Makan ala Rasulullah Muhammad Saw

Menjalankan puasa Ramadhan tahun ini terasa lebih bersemangat. Alhamdulillah. Mudah-mudahan sih enggak kendor di minggu kedua dan selanjutnya, ya.

Mungkin saking semangatnya ya, jelang puasa kemarin saya sempatkan waktu untuk mencari tahu berbagai cara hidup Rasulullah Muhammad Saw. Yakin banget kalau nabi kita banyak mengajarkan hal-hal baik, termasuk soal-soal yang tampak sepele seperti soal makan, minum, dan tidur.

Nah, kali ini saya ingin berbagi pengetahuan soal cara makan Rasulullah Muhammad SAW. Siapa tahu saja ada yang sama semangatnya dengan saya di bulan puasa ini dan sedang mencoba “menjadi baru” lewat kebiasaan makan. Oh ya, ternyata banyak hal dari cara makan Rasul yang agak berbeda dengan kebiasaan kita selama ini. Misalnya, sesaat sebelum makan dan minum, Rasul tidak membiasakan diri minum agar tidak mengganggu proses pencernaan makanan. Padahal kita biasanya menyediakan minum di dekat makanan kita agar bisa minum sebelum, selagi, dan segera setelah makan. “Kalau makan enggak minum, seret, dong.” Begitu alasan kita biasanya.

Yuk ah, kita simak beberapa tuntunan Rasulullah soal makan yang saya rangkum dari buku Hidup Sehat ala Rasulullah SAW karya Muhammad Safrodin dan beberapa artikel tentang berbagai penelitian dan penjelasan ilmiah mengenai makanan.

  1. Tidak memakan makanan awetan

Rasulullah tidak pernah makan makanan yang diawetkan atau dimasak kembali. Makanan awetan atau yang dimasak kembali mengandung zat kimia yang berbahaya untuk tubuh.

Pengawetan bisa dilakukan tanpa menambahkan zat pengawet dan dengan menggunakan zat pengawet. Pengawetan tanpa menambahkan zat pengawet bisa dilakukan antara lain dengan pembekuan. Pembekuan menyebabkan bakteri patogen terhenti pertumbuhannya. Namun hal ini mengandung bahaya karena zat patogen tersebut bisa hidup kembali jika suhu dinormalkan. Selain itu pembekuan bisa menyebabkan berkurangnya kandungan zat nutrisi dalam makanan seperti vitamin C, B1, B2 dalam sayuran hijau, dan vitamin A.

Makanan awetan saat ini biasanya dikemas dalam kaleng. Menurut penelitian dari Harvard School of Public Health, makanan kaleng mengandung zat Bisphenol A yang digunakan oleh pabrik untuk mencegah karat pada kaleng serta menjaga makanan tetap awet. Konsumsi Bisphenol A dalam jangka panjang akan menyebabkan resiko terserang penyakit diabetes, serangan jantung, impotensi, dan penyakit hati lebih besar. Ibu yang sedang hamil disarankan untuk tidak mengkonsumsi makanan kaleng karena akan menyebabkan gangguan otak pada bayi yang dilahirkan.

  1. Menghindari makanan yang dilarang

Alquran memuat tentang hal-hal yang dilarang untuk dimakan, antara lain khamr, daging babi, dan bangkai. Bahan-bahan tersebut sulit untuk diurai tubuh sehingga kemudian mengendap dalam usus sehinggamenyebabkan berbagai penyakit.

Beberapa penelitian membenarkan bahwa bahan-bahan tersebut berbahaya untuk tubuh manusia. Larangan makan daging babi, sudah dibahas tidak hanya oleh masyarakat Islam, namun juga oleh masyarakat lain. Di China, pada masa dinasti Tang, sebuah karya Sun See Mao berjudul Su Shen Lu (Catatan-Catatan Kesehatan) menyebutkan bahwa daging babi dapat mengundang penyakit-penyakit lama seperti kemandulan, sakit tulang, dan asma.

Pada dinasti Ming, seorang ahli pengobatan yang sangat terkenal di masa itu dan telah menghasilkan 50 jilid buku pengobatan bernam Lee Shih Ch’en mengingatkan bahwa daging babi bisa menimbulkan bencana.

Penelitian soal daging babi yang lebih baru datang dari Daniel S Shapiro M.D. dari Clinical Microbiology Laboratories, Boston Medical Center . Ia mencatat, daging babi memiliki 26 jenis penyakit antara lain anthrax, botulism, cryptosporidiosis, erysipelothrix shusiophatiae, leptospirosis, pigbel, influenza, taenia solium, rabies, scabies, dan lainnya.

  1. Makan buah terlebih dahulu sebelum makanan pokok

Biasanya buah dijadikan pencuci mulut yang disantap setelah makan berat. Padahal yang benar adalah makan buah dahulu sebelum makan berat. Buah mengandung banyak serat yang dapat memberitahu bahwa perut sudah terisi . Dengan demikian nafsu makan berkurang dan kita tidak makan berlebihan.

  1. Banyak minum madu dan air putih

Rasulullah amat menyukai madu. Madu mengandung zat antibiotik alami. Hal ini dibenarkan oleh penelitian Peter C Molan (1992) dari Departement of Biological Sciences dari Universitas Waikoto, Selandia Baru dan yang menyatakan madu memiliki zat antibiotic yang aktif melawan kuman pathogen. Sementara penelitian lain dari Kamaruddin (1997) dari Departement of Biochemistry, Faculty of Medicine, University of Malaya yang menyatakan madu memiliki antimikrobal yang menghambat berbagai penyakit.

Rasulullah juga selalu minum air putih yang cukup. Hampir 2/3 tubuh kita terdiri dari air. Otak manusia memiliki komponen air sebanyak 90 persen dan darah mengand ung komponen air sebanyak 95 persen. Itu sebabnya manusia membutuhkan asupan air yang cukup. Orang dewasa membutuhkan air sebanyak 2 liter atau setara dengan 8 gelas. Mengonsumsi air putih penting untuk menyeimbangkan suhu tubuh, melancarkan aliran darah, dan menghindari berbagai penyakit yang ditimbulkan oleh kekurangan cairan dalam tubuh.

Meskipun tubuh dapat menyesuaikan diri saat suplai air berkurang, yaitu mengambil sumber air dari komponen tubuh sendiri yaitu darah. Inilah mengapa saat tubuh kekurangan suplai air, darah menjadi lebih kental yang mengakibatkan terganggunya distribusi oksigen dan zat-zat makanan.

Darah akan melewati ginjal yang akan menyaring racun dari darah. Ginjal memiliki saringan yang halus, itu sebabnya jika darah terlalu kental, ginjal akan bekerja ekstra keras. Jika hal ini terjadi terus-menerus akan menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Darah yang kental juga akan terhambat saat melewati otak. Padahal sel otak paling banyak mengonsumsi zat makanan dan oksigen yang dibawa darah. Jika hal ini berlangsung terus, maka sel-sel otak tidak dapat berfungsi optimal.

Kekurangan cairan menyebabkan tubuh menyerap air dari dalam kulit. Ini menyebabkan kulit menjadi kering dan berkerut. Kulit yang kering mudah untuk diserang berbagai kuman penyakit. Selain itu suplai air yang cukup membantu memperlancar sistem pencernaan dan membuat tubuh lebih berenergi.

  1. Makan saat lapar dan berhenti sebelum kekenyangan

Nah ini bagian yang paling menohok buat saya yang punya kebiasaan mengabaikan rasa lapar  kalau lagi banyak kerjaan dan langsung makan besaaar setelah selesai. Sebagai ibu, saya juga paling sulit mengajarkan anak untuk menghabiskan makanan yang sudah saya ambilkan, Akibatnya, kalau tidak habis, saya merasa bertanggungjawab untuk menghabiskannya meski sebetulnya sudah kenyang banget. Hihi…Tidak seimbang. Sudah pasti. Lutut rasanya sudah cenat-cenut menahan beban😦

Rasulullah mengajarkan kita bahwa makan adalah kebutuhan, bukan keinginan. Rasulullah juga mengajarkan kita untuk makan secara produktif bukan konsumtif, makan untuk mendukung aktivitas, bukan untuk gaya hidup. Makan produktif bukan berarti meniadakan kenikmatan makan. Tapi bagaimana kita mempersiapkan diri dengan niat dan motivasi yang benar, lalu menyikapi kenikmatan makan agar tidak menghasilkan masalah di kemudian hari.

Lapar dan kenyang adalah alarm tubuh alami yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan dalam tubuh. Kekurangan gizi menghilangkan alarm lapar, sedangkan kekenyangan menyebabkan organ pencernaan tidak dapat bekerja dengan optimal, metabolism terganggu, dan penumpukan zat-zat racun.

Allah mengingatkan dalam AlQuran surat 82 ayat 7 dan 8. (Allah yang Maha Pemurah) Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (QS. 82:7). Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. (QS. 82:8).

  1. Menghindari makan lebih dari dua macam lauk

Hal ini dilakukan untuk menghindari kekenyangan. JIka sudah makan roti, maka Rasulullah akan menghidari makan daging. Walaupun makanan itu tersedia, beliau tidak mau memakannya. Makan secukupnya supaya perut tidak kosong. Perilaku ini bertolak belakang dengan perilaku kebanyakan dari kita. Saat berada dalam jamuan makan, biasanya kita malah menyantap semua makanan yang ada dengan berbagai alasan antara lain keinginan makan yang menjadi lebih besar atau karena tidak enak pada orang yang sudah menyediakan makanan. Padahal kombinasi makanan yang disediakan belum tentu baik untuk tubuh.

  1. Menghindari kombinasi makan berikut ini:

Susu dengan daging

Susu dengan ikan

Susu dengan daging ayam

Susu dengan buah

Susu dengan cuka

Ikan dengan telur

Ikan dengan daging

Ikan dengan daun selada

Rasulullah mengajarkan untuk tidak memadukan makanan yang lama dengan makanan yang cepat dicerna, makanan yang dipanggang dengan makanan yang direbus, makanan yang segar dengan makanan yang diawetkan.

  1. Tidak meyukai jeroan binatang

Rasulullah mengingatkan kita untuk menghindari makan dua bagian binatang yaitu perut dan kepala. Belakangan diketahui bahwa saat binatang disembelih, racun dalam tubuhnya mengalir bersama darah untuk keluar dari bagian leher yang disembelih. Di sekitar leher dan kepala itulah beberapa racun masih bisa tertinggal dan mengendap.

  1. Mengonsumsi kurma

Allah melebihkan buah kurma dari buah-buahan lainnya. Ibnu Katsir berkata: “Allah menyebutkan buah kurma ini secara khusus karena kemuliaan dan manfaat yang dikandungnya, baik ketika basah maupun ketika telah kering.

Buah kurma mengandung gula dan vitamin B1 yang mampu membantu mengontrol gerak rahim dan menambah masa sistolennya (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi) sehingga kurma sangat baik untuk perempuan hamil. Bahkan Allah memerintajkam Maryam binti Irman untuk memakan buah ini ketika sedang nifas.

Zat gula pada kurma mudah dicerna. Oh ya, dalam 7 butir atau setara dengan 100 gram kurma mengandung gula,serat selulosa, air, protein, lemak, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan mineral (potasium, tembaga,belerang,besi,magnesium,mangan,kaliun,fosfor)Rasulullah sangat senang makan Kurma seperti dituturkan sahabat Anas Ra: “Rasulullah Saw, berbuka puasa sebelu, shalat dengan memakan kurma segar,kalau tidak ada makan kurma kering, dan kalau tidak ada beliau meminum beberapa teguk air.” (HR. Abu Daud dan Tarmidzi).

 

Sebetulnya masih banyak lagi wasiat Rasulullah tentang makan. Di kesempatan mendatang mudah-mudahan bisa merangkum lagi mengenai adab makan sesuai ajaran Rasulullah. (Ynt)

~ oleh warungminum pada Juli 2, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: