Setengah Abad Pembajakan Musik di Indonesia

Oleh:  Yenti Aprianti

 

Udah biasa ya denger penyanyi-penyanyi kondang pada ngebahas pembajakan. Saya dan suami, yang kalau nyanyi aja fals gak mau ketinggalan juga membahas hal yang satu ini.  Ya…siapa tahu aja suatu hari kami nekad mau ngambil  “lahan” para penyanyi kondang itu. Melibas mereka dengan satu gebrakan. Dahsyat!

Ya, sedasyat pembajakan musik itu sendiri.  Karena ternyata oh ternyata…praktek ini sudah berlangsung di bumi pertiwi selama hampir setengah abad! Itu pun berdasarkan sedikit data yang berhasil saya telusuri. Dengan bahan yang lebih lengkap dan beraneka, serta gerakan yang lebih cekatan lagi untuk menelusurinya,  bukan tidak mungkin, usia pembajakan musik  di negeri ini bisa jadi lebih tua lagi. Maklum deh,  saya cuma ibu rumah tangga iseng yang hanya bisa memulai “petualangan” mengumpulkan data di tengah malam, ketika bidadari kecilku sudah lelap, rumah sudah bersih, piring-piring bersih mengkilat,   cucian telah menggantung manis di jemuran, dan setrikaan bertumpuk di tempat yang semestinya.

Dan sekali lagi, setengah abad pembajakan musik di nusantara itu sesuatu banget, kaaaann??? Mari dirayakan! Lho??? Maksudnya, dirayakan dengan cara menuliskannya. Ya…siapa tahu berguna. Meski sedikit yang didapat, kayaknya lumayan juga buat di-share. Soalnya saat saya googling sejarah objektif mengenai pembajakan musik di Indonesia susah juga menemukannya.

Gara-gara K. Bertens

Bagi ibu rumah tangga seperti saya, iseng itu kewajiban. Kalau enggak iseng, pikiran tidak bisa melangkah jauh ke luar rumah. Jadi ketika Praba, batitaku berseru, “Bu, aku mau mandi sendiri!” Maka saya pun masuk kamar buku, dan mengambil sekenanya buku apa saja. Pagi itu, buku Pengantar Etika Bisnis  karya K. Bertens yang terambil. Saya membacanya sambil mengawasi batitaku Praba yang lagi demo mandi sendiri. Ini salah satu keuntungan kalau  anak lagi mandiri, hehe.

Beruntung sekali, di halaman awal, Bertens sudah berhasil menyajikan tulisan menarik buat saya.  Di buku tersebut termuat sebuah contoh kasus etika dan moral dalam berbisnis. Salah satunya mengenai pembajakan karya musik di Indonesia 27 tahun yang lalu.

Bertens   mengutip kasus yang pernah dimuat Tempo, 14 dan 21 Desember 1985 itu secara singkat. Tapi entah kenapa kok jadi berbuntut panjang terhadap rasa ingin tahu saya. Hampir seminggu saya “kelaparan” data. Untungnya itu hal yang paling saya suka.

Menurut buku tersebut, pada 13 Juli 1985 bintang rock  Bob Geldof menggelar konser amal untuk menggalang dana guna membantu rakyat Ethopia, Afrika Tengah, yang sedang dilanda kelaparan.  Konser amal raksasa bertajuk Live Aid ini diselenggarakan serentak di dua tempat, yaitu stadion Wembley di London, Inggris dan di stadion John F. kennedy di Philadelphia, Amerika Serikat.  Konser yang melibatkan penyanyi-penyanyi ternama ini disiarkan melalui televisi ke seluruh penjuru dunia.

Beberapa waktu setelah konser digelar,  beredar kaset berjudul Live Aid yang berisi lagu-lagu yang sempat dinyanyikan dalam konser tersebut. Kaset ini dijual di beberapa negara di Timur Tengah. Pada kaset tercantum kalimat made in Indonesia, juga ada yang menggunakan pita cukai Indonesia. Di kaset tersebut juga dicantumkan informasi bahwa hasil keuntungan penjualan akan disumbangkan ke Ethopia. Diperkirakan ada 10 perusahaan rekaman di Indonesia yang terlibat pembajakan Live Aid. Ini membuat Bob Geldof serta artis-artis lain marah besar terhadap Indonesia. Mereka mengungkapkan protes melalui media massa sedunia dan menuduh Indonesia berperilaku tidak etis. Saat itu secara hukum Indonesia tidak dapat ditindak karena belum menandatangani konvensi Bern tentang Hak Cipta Internasional dan di dalam negeri belum ada undang-undang yang melarang pembajakan.

Bikin Mixtape Sepenuh Hati

Kayaknya kasus pembajakan 1985 itu enggak memberi banyak pengaruh dalam kehidupan orang Indonesia saat itu, ya.  Soalnya kalau ingat masa-masa muda nan ceria, jadi  nyengir sendiri,  karena sampai tahun 1990-an  budaya ngopi  karya musik tetap berjaya.

Suami saya mengenang, di masa itu kakaknya yang tinggal di Kebumen suka mampir ke toko kaset. “Beli  kaset kosong, lalu minta diisi lagu-lagu favorit di kaset kosong sama pemilik toko.”  Eh, suami saya yang saat itu masih bocah bau kencur, ikut-ikutan juga suka beli kumpulan lagu-lagu anak berbekal kaset kosong. Komplit, murah, meriah, senang!

Saya yang tinggal di Bogor juga setali tiga uang, lah.  Kalau aksi saya, lebih ngirit lagi. Apalagi  waktu itu radio tape double deck lagi ngehits banget, kaaaann. Bikin tugas sekolah paling afdol sambil ngerekam lagu-lagu favorit berbekal kaset pinjaman yang enggak jarang merupakan mixtape atau kaset kompilasi lagu buatan sendiri. Sering juga merekam lagu kesukan yang sedang diputar di radio.

Alhasil, saya punya beberapa kaset yang di dalamnya ada sederet tulisan tangan berisi judul lagu dan penyanyi. Biasanya mixtape ini saya lengkapi dengan cover kaset, yang juga buatan sendiri.  Di lukis pake cat air, dibuat dari guntingan gambar-gambar di majalah, dan lainnya. Masih belum puas?  Dibela-belain deh nyalin lirik lagunya juga pake kertas HVS yang dipotong selebar wadah kaset, trus kertasnya  disambung jadi panjang pake selotif, lalu dilipat. Membajak sepenuh hati🙂

Coba aja cek, yang pernah ngelewatin masa SMP, SMA, kuliah di tahun 1980- 1990, kayaknya pada punya tuh album kompilasi buatan sendiri, seperti yang saya dan suami punya. Maklum deh, saat itu hak atas karya intelektual, termasuk musik, masih jadi “makhluk asing di negeri ini, meskipun saat itu Indonesia sudah memiliki Undang-Undang No 7 tahun 1987 tentang Hak Cipta.

Wabah Kaset Gelap

Membuat mixtape paling susah tuh kalau pake tape recorder. Soalnya susah juga kan nyuruh diem orang-orang, kucing, burung, dan lainnya yang ada di sekitar rumah. Kalau mereka berbunyi agak keraaaaas aja, hancur deh rekaman lagu karena masuknya suara-suara asing yang tak merdu ke dalam hasil rekaman.  Jadi harus super sabaaaar dan pinter cari peluang dalam suasana sepi.  Oh ya, merekam  karya musik menggunakan tape recorder ini merupakan  teknologi pembajakan karya musik di masa-masa awal berjamurnya penduplikasian.

Kita enggak bisa berkelit, perkembangan format musik membuat aktivitas meng-copy karya musik menjadi semakin mudah.  Di Indonesia sebelum tahun 1970, sudah beredar piringan hitam palsu. Jumlah piringan hitam palsu ini tampaknya tidak terlalu meresahkan seperti setelah munculnya teknologi kaset, berikut tape recorder-nya.

Oh ya, compact audio cassette diperkenalkan oleh Philips sebagai media penyimpanan audio di Eropa pada tahun 1963, kemudian diproduksi massal  pada 1965.  Setelah munculnya kaset, di Indonesia mulai diperjualkan kaset bajakan berisi lagu dari piringan hitam. Kaset bajakan saat itu biasa disebut kaset gelap, sementara pembajakan disebut penjiplakan atau penduplikasian.

Beredarnya kaset-kaset bajakan ini mengakibatkan kerugian besar pada banyak perusahaan piringan hitam. Salah satu perusahaan piringan hitam yang bangkit meminta keadilan adalah  Remaco. Di tahun 1970, produksi piringan hitam Remaco turun sampai 50 persen. Hal yang sama terjadi pada perusahaan piringan hitam Irama atau J&B Enterprises Inc, Metropolitan, Dimita, dan perusahaan rekaman music (label) pertama di Indonesia yang didirikan tahun 1956 dan berlokasi di Solo, Lokananta.

Kaset-kaset yang berisi rekaman lagu dari piringan hitam itu biasanya dijual di toko-toko radio.  Awalnya jumlahnya hanya sedikit. Tetapi hanya dalam tiga tahun, bisnis kaset bajakan ini tak terkendali. Merajalelanya kaset bajakan karena makin mudahnya cara membajak karya musik.  Tak perlu studio. Tinggal sediakan saja tape recorder, gramophone untuk memutar piringan hitam, piringan hitam, dan kaset kosong. Karena mudahnya, toko-toko radio bisa menyediakan jasa perekaman lagu. Tahun 1971, satu kaset yang sudah jadi berisi 24 lagu di side A dan B dihargai Rp 400. Sementara kalau mau pesan khusus, ongkos jasanya  Rp 25 per lagu.  Jauh lebih murah dari harga piringan hitam berisi 12 lagu yang harganya mencapai Rp 1.200 untuk lagu-lagu Indonesia dan Rp 1.500 dari lagu-lagu luar negeri.

Pembeli kaset bajakan dari berbagai kalangan, mulai dari  pelajar sampai  petani. Orang-orang lebih memilih membeli kaset bajakan karena lebih praktis dibawa kemana-mana, selain itu kalau sudah bosan bisa dihapus dan diisi dengan lagu baru yang disuka. Hal yang tidak mungkin terjadi pada piringan hitam meskipun dari segi kualitas dapat menghasilkan suara yang lebih jernih.

Akhirnya Dipenjara

Wabah kaset gelap terjadi di mana-mana.  Maka ketika  film The Professionals  yang dibintangi aktor-aktor Amerika  Burt Lancaster dan Lee Marvin banyak diputar di beberapa bioskop di Daerah Chusus Ibukota Djakarta, pihak kepolisian Indonesia  lagi serius merazia kaset-kaset bajakan di beberapa pertokoan di berbagai kota seperti di Bandung, Semarang, Palembang, Medan, Solo, dan kota lainnya.

Tak hanya merazia, kepolisian juga melakukan penertiban terhadap toko-toko radio di Jakarta. Para pengusaha toko radio harus mendaftarkan perusahaannya pada dinas perindustrian DCI Djakarta.  Sebelumnya izin usaha hanya untuk toko, bukan untuk merekam. Dengan dikeluarkannya izin merekam, pemerintah bisa menarik pajak dari mereka. Perekaman juga harus dilakukan secara legal dengan meminta izin pada perusahaan piringan hitam dan pemilik hak cipta lagu. Dengan demikian, perusahaan piringan hitam bisa menarik royalty dari toko-toko yang memberi jasa perekaman lagu.

Para pembajak mulai dibawa ke pengadilan sejak tahun 1971. Meski demikian hakim biasanya memutuskan menghukum dengan masa percobaan dan denda. Baru pada  4 Februari 1975 pengadilan memenjarakan pembajak kaset. Hukuman 6 bulan penjara diputuskan hakim untuk tiga orang pemilik toko kaset di Pontianak yang merekam dan memperjualbelikan lagu dari piringan hitam ke kaset.

Perkara demi perkara pembajakan telah diputus pengadilan. Tapi pembajakan enggak ada matinya.   Tahun 1990-an, berita-berita pembajak kaset yang dimejahijaukan tetap menghiasi media massa. Salah satunya pada kasus  pembajakan lagu  Mengapa (Nicky Astria), Ada Dusta di Antara Kita (Broery dan Dewi Yull), Gerangan Cinta (Java Jive), Selamat Tinggal (Five Minutes), Cinta Kita (Ismi Azis), You Are Not Alone(Michael Jackson), dan That’s Way (Micheal Learn to Rock) digandakan dan dikompilasi oleh seorang pemilik sebuah toko kaset di Jalan Pasar Timur, Jatinegara, Jakarta.

Di tahun 1990-an, kaset bajakan dijual Rp 10.000 – Rp 15.000.  Kadang-kadang kaset bajakan ditempeli stiker cukai resmi.  Harganya jauh lebih murah dari kaset asli yang saat itu berkisar Rp 35.000. Menurut Ketua Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI), Candra Darusman di awal tahun 1990-an,  pembajakan dengan bentuk kompilasi lagu Indonesia dan barat sedang marak. Pembelinya pelajar dan mahasiswa.  “Mereka ini orang yang sadar dan mengerti hak cipta.”

Soft Technologi: Ikhlas…Hehehe…

Tahun 1990-an, Candra Darusman yang  dikenal sebagai musisi di band Karimata  agak sering diwawancara soal hak cipta di majalah-majalah remaja. Ketua YKCI ini merupakan salah satu orang yang sering “meniup-niupkan” istilah asing semacam hak cipta, pembajakan, dan kawan-kawannya itu pada orang awam seperti saya.

Seperti halnya, Candra Darusman, Tantowi Yahya dikenal sebagai pemandu acara kuis musik Gita Remaja di TVRI juga sering mengangkat masalah hak cipta ini. Di zaman itu beliau eksis juga di Asiri alias Asosiasi Industri Rekaman Indonesia.

Pemberitaan soal sepak terjang melawan pelanggaran hak cipta tersebut lumayan bikin melek, tapi karena enggak ngerti sepenuhnya pertarungan para musisi di luar rumah saya itu, apalagi kalau sudah di depan makhluk manis Double Deck. “Mata” yang sudah mulai terbuka ini, agak “merem” lagi. Ya, kalau diimajinasikan, situasi kesadaran saya seperti orang yang lagi “tidur ayam”. Enggak bener-bener sadar, sekaligus enggak bener-bener  terlelap. Mungkin situasi ini juga yang terjadi di sebagian besar ruang pikir orang Indonesia. Enggak heran deh, masuk zaman music digital, makiiiin gampang aja menggandakan karya music. Tinggal pencet, dalam waktu singkat file berisi ratusan lagu dengan mudahnya bisa di-copy.

Dari perjalanan hampir setengah abad pembajakan di Indonesia, tampak betul bahwa teknologi penggandaan karya muskc lebih cepat dan lebih mudah digunakan dibandingkan teknologi untuk memproteksinya. Di dunia bisnis yang semakin menyebalkan, naïf juga ya kalau berharap banyak agar masyarakat menjaga moral sehingga karya musik bisa terlindungi. Sama naifnya dengan penyanyi-penyanyi bersuara sumbang yang misuh-misuh karena lagunya dibajak, tapi pas tampil live  suaranya enggak enak didengar  atau melakukan lipsync. Enggak ada, kan undang-undang yang mengatur penyanyi harus memahami teknik-teknik vocal dan tidak boleh lypsync.  Sungguh tidak adil.

Mungkin sudah waktunya karya intelektual dilindungi dengan ide-ide proteksi yang lebih kreatif, melebihi teknologi penggandaan yang selalu melaju lebih cepat.  Di ujung obrolan suatu malam, suami saya bilang band Koil membebaskan orang untuk mengunduh gratis lagu-lagu mereka.

Mengikhlaskan karya intelektual di-copy selama masih mengakui  pemilik hak cipta, kayaknya merupakan soft-technology yang paling memungkinkan.  Mengunduh gratis bisa menjadi service band  pada pendengarnya, yang saya rasa bakal seneng banget tuh kalau bisa menonton pertunjukan mereka dan mengoleksi format musik yang mereka buat. Kalau perlu enggak  hanya CD, dikomporin juga buat bikin format vintage berupa kaset  atau piringan hitam . Ih…pasti keren deh dan saya akan kulakan radio tape dan gramaphone biar bisa ikut panen. Dasar homo economicus!

Btw, ide Koil sepertinya selangkah lebih maju dari ide penyanyi idola saya Benjamin S. Tahun 1977, Bang Ben yang lagi berencana membuat Ben Record punya usul begini:

“Ane kasih cap di kaset: ‘Awas Jangan dibajak, Tuhan Lihat.’ Biar deh dia bajak, tapi kan Tuhan lihat,” kata Benjamin.

Ikhlas enggak ikhlas ya, cyiiinnn….:)) ***

Catatan: “Awas, jangan asal copy paste.  Tuhan lihat…haha.”

Sumber:

  1. Audio Digital. http://id.wikipedia.org/wiki/Audio_digital
  2. Cassette2 Tape Recorder Mengantjam Perusahaan-Perusahaan Piringan Hitam Nasional. Kompas 13 Maret 1971.
  3. H. Benjamin S : “Awas jangan bajak. Tuhan lihat!” Kompas 22 Maret 1977
  4. Kaset Nicky, Broery & Dewi Yull Dibajak. Republika Online, Rabu 31 Januari 1996 melalui Library.ohiou.edu/indopubs/1996/01/31/0013.html
  5. Perekaman Cassette Tape Recorder di Ibukota akan Ditertibkan. Kompas, 23 Maret 1971.
  6. Perkara Pembadjakan lagu-Lagu dan Label Remaco. Kompas 28 Juni 1971.
  7. Pengantar Etika Bisnis. K. Bertens. Penerbit Kanisius, 2000
  8. Razzia Cassette Bisa Menimbulkan Ekses. Kompas 12 Mei 1970
  9. Soft-Technology. www.soft-technology.org
  10. Yayasan Artis Berusaha Berantas Kaset Gelap. Kompas 26 Agustus 1972.

~ oleh warungminum pada Oktober 9, 2012.

10 Tanggapan to “Setengah Abad Pembajakan Musik di Indonesia”

  1. Otong Koil membagi-bagi lagunya dengan cara mengirimkannya ke email-email fans-nya di twitter. Eta bageur pisan!.. Hahahaha..

  2. aku pernah juga bikin kaset kompilasi sendiri. malah pernah kasih ke kecengan waktu itu wahahak..

  3. “Membajak sepenuh hati.” ahahaakk..keren itu frase. boleh dibajak?😛

    musisi-musisi jama sekarang, tentu saja yang gaul, biasanya pakai Creative Commons. Mereka membebaskan karyanya untuk dilipatgandakan, tapi wajib menyertakan sumber, dan pencipta karya itu.

    itu kenapa? karena eh karena, pembajakan sudah tidak bisa dibendung. artis-artis yang masih berkoar menyatakan perang terhadap pembajakan diketawain saja. mendingan mereka bikin karya bagus, mengemasnya dengan elegan, tampil sebaik mungkin di panggung. pendengar bisa ngerasa kok si artis/musisi itu serius berkarya atau enggak.

    gimmick “keren” dan “terbatas” itu menjual kok. suamimu, yang rajin menyalin saya punya koleksi musik, bela-belain beli album Seringai edisi terbatas. udah liat kan? Saya sih yakin si Seringai dan orang-orang di baliknya serius berkarya.

    lagian mengandalkan penjualan album musik sekarang ngga bisa bikin kaya. tampil di panggung sesering mungkin, jualan pernak-pernik (yang harusnya digarap serius juga), jadi duta merek (brand ambassador?), dan dicintai penggemar, adalah bahan bakar yang menghidupi artis/musisi. ahem!

    salam serius! x))

    nb: ijin follow mbak🙂

  4. nah…pakarnya udah datang. *keprok hihi* makasih tambahannya. *angguk2*.

    Btw mo bajak, mo follow…mangga.

  5. eh beneran tuh bajak membajak jadi maenannya label rekaman dari skala kecil kaya perusahaan rekaman lagu sunda dan degung sampe yang gede. akhir taun 90-an aku dapet bocoran dari boss label rekaman kecil dengan hak edar lumayan luas kalo mereka juga ngebajak lagu-lagu bule jaman thrash metal menjamur. lha di salah satu kaset grup metal barat yang terkenal…pas didenger pake headphone di jeda antar lagu itu keluar lagu dari grup metal laen. Jadi kaset yg gak laku ditimpa lagi pake rekaman grup lain yang penjualannya sedang on fire. mungkin ini yang namanya kaset PAHE, two in one hihihi, satu harga dua band bule yang muncul. kabarnya banyak grup musik barat kala itu yang ogah manggung di Indonesia gara-gara urusan jiplak menjiplak itu. wah jadi inget waktu itu ada temen2 ku yang jual kaset live grup terkenal yang tentu saja bajakan. kerennya lagi, mereka ngebajak dari CD bootleg juga yang diluar negerinya ya idem ditto..hasil bajakan juga. lha jadi piye ini APA…MBU?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: