Lana Marcella Wuwungan, Menata Taman dengan Hati

Dimuat Kompas, Minggu 5 Juni 2005

Lana Marcella Wuwungan

 Bagi Lana,  menata taman adalah pekerjaan yang menarik karena klien biasanya memiliki jiwa seni yang baik, berperasaan halus, dan mampu menghargai orang lain.

“KEWAJIBAN kecil dilakukan dengan sepenuh hati agar Tuhan percaya dan memberi kewajiban besar”. Inilah prinsip Lana Marcella Wuwungan (58) dalam bekerja. Lana memulai pekerjaan kecil dengan mendekor gereja untuk acara-acara misa. Ia juga membantu suaminya, Beni Sukarsa, seorang seniman keramik, meletakkan keramik di taman milik para pembeli agar tampak menarik.

Pekerjaan kecil itu dilakukan Lana dengan sungguh-sungguh. Awalnya, dari teman-teman gereja, ia mendapat banyak permintaan sebagai penata taman. Inilah saatnya kewajiban besar itu datang. “Kepercayaan orang lain terhadap saya merupakan kewajiban besar yang harus dikerjakan sebaik mungkin agar bisa memberikan kesenangan pada orang lain sepanjang hari,” kata Lana yang memang hobi merawat dan mengoleksi tanaman.

Lana mulai mendapat tawaran menata taman sejak awal tahun 1990. Untuk membuat taman, ia harus bolak-balik melakukan survei agar apa yang ia letakkan di taman tersebut tampak indah sepanjang masa. “Yang saya lihat pertama kali adalah bangunannya. Seberapa besar perbandingan taman dan bangunan dan bagaimana gaya bangunan itu. Kalau bangunannya minimalis, buat taman yang minimalis juga agar menyatu,” ujar Lana yang belajar secara otodidak bagaimana menata taman yang nyaman dan enak dipandang.

PADA taman yang kecil, biasanya Lana meletakkan tanaman atau ornamen yang sangat istimewa agar taman tetap terkesan menonjol meski sederhana. Lana juga menyurvei tanaman lain di sekitar rumah yang akan ditata tamannya. “Kalau di sekitarnya sudah banyak pohon pinus, sebaiknya di rumah itu ditanam juga pohon pinus. Keuntungannya, agar taman menyatu dengan alam di sekitarnya dan terkesan lebih luas,” kata Lana. Selain itu, Lana akan datang pagi, siang, dan sore untuk melihat jatuhnya sinar matahari. “Ini untuk menentukan tanaman apa yang bisa saya letakkan di tempat terik dan teduh agar tanamannya awet,” katanya.

Taman yang ia buat bervariasi luasnya. Lana pernah mengerjakan taman seluas 1.000 meter persegi, tetapi dia juga pernah membuat taman yang luasnya hanya 18 meter persegi. Untuk membuat taman, Lana tidak menentukan harga. “Saya mengikuti anggaran yang disediakan pemilik lahan. Kalau anggarannya kecil, saya belikan tanaman dan ornamen yang cantik, berharga murah, dan sesuai dengan kondisi di sekitar taman tersebut,” ujarnya.

Biasanya, ujar Lana, para pelanggannya memiliki anggaran sekitar Rp 5 juta hingga puluhan juta rupiah. Dia memperlakukan semua pengguna jasanya sebagai sahabat. “Orang yang senang pada taman, senang pada seni. Orang berseni itu perasaannya halus dan sangat menghargai orang lain. Jadi saya tidak perlu pusing dengan uang karena pasti mereka membayar saya dengan layak dan profesional. Sementara itu, kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik sebagai sahabat,” kata Lana.

Itu sebabnya, jika mendapatkan pasangan suami-istri yang selalu berbeda pendapat dalam penataan taman, Lana memilih mundur. Memulai membuat taman dengan diskusi yang menegangkan membuat Lana tidak enak hati dan tidak meyakini pekerjaannya akan baik. Lana juga tidak mengambil tawaran membuat taman jika calon pengguna jasa tidak memercayainya sepenuh hati. “Saya bisa tahu apakah saya dan calon pengguna jasa itu serasi atau tidak dari obrolan pertama. Kalau selera kita ternyata sama, wah, saya senang sekali mengerjakannya. Ini pekerjaan yang sangat menyenangkan. Saya mengerjakannya dengan enjoy,” kata Lana.

Dia bisa menata taman selama empat hari, tetapi bisa juga sampai berbulan-bulan. “Tergantung luasnya lahan,” ujarnya. Jika pekerjaannya sudah selesai, seminggu kemudian Lana tetap datang untuk memupuk dan mengoreksi taman yang sudah dibuatnya. “Siapa tahu ada tanaman yang mati, saya akan ganti,” ujar Lana, yang juga akan mengajari bagaimana memelihara tanaman pada tukang kebun yang bekerja di rumah pengguna jasanya agar taman yang sudah dibuat tetap indah.

Menurut Lana, taman yang indah, rapi, dan cantik adalah hal yang penting karena orang membuat taman untuk dinikmati dan merasa nyaman berada di rumah sendiri. Lana juga mempersilakan pengguna jasanya untuk berkonsultasi jika suatu hari ingin mengubah atau menambahkan tanaman lain di pekarangannya.

Kadang, ketika ia melintasi rumah pengguna jasanya, Lana menyempatkan mampir dan melihat keadaan taman itu atas seizin pemiliknya. Untuk semua jasa setelah pekerjaannya selesai, ia berikan dengan gratis. “Saat memulai membuat taman saya berdoa agar Tuhan membantu dengan memberi ide-ide yang baik. Itu sebabnya, keuntungan yang saya dapat tidak boleh saya nikmati sendiri. Saya berikan kembali untuk orang lain, termasuk pelanggan saya dengan memberikan servis yang baik setelah pengerjaan,” kata Lana. Lambat laun Lana juga dipercaya untuk mendekor ruangan. “Ini juga pekerjaan yang menyenangkan. Saya bisa menyulap garasi atau ruang menjadi taman yang indah untuk sebuah acara,” kata lulusan Seni Keramik Institut Teknologi Bandung tahun 1968 ini.

Kesenangan akan taman timbul sejak Lana kecil. Ibu dua anak ini senang bermain-main di Taman Kota, Jalan Merdeka, Bandung. Taman itu berada di depan rumahnya. Taman selalu membangkitkan kreativitasnya. Kini Lana juga mengembangkan taman hidup sebagai kado. Taman itu diwadahi keramik berdiameter sekitar 30 atau 50 sentimeter. Ia menanam berbagai bunga yang tahan di ruangan, seperti kaktus. Lalu ia meletakkan batu alam warna-warni dan menaburkan bibit rumput yang akan tumbuh satu atau dua hari.

Taman ini awet hingga berbulan-bulan. Pembelinya bisa berkonsultasi dengannya untuk membuat tamannya tetap awet. Biasanya taman mini ini diberikan sebagai kado ulang tahun atau kado dari perusahaan ke perusahaan lain. Selain pelanggan perorangan, banyak juga bank yang sering memesan taman mini ini. Lana menghargai taman mininya mulai Rp 250.000. Untuk menarik perhatian, wadah taman diberi pita mencolok dan diletakkan di sudut yang menarik perhatian. Untuk membuat taman mini, ia menyediakan bahan-bahannya selama sehari, tetapi menatanya cukup dua jam.

“Pekerjaan ini membuat saya awet muda dan menghindarkan saya dari stres,” kata Lana yang hampir setiap bulan mendapat tawaran menata taman. (Yenti Aprianti)

Foto: Kompas/Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Juli 9, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: