Hak Konsumen, Tertindas Harga Tak Jelas

Aduh, maaf, Bu. Saya enggak jual bawang. Malu mau jualnya juga. Harganya naik terus. Sehari bisa naik Rp. 5.000. Aneh!” ujar seorang pedagang sayur keliling di wilayah Sadangsari, Kota Bandung pada pertengahan Maret lalu. Selain itu banyak pedagang takut kehabisan modal jika menjual bawang.
Pada Februari 2013, harga bawang merah masih berkisar Rp 12.000/kg, sementara harga bawang putih Rp 20.000/kg. Tetapi pada pertengahan Maret terus meningkat hingga mencapai Rp 70.000/kg untuk bawang putih dan Rp 50.000 untuk bawang merah.
Naiknya harga mempengaruhi pemenuhan gizi keluarga ekonomi bawah. “Jatah lauk habis buat beli bumbu. Bingung mau makan apa,” kata seorang ibu. Pedagang warung sembako di Sekaloa, Bandung mengatakan sejak harga bawang naik, penjualan bumbu instan meningkat. Padahal banyak bumbu instan mengandung gula, garam, dan sodium glutamate berlebih yang dapat mengganggu kesehatan.
Hingga kini, harga bawang putih maupun merah masih saja tinggi. Kenaikan harga bawang yang mencapai 500 persen sejak Maret hingga April 2013 merupakan kejadian ajaib.
–>
Ajaib karena pemerintah seolah tak memiliki pengetahuan tentang kebutuhan masyarakatnya sehingga gagal melakukan antisipasi. Kalaupun pengetahuan ini dimiliki, tetapi tidak dilindungi oleh regulasi yang berpihak pada rakyat sehingga pengetahuan bisa dimainkan untuk kepentingan seseorang atau kelompok.
Di forum-forum online, banyak orang menanggapi sinis pernyataan-pernyataan pemerintah yang tidak mampu menurunkan harga dengan cepat.
Bangun Kemandirian
Harga pangan yang terus melambung biasa terjadi di Indonesia. Tidak hanya bawang, tapi juga daging, beras, cabai, dan lainnya.
Menurut Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo dalam Detik.com mengatakan stabilitas harga merupakan hak konsumen yang harus dikawal negara. Indonesia bisa mengadopsi langkah Amerika Serikat yang mampu menjamin stabilitas harga hingga lima tahun.
Impor adalah solusi yang biasa ditawarkan pemerintah. Padahal banyak cara mandiri agar harga selalu stabil. Menurut Ketua Dewan Bawang Merah Nasional, Sunarto Atmo Taryono, konsumsi bawang merah Indonesia sekitar 1.500 juta ton/tahun. Di musim hujan, petani hanya bisa memenuhi 30% kebutuhan tersebut. Sementara produksi berlebih di musim kemarau. Itu sebabnya pemerintah hanya perlu menyediakan alat pendingin untuk menyimpan stok bawang merah.
Untuk kemandirian jangka panjang, pemerintah harus mendidik masyarakat agar bisa menanam kebutuhan pangan di rumah. Di beberapa negara, sistem kitchen garden atau penanaman tumbuhan pangan di rumah mulai digalakkan kembali. Yuk berkebun di rumah agar tak selalu tertindas harga tak jelas. (Ynt)

sumber:buletinsamida.blogspot.com

~ oleh warungminum pada April 23, 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: