Membangun Merek di Internet

 

Tadi malam, anak saya meminta agar lagu pengantar tidurnya diganti dengan lagu dari sebuah iklan mi instan. “Dari dan bagi…Indonesiaaaaa,” begitu dia menyanyikan salah satu lirik dari lagu tersebut. Lagu daerah berjudul Lisoi yang kembali dipopulerkan oleh Seringai, turun pamornya sebagai lagu pengantar tidur anak saya sejak malam itu.

Anak saya yang baru berusia tiga tahun ini mudah betul menghapal iklan-iklan di televisi. Suatu ketika, dia tiba-tiba berkata, ”Aku malu. Punya ibu putih, ” atau dia akan berseru, “Kakak bisa kancingin baju sendiri ya, Bu!” saat melihat kardus merah sebuah susu formula.

Betapa mudahnya iklan televisi memasuki memori kita. Kebanyakan dari kita  mudaaah sekali mengingat iklan-iklan di televisi. Kondisi yang jauh berbeda terjadi dengan iklan-iklan di internet. Apakah Anda ingat iklan di internet yang Anda lihat terakhir kali “berselancar”?

Pakar aja Bingung
Perkara beriklan di internet ini pernah juga loh bikin bingung para pakar pemasaran. Sampai-sampai mereka membuat sebuah pertemuan di tahun 1998. Pertemuan yang diselenggarakan di kantor pusat Procter & Gamble (P&G) yang berada di Cincinnati ini dihadiri lebih dari 400 orang eksekutif dari perusahaan internet seperti Agency.com dan America Online, serta eksekutif dari perusahaan barang-barang kemasan, antara lain Kraft dan Unilever. Mereka membahas masalah bagaimana membangun merek di internet.

Dari pertemuan tersebut diketahui bahwa beberapa format iklan di internet tidak efektif. Format iklan internet yang paling umum adalah iklan spanduk dan sisipan. Iklan spanduk adalah iklan persegi yang yang kecil yang jika di-klik akan memberikan informasi yang lebih lengkap. Survei Jupiter Communication menemukan bahwa 21 persen pengguna internet yang disurvei tidak pernah meng-klik iklan tersebut. Sementara sebanyak 51 persen pernah mengklik, tetapi jarang. Sementara iklan sisipan adalah iklan yang berkedip-kedip dalam browser window. Ih ini sih, format iklan paling menyebalkan, bukan? Hehe…Alih-alih menarik orang untuk mengetahui produk, iklan yang berkedip-kedip ini terbukti telah menganggu kebanyakan konsumen.

Dunia yang ribut bin ribet
Lantas kenapa ya, beriklan di internet nih kesannya syusyah gitu ya? Penyebabnya, karena di dunia maya orang-orang “sibuk sendiri” dengan tujuan-tujuannya. Di internet, seolah-olah jutaan pembicaraan pribadi sedang berlangsung. Ada yang lagi curhat-curhatan soal pengasuhan anak, ada yang sedang bingung mencari cara membasmi jerawat, ada yang sedang berdiskusi soal beasiswa di luar negeri, ada yang asyik masyuk ngomongin sejarah gedung-gedung tua di sekitar Bandung, ada yang sedang berusaha keras menarik simpati lawan jenis, ada yang sibuk jualan sprei atau jasa permak wajah, dan lain-lain. Kalau dibayangin…aduh…ribut bin ribet yaaaa…bisa-bisa kita kayak robot kehabisan baterai kalau mau merebut perhatian mereka.

Situasi ini beda sekali dengan ketika jutaan orang menyempatkan diri secara khusus, tidak mau diganggu bahkan oleh dering telepon sekalipun ketika menyaksikan konser Agnez Monica di televisi atau rame-rame nonton Piala Dunia.

Tawarkan bantuan
Dalam dunia digital, konsumenlah yang memagang kendali. Memasang iklan lebar-lebar dan kaya akan informasi, bisa-bisa malah bikin konsumen “balik badan” dan mencari situs lainnya yang lebih nyaman. Penjelajah internet memilih produk hanya berdasarkan nilai riil, bukan sesuatu yang tak berwujud seperti merek. Itu sebabnya banyak perusahaan masih membangun mereknya di luar internet.

Meski begitu, bukan berarti perusahaan tidak dapat membangun merek di internet. Banyak juga yang telah berhasil dan biasanya perusahan yang populer di dunia maya adalah perusahaan-perusahaan yang memahami akan nilai riil yang diinginkan. Intinya, untuk membangun merek di dunia maya, perusahaan harus mampu memberi pengalaman dan jasa online yang baik. Mysimon.com misalnya menawarkan panduan pembelian online secara gratis yang memungkinkan pengguna membandingkan ciri dan harga produk lebih dari 2.000 toko online.

Di internet yang berkembang adalah rational branding, dimana perusahaan harus setulus hati memberikan bantuan dengan sesedikit mungkin kata-kata yang berlebihan. Tidak ada lagi jutaan kecap nomor satu di internet, yang ada hanya kecap-kecap yang mampu memberikan resep membuat menu masakan keluarga menjadi sangat lezat, bergizi, dan membangkitkan selera makan hanya dengan melihat dan mencium masakan.

Dalam menjalankan rational branding ini, Pampers misalnya, pernah mengganti pampers.com menjadi Pampers Parenting Institute yang menjawab berbagai masalah orang tua dan calon orang tua. Tawarkan bantuan lebih banyak, produk anda akan diingat lebih banyak orang. (Yenti Aprianti, Bogor 29 September 2012)

Sumber: Philip Kotler dalam Manajemen Pemasaran (2005, hal: 93) yang mengutip Jeffrey O’Brien “Web Advertising and the Branding Mission” Upside (September 1998): 90-94; Don Tapscott “Net Culture Reshapes Brand Opportunities,” Advertisinbg Age 10 Nov 1997, Saul Hansell “Selling Soap Without The Soap Operas” Mass Marketer Seek Ways to Build Brands on the Web, New York Times, 24 Agustus 1998, hal D1; Ellen Neuborne, “Branding on the Net,” BusinessWeek, 9 November 1998, hal 76 – 86.

 

~ oleh warungminum pada Oktober 4, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: