ATURAN-ATURAN “ANEH” SAAT PENDUDUKAN JEPANG DI INDONESIA

 

pendudukan jepang

 

 

“Motto kami dalam bekerja, bahwa ilmu pengetahuan tidak selayaknya disimpan untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi seharusnya dibagikan kepada masyarakat dan bangsa.”

Kalimat ini ditulis redaksi Buletin Numismatika pada halaman 3, No 3, tahun 2005. Saya membacanya secara tidak sengaja ketika membuka-buka lagi buletin-buletin yang bertumpuk di rumah. Oh ya, buletin-buletin tersebut merupakan pemberian Pak Puji Harsono, salah satu anggota Asosiasi Numismatik Indonesia (ANI) Jabar. Saya sendiri bukan anggota asosiasi tersebut, tapi isi buletinnya sangat menyenangkan untuk dibaca, karena berisi informasi yang agak sulit di dapat di buku-buku, bahkan di mbah Google sekalipun.

Karena kalimat di atas tadi, saya jadi tertarik untuk menyalin ulang dan menuliskan pengalaman saya membaca beberapa artikel dari buletin tersebut, karena sayang juga kalau hanya terbenam di ruang buku. Kali ini mengenai aturan-aturan aneh di masa pendudukan Dai Nippon di Indonesia.

Tahun Kooki 2603

Seperti pada masa pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 2602 atau tahun 1942 Masehi, aturan-aturan yang diterbitkan pada tahun 2603 melalui Undang-Undang Osamu Seirei dan Osamu Kanrei, banyak sekali. Dari yang banyak itu, ada aturan yang penting-penting dan aneh-aneh. Seperti aturan-aturan berikut ini:

1. TOKO HARUS BUKA PADA HARI MINGGU

Mulai Januari 2603, toko-toko di Jawa Tengah, khususnya di Semarang dan Salatiga, semua toko pada hari Minggu harus buka mulai jam 10.00 sampai jam 18.00. Tujuannya agar pegawai-pegawai negeri dan orang-orang lainnya yang hanya mempunyai waktu senggang pada hari Minggu dapat berbelanja. Waktu libur toko bisa pilih di hari lain, yaitu antara Rabu atau Jumat.

2. PERUBAHAN MEREK-MEREK ROKOK

Dalam rangka “pengganyangan bahasa Belanda dan Inggris, Jepang membuat peraturan agar orang-orang yang tinggal di Indonesia hanya menggunakan percakapan dalam bahasa Nippon dan Melayu (Indonesia). Nama toko, perusahaan, merek produk, tulisan dalam surat, percakapan di telepon atau pengiriman kawat, hanya boleh menggunakan bahasa Jepang atau Melayu (Indonesia).

Toko atau perusahaan yang masih menggunakan “bahasa terlarang” diberi kesempatan untuk menggantinya paling lambat tanggal 1 Maret 2603. Jika masih membandel, maka akan dianggap musuh dan toko/perusahaannya akan disita.

Untuk menghindari sanksi tersebut, berbagai perusahaan, termasuk produsen rokok mulai mengganti merek produk rokoknya. Bahkan untuk mengganti merek, para produsen perlu membuat sayembara. Sayembara diikuti oleh 1889 orang. Dari mereka dihasilkan merek rokok baru dengan nama-nama Jepun, antara lain rokok “Mascot” berubah jadi “Kooa” yang berarti Asia bangun. Rokok “Davros”, berganti menjadi “Mizoeho” alias padi. Rokok “Double Ace” jadi “Sekidoo” aka katulistiwa.

Rokok-rokok merek baru itu dijual mulai 1 Maret, bertepatan dengn setahun pendaratan balatentara Dai Nippom di Pulau Jawa. Meskipun citarasanya sama, tetapi rokok-roko berganti sarung memakai “kimono” merk-merk Jepang!

3. IZIN PINDAH DAN BERPERGIAN

Berdasarkan Osamu Serei No 4, tanggal 4 Februari 2603, Panglima Besar Balatentara mengeluarkan undang-undang perihal surat izin untuk pindah dan berpergian khusus untuk bangsa asing. Itu artinya penduduk asli dan bangsa Jepang tidak terkena aturan ini.

Orang-orang asing yang hendak pindah atau berpergian harus mengajukan permohonan izin pada kepala kantor besar polisis setempat dengan membayar f. 1.50.

Setelah mendapat izin, setibanya di kota yang dituju, ia harus melapor di kantor polisi terdekat. Pak polisi akan memberi cap pada surat izinnya.

Jika tamu menginap di toko tujuan, maka tamu tersebut harus ,elapor. Pelaporan ke pihak kepolisian terdekat juga dilakukan oleh orang yang memberikan penginapan, baik pihak hotel, pemilik rumah biasa, orang Jepang ataupun pribumi. Mereka tanpa dipandang golongan dan kebangsaannya, wajib melaporkan hubungannya dengan tamu, baik secara lisan maupun tertulis.

Lalai membuat izin pondah dan berpergian? Jangan menyesal jika dianggap sebagai mata-mata musuh, dipenjara selama setahun, serta dikenai denda sebesar f. 1000 atau seribu rupiah.

Lalai melaporkan tamu? Siap-siap dihukum 1 bulan penjara dan denda sebanyak f.300.

Sumber: Buletin Numismatik, No 3, 2005

~ oleh warungminum pada Oktober 20, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: