagang bakso, pedagang mainan anak, pemilik toko, dan pegawai pabrik.

Pagar ditinggikan, ruang tamu dipersempit

                Jumlah pendatang makin banyak, bahkan membludak. Saya dan keluarga bahkan lebih sering tidak mengenali orang yang lalu lalang di depan  kami.  Rumah kakek tak lagi nyaman. Apalagi rumah kami berada di pinggir jalan yang memungkinkan mobilitas orang lebih tinggi. Kadang orang menunggu kendaraan di halaman belakang kami.

                Karena rasa tak aman itu, orangtua kami mencoba “menghalau” orang-orang yang tak kami kenal dari halaman rumah dengan cara mempertegas teritori kami. Halaman belakang yang awalnya terbuka dan langsung berhadapan dengan jalan dipagari tembok setinggi dua meter. Halaman depan yang awalnya hanya berpagar tembok setinggi setengah meter yang kadang dipakai untuk duduk-duduk saudara yang berkunjung saat Lebaran, diganti pagar besi setinggi dua meter.  

                Tahun-tahun berikutnya, teras kami yang dinilai terlalu luas disempitkan sehingga hanya menyisakan sumur dan lahan berpohon bunga nusa indah, dadap, kelor, dan saga, serta halaman berlantai tegel dan garasi. Sumur dan pepohonan tetap dipertahankan untuk mengamankan rumah dari pandangan orang luar langsung ke dalam rumah, juga untuk menghalangi polusi udara dari kendaraan yang 24 jam melintas, serta meredam suara kendaran. Kini di muka rumah sering terjadi kemacetan pada waku berangkat kerja dan sekolah, serta jam-jam pulang sekolah dan pulang kerja.  Di luar waktu itu, kendaraan melaju kencang sehingga kami khawatir jika keponakan kami harus menyeberang sendiri di jalanan. Jika malam tiba, kami seperti tengah tidur sambil digilas kendaraan karena suara kendaraan yang begitu dekat. Jarak jalan dengan rumah kamar terdekat kami hanya sekitar enam meter.  Jalan yang dulu bertrotoar kini hilang trotoarnya dengan dalih pelebaran jalan. Kami ngeri jika harus berjalan di pinggir jalan menuju rumah uwa (paman) di samping rumah.

                Kami nyaris tak pernah bertetangga, tetangga pun tak lagi berkunjung. Itu sebabnya ruang tamu kami yang awalnya seluas sekitar 20 meter persegi sehingga bisa diisi tiga set kursi tamu, kini tinggal enam meter persegi dengan satu set kursi tamu yang jarang diduduki orang. Bahkan ketika Lebaran tiba, hanya keluarga inti saja yang duduk di sana, karena banyak tetangga yang justru mudik. Di masa Lebaran itu kami menemukan lagi tetangga-tetangga lama, di masa kecil saya dulu. Tetapi karena kami sudah bertahun-tahun tidak saling sapa, interaksi antara kami tidak lagi menanyakan kabar berita, tetapi hanya saling tersenyum dan mengangguk saja, seolah-olah kami semua sudah tahu apa yang terjadi selama kami tidak bertemu, atau memang di antara kami sudah tidak ada rasa ingin tahu satu sama lain.  

                Setelah ruang tamu dipersempit, kami membuat ruang keluarga yang lebih besar, menyatu dengan ruang makan. Dampak yang sering kami rasakan dengan makin menyempitnya ruang tamu dan makin melebarnya ruang keluarga adalah, kami menjadi kikuk jika tiba—tiba kedatangan tamu dalam jumlah lebih dari enam orang, misalnya saat ada prosesi lamaran pernikahan pada  anggota keluarga kami.  Kekikukan terjadi disebabkan ruang tamu kami  tak mampu menampung tamu untuk duduk dengan nyaman. Terpaksalah kami semua libur menonton televise dan mengobrol di rumah jika ada tamu dalam jumlah besar sebab ruang keluarga kami disulap jadi ruang tamu sementara.

                Pangbeasan yang saat kakek masih hidup merupakan tempat yang penting di rumah tersebut juga diubah ibu menjadi kamar kakak. Kami menyimpan beras di dapur. Semua bahan makanan tidak ada yang langsung di dapat dari lahan pertanian kami. Tetapi kami beli dari supermarket dan disimpan di kulkas.  Begitulah, houses being the direct expression of changing values, image, perceptions, dan way of life (Rapoport, 1969: hal. 12).

Keramaian menjelang Subuh

                Rumah kami menghadap jalan dan di steras samping kirinya berbatasan dengan gang. Terus terang selama 10 tahun belakangan ini saya hanya pernah berjalan di gang tersebut sampai di dua rumah tetangga kami. Selanjutnya saya tidak tahu lagi kondisinya. Ibu sering mengatakan setelah di kelokan gang,  rumah-rumahnya sudah sangat padat bahkan kumuh. Tidak ada lagi halaman rumah Mbah Emid (teman kakek), tempat saya dan kakak main kelereng di bawah pohon belimbingnya yang rindang. Lapangan yang dipagari rumpun bambu tempat saya menyaksikan kakak  main galasin atau gobak sodor sudah lenyap berganti beberapa rumah penduduk baru. Ledeng yang biasa saya pakai membersihkan badan sepulang bermain tidak dipakai lagi karena sekitarnya sudah digunakan tempat penampungan sampah sementara. Pemandian umum tempat para petani membersihkan badan sebelum pulang ke rumah masing-masing tetap dipertahankan karena banyak rumah yang tidak dilengkapi toilet. Mereka mengobrol sambil menunggu giliran mandi. Mereka juga menjadikan warung sayur di gang sebagai tempat ngobrol lainnya.

                Begitu banyaknya pendatang di belakang rumah kami ditandai makin beragamnya aktivitas mereka. Mereka beraktivitas tidak ada habisnya sehingga di gang kami selalu ada suara orang berjalan tergesa-gesa entah karena mau berangkat kerja shift malam atau pulang kerja. Setiap Subuh, jika dahulu hanya suara orang membacakan al-Quran yang terdengar, kini saya sering terbangun karena mendengar suara orang banyak yang saking ramainya seperti berdenging. Salah satu dari tetangga kami berjualan sarapan pagi. Banyak keluarga yang bangun untuk membeli sarapan untuk keluarganya. Selain suara orang yang berbelanja pada malam sebelum Subuh, pada saat yang sama kami juga sering mendengar suara perempuan yang berjalan sambil ngobrol. Jika dilongok dari jendela, mereka adalah para perempuan setengah baya dengan baju seragam. Ada beberapa kelompok perempuan yang pergi bekerja. Ada pegawai pabrik, ada juga pegawai toko. Mereka pergi sebelum Subuh karena menyesuaikan dengan angkutan bis karyawan yang melintas di dekat jalan Negara sekitar setengah kilometer dari rumah saya.  Jarak rumah dan tempat mereka bekerja biasanya lebih dari 10 kilometer dengan hambatan kemacetan jalan sehingga mereka harus berangkat dinihari. Makin siang sedikit kemacetan terjadi karena anak-anak sekolah membludak ke pinggir jalan. Tidak jarang untuk bisa mendapatkan angkutan kota yang kosong saya dan orang-orang yang menunggu harus berjalan setengah kilometer ke jalan Negara yang dilintasi lebih banyak angkutan umum dari berbagai jalur. Bisa juga kami menumpang angkutan kea rah terminal terakhir yang berlawanan arah dengan tujuan kami, lalu ikut kembali dari terminal terakhir ke arah kota melintasi tempat di mana kami menghentikan angkutan umum tersebut.

                Kemacetan di sekitar rumah kami seperti ritual sehingga ibu sampai hapal jam-jam macetnya. Ibu mengatakan kemacetan pada pagi hari terjadi dari pukul 06.00 hingga 07.30. Jadi berangkatlah sebelum pukul 06.00 agar lancer di perjalanan. Jalan lancer kembali dari pukul 07.30 hingga pukul 09.00. Pada pukul 09.00 hingga 10.00 kemacetan terjadi lagi karena banyak ibu rumah tangga dan pedagang makanan di siang hari atau pedagang kelontong berangkat berbelanja ke pasar. Jam macet berikutnya adalah pukul 13.00 hingga pukul 14.00 saat anak-anak masuk kelas. Kemudian jam macet lainnya kemacetan terjadi pada menjelang magrib dan setelah isya saat orang pulang bekerja.

                Khusus di jalan negara, terdapat beberapa pabrik besar yang juga menyumbang jam macet rutin saat pegawainya keluar masuk di saat jadwal pergantian karyawan. Jam macet terjadi pada pukul 12.00, pukul 16.00, pukul 19.00, dan pukul 21.00. Kemacetan juga selalu terjadi di terminal angkutan baru. Ada dua terminal angkutan kota di sana yang jarak keduanya hanya sekitar 500 meter. Terminal itu adalah terminal angkutan kota Laladon dibangun oleh Pemerintah Kota Bogor dan  terminal Bubulak dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. Kecamatan Dramaga adalah kecamatan di Kabupaten Bogor yang berbatasan dengan Kecamatan Margajaya yang berada di wilayah Kota Bogor.  Rumahku berada di wilayah kabupaten dan tetangga ke yang rumahnya terpisah delapan rumah  masuk ke wilayah kota. Di jalan Negara, lahan sebelah kanan dari arah barat ke timur adalah lahan kabupaten, sedangkan lahan sebelah kiri jalan adalah wilayah kota.

                Baik di wilayah kota maupun wilayah kabupaten di sepanjang jalan negara bernama jalan raya Dramaga  dulu dipenuhi oleh sawah yang membentang luas. Tetapi sawah-sawah sudah berubah jadi bangunan beton dan jalan-jalan tembus menuju jalur told an wilayah lain yang tadinya terpisah dan untuk menempuhnya harus berkeliling. Meski jalan-jalan sudah terbuka ke wilayah lain, tetapi waktu tempuh tetap lama karena kemacetan.

Rumah mewah di tengah sawah

Kerinduan pada sawah sepertinya masih bersemayam di benak kami sekeluarga. Orangtua kami tidak pernah membawa kami ke sawah selama beberapa tahun lamanya sehingga kami tidak tahu lagi seperti apa bentuk sawah keluarga kami. Setiap kali ada rencana akan berkunjung ke sawah kakek, kami, anak-anaknya menyambut gembira seperti hendak piknik ke tempat wisata jauh di luar kota. Padahal sawah itu hanya berjarak tak sampai satu kilometer di dari rumah keluarga saya.

Sebuah saya milik ibu, yang dulu kampungnya disebut Lembur Kulon sudah tak lagi sepi. Lembur Kulon atau Dusun Barat seperti pulau di tengah sawah. Dusun tersebut hanya diisi oleh sekitar lima rumah dengan pekarangan padat oleh pohon besar. Di masa kecil saya sering duduk-duduk bersama ibu saat ibu libur kerja untuk menikmati pemandangan sawah sambil bersilaturahmi pada beberapa keluarga yang merupakan buruh tani kakekku. Tetapi saat menyempatkan waktu jalan pagi bersama ibu ke Lembur Kulon. Dusun itu sudah mekar, wilayahnya yang membesar berhasil “menyantap” sawah dan kolam-kolam ikan. Rumah-rumah kecil berdesakan sehingga orang memandikan anaknya di gang.

Di Lembur Kulon tak hanya terdengar obrolan berbahasa Sunda yang halus seperti dulu. Tetapi di gang-gang padatnya, percakapan dalam bahasa Indonesia dengan berbagai dialek sudah jadi bunyi-bunyian yang lumrah. Saya juga menyempatkan menyeberang sungai Ciapus yang memisahkan rumah keluarga saya dan sawah kakek lainnya. Pesawahan yang dulu banyak memiliki lahan kebun di tengah sawah kini berubah rupa. Sebuah rumah mewah bertingkat berdiri di sana. Kebun-kebuh berisi pohon huni dan duku hilang tak bersisa. Tinggal sawah-sawah keluarga tertentu saja yang masih tetap ada. Kami sering mendengar sawah-sawah itu akan segera digusur karena akan dibangun jalan baru yang lebar untuk menghubungkan wilayah kami lebih dekat ke jalan tol menuju ibu kota dan provinsi Banten.

Satpam semakin banyak

                Hiruk pikuk di lingkungan rumah membuat rumah tak lagi sebagai tempat yang menyenangkan, tetapi hanya sebagai tempat singgah untuk tidur. Kami menghabiskan banyak waktu di sekolah, tempat bekerja, dan perjalanan. Sepertinya makin banyak pula orang yang meninggalkan rumah dan pergi ke rumah “kedua” untuk beristirahat seperti kafe, pub, dan rumah bilyard. Bangunan-bangunan itu mulai tumbuh di sekitar rumah kami. Keluarga saya mencoba menghindar dari hiruk pikuk itu dengan membeli rumah lain di sebuah kompleks perumahan. Dua setengah tahun lalu saat awal memiliki rumah tersebut, rumah kami berada di kompleks rumah yang tidak terlalu tertutup. Kami datang ke rumah tersebut di akhir minggu untuk tidur siang atau berkebun di akhir minggu. 

                Setahun lalu, setelah lama tidak mendatangi rumah tersebut karena kesibukan, kami dikejutkan dengan perubahan di sekitar rumah kami. Blok rumah kami dipisahkan dengan pintu gerbang besi yang tinggi dari rumah lainnya di kompleks itu. Di sisi pintu gerbang terdapat pos satpam yang berukuran 1 x 1 meter. Ada lima satpam ditugaskan berjaga di sana. Untuk memasuki rumah keluarga, kami perlu melewati gerbang tersebut.

                Dari ibu saya, saya mendapatkan informasi bahwa karena permintaan dari konsumen cukup banyak terhadap rumah tipe cluster, maka blok kami dikembangkan dari tipe biasa menjadi tipe cluster. Di blok cluster tersebut hanya terdapat sekitar 20 rumah . Sebagian besar rumah dihuni pasangan suami istri yang memiliki anak balita yang diasuh pembantu. Rumah-rumah di blok tersebut awalnya dirancang tanpa pagar. Tetapi sebagian besar keluarga mengubahnya dengan menambahkan pagar. Kemungkinan untuk lebih mengamankan rumah mereka meski satpam yang bertugas sudah cukup banyak.

                Kompleks tersebut amat sepi. Hanya pada Sabtu dan Minggu terdengar suara anak-anak dan orang tua dari  berbagai rumah. Karena, pada hari-hari tersebut banyak orang tua libur kerja. Di hari-hari kerja hanya pedagang makanan seperti roti dan buah melintas menjajakan dagangannya. Tetapi jarang sekali orang yang membuka pintu dan berbelanja. Meski kadang terdengar suara televisi dari rumah-rumah tetangga, pagar-pagar rumah dikunci rapat.

                Di sore hari, anak-anak keluar main didammpingi pembantunya. Mereka main sambil makan sore. Anak-anak biasanya berkumpul dengan teman sebayanya sambil mengayuh sepeda. Sementara para pembantu duduk, di bak tanaman rumah keluarga kami yang berada di luar pagar. Bak tanaman itu menampung sekitar empat orang dewasa. Ada saja yang mereka obrolkan, antara lain soal kampung halaman mereka. Selanjutnya hingga malam makin larut blok itu sepi kembali. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang masuk kompleks. Melewati tengah malam, suara kendaraan berubah menjadi suara lampu jalan yang dipukul-pukul tanda satpam sedang patrol pada pukul 24.00, 02.00 dan 04.00. Saat saya buka jendela esok harinya, rumah-rumah itu masih juga tertutup dan akan terus tertutup sepanjang hari.  (Yenti Aprianti, 2008)

~ oleh warungminum pada September 13, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: