Pemilikan Tanah di Indonesia

tanah milik

 

Gara-gara lihat iklan jual tanah di koran, saya jadi sering bertanya-tanya, siapaaaaa sih yang awalnya punya ide kalau tanah bisa dimiliki dan dijual atas nama pribadi? Tanah dengan berbagai ukuran, bisa dijual dan dibeli. Entah yang ukurannya cuma 2x 1 meter sampe yang segede pulau.

Pertanyaan saya sedikitnya terjawab oleh buku Sosiologi Agraria karya Sediono M.P. Tjondronegoro yang saya temukan selagi membereskan buku-buku yang terbengkalai di bawah meja. Di dalam buku tersebut  dibahas bahwa sebelum periode kolonial, pemilikan komunal tanah oleh suku, klan, dan komunitas pedesaan adalah pola yang umum.

Di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang dulunya merupakan wilayah raja-raja berkuasa, di masa lalu, raja lah yang memiliki hampir seluruh tanah. Tanah tersebut diserahkan pengerjaannya pada para petani sehingga lebih jelas peruntukannya.

Sementara di daerah luar Jawa, konsep “tanah bebas” berlaku di kalangan peladang berpindah. Tidak ada tuan dalam konsep peladang berpindah. Pemilikan komunal berada di tangan kepala suku. Pada kepala suku lah anggota komunitas meminta persetujuan untuk membuka dan mengerjakan sebidang lahan di hutan.

Tanah di Jawa
Konsep pemilikan tanah secara individual di Jawa dan Bali telah berakar selama dua abad. Sekitar tahun 1811, khususnya di Jawa, diadakan pendaftaran kadaster di bawah peraturan Gubernur Sir Standford Raffles. Peraturan tersebut membuat pemilikan tanah diterima di pulau Jawa. Oleh karenanya pemungutan pajak di antara petani bisa dilakukan, bahkan tanam paksa atau cultuurstelsel (1830 – 1870) di bawah pemerintahan Kolonial Belanda bisa terjadi.

Pada tahun 1870, hukum agrarian yang pertama diperkenalkan. Salah satunya mengenai tanah milik pemerintah. Kebanyakan tanah yang tidak ditanami (berpaya-paya dan tanah hutan di daerah lereng) serta tidak ada orang yang mengklaimnya, secara otomatis menjadi tanah milik pemerintah.

Oh ya, meskipun konsep kepemilikan tanah secara pribadi sudah berlaku di Jawa. Tapi sebenernya sih, sampai sekarang masih ada kelompok masyarakat di Jawa yang tetap memegang konsep “tanah bebas”. Jadi inget sama si Sanif, anak remaja asal Baduy yang pernah datang ke rumah untuk menawarkan madu.Kebayang, dia dan keluarganya, santai aja tuh kalau mau berladang. Gak usah ngumpulin biaya ngontrak lahan apalagi sampai beli lahan karena masyarakat Baduy merupakan masyarakat yang masih memegang konsep tanah komunal.

Tanah di luar Jawa
Hukum agrarian sulit dilaksanakan di luar Jawa. Di daerah ini, pendaftaran kadaster tidak pernah dilakukan dan sertifikat tanah tidak pernah dikeluarkan pada pemilik yang mengharapkannya.

Konsep tanah komunal bebas berlangsung sebagai peraturan pertanahan yang dominan. Penduduk lokal umumnya lebih mengenal hak pakai, karena tanah merupakan milik komunal klan atau suku. Peladang berpindah yang membutuhkan sebidang tanah akan memintanya pada kepala suku.

Saat populasi rendah, peladangan berpindah adalah cara menggunakan tanah paling efisien. Setelah beberapa kali panen, tanah akan ditanami kopi, lada, atau karet. Tanaman tahunan ini memungkinkan adanya revegetasi alamiah dan menghindari terjadinya erosi yang serius.

Migran Jawa dan Pemilikan Tanah
Konsep pemilikan tanah individual di luar Jawa diperkenalkan migran dari Jawa sejak sekitar tahun 1905. Para migran dari Jawa ini mendapatkan sertifikat tanah setelah membuktikan mampu membuka dan menanami lahan yang dijatahkan pada mereka. Dalam kasus migran spontan kepemilikan tanah oleh migran dinegosiasikan dengan kepala suku setempat.

Dalam program transmigrasi yang dilaksankan pemerintah, tanah diperoleh melalui negosiasi pemerintah provinsi dan kabupaten. Jika transmigran berhasil menanami lahan di sana dengan baik, pemerintah memberi kompensasi berupa pembangunan infrastruktur, serta fasilitas kesehatan dan pendidikan. (Yenti Aprianti)

Sumber : Sediono M.P. Tjondronegoro, “Sosiologi Agraria”, 1999, hal: 91 – 92 dan 98 – 100.

~ oleh warungminum pada Oktober 4, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: