Mengenal Tenun Ikat Tapis Inuh Kalianda

Selagi membenahi buku, saya menemukan lagi brosur-brosur yang saya kumpulkan.Salah satunya brosur yang diproduksi oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lampung Selatan berisi tentang sejarah kain tenun inuh. Brosur ini saya dapat sewaktu saya mampir iseng ke kantor Dekranasda tersebut sehabis menonton gerhana matahari cincin di Universitas Lampung Selatan pada 26 Januari 2009 dan hendak pulang kembali ke Bandung pada keesokan harinya .  Sewaktu saya baca lagi brosur ini, saya kiraisinya  sangat menarik. Saya tulis ulang brosur tadi, siapa tahu ada yang membutuhkan informasi di dalamnya.

Lampung memiliki dua kelompok masyarakat  adat yaitu yang beradat Papadun dan Saibatin. Setiap adat memiliki kerajinan tenun sebagai cirinya. Orang Papadun menggunakan kain tapis, sementara orang Saibatin menggunakan kain kapal dan kain inuh dalam aktivitas adat istiadatnya.

Berdasarkan keterangan Van Der Hoop, masyarakat Lampung mengenal tenun sejak abad ke 12 SM. Kain tenunnya berupa sistem kait dan kunci. Sementara itu sejarawan Robyin dan John Maxel memperkirakan kerajinan tenun menggunakan kapas baru dperkenalkan pedagang asing yang singgah di Lampung pada abad ke-7.

Kain inuh merupakan kain khas masyarakat pesisir. Ragam hiasnya dipenuhi hiasan gelombang, makhluk-makhluk air seperti teripang, tunas sulur daun. Ragam hias menyimbolkan kesuburan dan geneologis. Makhluk air kecil dalam tubuhnya symbol dari generasi baru yang akan lahir, dan pucuk daun dengan untaian ekor menggambarkan penyebaran benih kehidupan baru.

Selanjutnya Robert J Holmgreen dan Anita E Spertus dalam buku Early Indonesian Textiles mengatakan kain inuh merepresentasikan kelompok tapis baru yang mengagumkan, jenis ini dikarakteristikan dengan sebuah tenunan sentral (padahal biasanya tapis memiliki dua jalur pinggir) dan panel ikat dengan kapal yang agung atau abstraksi burgundy. Tenunan berliku-liku kecil menghiasi keliman. Pinggang ikonografi tenunannnya termasuk antropomorfis yang luas, mewah, dan bertautan dengan format yang canggung. Berbeda dengan motiof biasa yang menggunakan motif kapal, pohon, dan stik figur.

Kain Inuh sempat tak dibuat lagi.Namun beberapa tahun ini Dekranasda Kabupaten Lampung Selatan telah berupaya mengembalikan lagi kain ini dengan membentuk unit usaha tenun ikat inuh bekerja sama dengan perajin yang memahami filosofi dan proses produksi kain inuh. Saya sempat berkunjung ke workshop kain inuh di belakang gedung Dekranasda. Di sana seluruh proses pembuatan tenun ikat dipertunjukan. Di kantor Dekranasda bagian depan, pengunjung yang berminat membeli kain tenun inuh juga bisa berbelanja di tokonya. Tenun inuh dijual dalam bentuk kain maupun digunakan dalam berbagai kerajinan lain seperti tas, dompet, dan lainnya.

Kantor dan workshop Dekranasda lampung ini pinggir dengan jalan raya, tepatnya di Jalan Soekarno Hatta Kalianda, kode Pos 35513 atau bisa dihubungi di no telp 0727 32317. Ayo mampir kalau penasaran….

 

 

#MENERIMA PENERJEMAHAN TEKS DALAM BAHASA INGGRIS KE BAHASA INDONESIA. SMS ke 085691181038#

~ oleh warungminum pada Agustus 21, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: