Uang Langka Jadi Kayu Bakar

uang bambu

 

Kalau Anda sedang berada di Perkebunan Teh Tjirohani, Sukabumi cermatilah bilah bambu kecil di sana. Siapa tahu Anda beruntung, menemukan uang bambu yang langka.Langka sekali.

Uang bambu atau Bamboogeld Token ini merupakan alat tukar yang dulu berlaku di perkebunan Tjirohani. Perkebunan yang awalnya ditanami karet ini berubah menjadi kebun kina tahun 1865. Lalu, berubah menjadi perkebunan kopi dan coklat pada 1893. Tahun 1928 hingga sekarang menjadi perkebunan teh.

Sekitar tahun 1870 – 1885, pihak perkebunan Tjirohani membuat uang bambu. Fungsinya sebagai alat tukar yang berlaku hanya di lingkungan perkebunan tersebut saja.

Bentuk uang bambu Tjirohani pipih seperti sendok es krim. Ukurannya beraneka tergantung nilai nominalnya. Nominal terkecil adalah 1/2 sen dan yang terbesar 12 sen. Ukuran uang 8 sen, misalnya, berkisar 1,5 cm x 10,5 cm. Di bagian muka dan belakang uang bambu terdapat tulisan yang menunjukan nilai tukar bambu tersebut. Sebagai contoh, jika bertuliskan “acht 8”, berarti nilai nominalnya 8 sen. Tulisan dibubuhkan menggunakan tinta cina.

Kalau beruntung menemukannya, ada lagi ciri yang bisa dicermati. Biasanya tampilan fisiknya menjijikan. Hitam, dekil karena dimakan usia.

Semua pekerja perkebunan diupah menggunakan uang bambu itu. Dengan uang tersebut, para pekerja bisa “membeli” barang-barang yang telah disediakan di kios-kios milik perkebunan, seperti garan, beras, jagung, pakaian, dan digunakan juga sebagai alat tukar di tempat pelacuran sekitar perkebunan.

Uang bambu di perkebunan di Tjirohani berfungsi juga untuk mengontrol keluar masuknya tenaga kerja. Coba saja bayangkan, kalau para pekerja diberi upah uang tunai yang berlaku umum di Indonesia, dikhawatirkan pekerja perkebunan kabur atau pulang kampung segera setelah menerima upah.

Selain untuk mengontrol, alasan keamanan melatarbelakangi pembuatan uang bambu ini. Perkebunan biasanya berada di daerah yang sepi penduduk. Jalan-jalan menuju perkotaan yang kecil dan sepi itu wilayah aksi para pembegal.

Ketika tak lagi berlaku sebagai alat tukar, uang bambu banyak digunakan penduduk sebagai kayu bakar. Oh tidaaaaaakk!

Jadi ga heran deh kalau pada tahun 2005 uang bambu yang ada di tangan para kolektor dan museum-museum di Indonesia hanya 20 – 30 buah, Langka. Sangat langka. Jadi pingin mengadu keberuntungan ke Tjirohani, nih.

Sumber : Numismatik No 2, Juli 2005

~ oleh warungminum pada Oktober 12, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: