LUCKY KRISHNA PANDJI, JELI MELIHAT BATU KALI

 

Dimuat Kompas, Sabtu, 4 Juli 2005

 

 

Di tangan Lucky, batu kali jadi barang seni.

Di tangan Lucky, batu kali jadi barang seni.

 

BATU kali berubah jadi patung-patung binatang lucu tanpa dipahat. Lewat sentuhan seni Lucky Trias Krishna Pandji (49), batu-batu yang tidak berharga itu bisa jadi benda seni bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

SEJAK kecil, anak seorang tentara ini sangat mengagumi gambar- gambar yang dibuat ibu dan pamannya. Ia juga sangat akrab dengan berbagai bentuk tubuh binatang sebab ayahnya sering mengajak anak-anak lelakinya untuk berburu jauh ke hutan di sekitar Pulau Jawa dan Sumatera.

Lucky dilahirkan sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara. Lima di antara saudara kandungnya adalah lelaki. Kegemaran akan seni membawanya masuk ke Jurusan Seni Patung Institut Teknologi Bandung pada tahun 1976. Namun, ia tidak lulus karena ia lebih banyak bekerja di luar kampus daripada menyelesaikan kuliahnya.

Tahun 1983, ia dan lima temannya membuat studio seni rupa Kraft 6 di Bandung. Namun, studio ini akhirnya dibubarkan karena pendirinya membuka usaha sendiri-sendiri. Lucky sendiri lebih banyak mengolah batu untuk dijadikan benda seninya. Seni patung batu tanpa memahat ia lakukan sejak lima tahun lalu.

Pilihan bahannya jatuh pada batu karena sebagai pencinta alam, ia sangat dekat dengan benda keras itu. Di mana-mana, ketika ia berjalan di muka rumah, menjalankan hobinya memancing di sungai, laut, danau, atau saat mendaki gunung, batu selalu menyertai perjalanannya. Ia juga sangat akrab dengan binatang. Binatang yang ia gemari adalah bangau. Tidak heran, bentuk binatang ini banyak memberi inspirasi baginya. Bangau adalah patung binatang pertama yang ia buat dari batu tanpa dipahat.

“Saya lihat batu sebagai benda tidak berharga. Di jalanan, batu cuma ditendang-tendang atau dimanfaatkan untuk melempar binatang yang nakal. Saya pikir, masa hanya begitu? Pasti batu bisa ditingkatkan derajatnya sebagai barang yang lebih bernilai,” tutur Lucky.

Saat tengah berjalan di pinggir jalan, Lucky melihat sebuah batu. Ia langsung berimajinasi bahwa batu itu sebagai badan sebuah bangau. Di rumah, ia membuat gambar dari bentuk batu dan mendesainnya sebagai seekor bangau. Dari gambar itu, ia segera masuk ke bengkel kerja di rumahnya dan membuat sebuah cetakan dan model kepala, kaki, serta ekor bangau dari resin.

CETAKAN dan model itu ia bawa ke tukang cetak kuningan, tembaga, dan aluminium. Ia pun mendapatkan berbagai bentuk sesuai dengan yang diinginkannya.Kepala dari kuningan ia bor dan pasangi mur. Begitu pun pada beberapa bagian di tubuh batu. Setelah digabungkan, kuningan dan batu direkatkan dengan epoxy resin, sejenis lem yang sangat kuat untuk menggabungkan batu dan logam. Batu itu pun sudah berubah menjadi patung bangau dan siap untuk diberi sentuhan akhir.

Di tangan Lucky, batu dan logam yang berkarakter keras bisa menjadi benda yang terkesan lembut dan elegan. Untuk patung-patung kecil sebesar satu atau dua kepalan tangan orang dewasa, Lucky memberi harga sekitar Rp 100.000 hingga Rp 250.000. Akan tetapi, untuk patung batu yang lebih besar, misalnya untuk yang panjangnya mencapai 50 sentimeter, ia hargai sampai Rp 2 juta.

Lucky lebih banyak memproduksi patung kecil karena mudah untuk dibawa sebagai cenderamata. Dulu, Lucky pernah bekerja membuat mebel dari batu, tetapi ia berhenti. “Ternyata repot juga membuat mebel batu, terutama pada proses pengirimannya yang tidak praktis. Itu sebabnya saya beralih ke cenderamata. Kalau suka, orang bisa segera membeli dan menentengnya untuk dibawa pulang,” kata Lucky.

Ia memajang hasil karyanya pada beberapa galeri dan toko di Bandung, Medan, dan Jakarta. Sebagian besar karyanya lebih banyak dibeli oleh orang asing dari Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Bahkan, patung batu pertamanya yang berbentuk bangau dibawa seorang pedagang ke Swiss. Sayang, kerja sama untuk mengekspor patung batu itu tidak dilanjutkan karena pedagangnya tidak mau kembali ke Indonesia setelah peristiwa bom Bali. “Keamanan negara itu sangat penting sekali, terutama bagi kami, para perajin yang memiliki pasar cukup luas di luar negeri,” ujar Lucky.

Seperti sebuah karya seni, patung batu-patung batunya ia beri judul. Ketika ia membuat kelinci yang tengah melirik ke atas, ia memberi judul “Death From Above”. Imajinasi liar Lucky tidak hanya sebatas memberi nilai lebih pada batu-batu kali yang ada di sungai maupun di jalanan, tetapi juga saat ia tengah jalan- jalan ke sebuah supermarket, batu cobek membuatnya jatuh cinta.

Dalam sebulan, Lucky bisa memproduksi 20 patung kecil dan beberapa buah patung besar serta produk-produk lain dari kayu dan logam. Dalam bekerja, meskipun membuat kerajinan bernilai seni, Lucky tidak mengandalkan suasana hati. “Kalau hanya mengandalkan suasana hati, anak istri saya mau saya kasih makan apa? Pekerjaan ini merupakan mata pencaharian. Kalau tidak rajin, tidak dapat uang. Itu sebabnya saya lebih suka disebut perajin,” katanya. Lucky mengaku bekerja saat ada ataupun tidak ada stok.

Namun, di bengkel kerjanya, tidak jarang Lucky tidak memiliki satu contoh karya pun karena seluruhnya sudah dibawa dan dijual. Ayah dari Bani Izzan (13) dan Salma Khallisya (8) ini dibantu tiga pekerja. “Tetapi, mereka hanya bekerja mengebor batu atau logam. Pada pemasangannya saya yang kerjakan sebab, kalau tidak, biasanya gagal karena pemasangan kuningan pada batu harus sangat hati-hati dan mengikuti perasaan,” ujar Lucky. Ia pernah memercayakan tukangnya untuk memasang kuningan pada batu sesuai dengan gambar patung yang sudah ia desain, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Itu sebabnya ia melakukan hampir seluruh pekerjaannya sendiri.

Lucky menyisihkan sebuah ruangan di rumahnya, Jalan Sukarajin III, Bandung, untuk dijadikan gudang. Sementara untuk membuat patung, ia mengerjakannya di garasi rumah. Saat bekerja, ia sering ditemani anak bungsunya. “Dia sering bertanya tentang barang-barang kerja saya. Sepertinya ia tertarik. Kedua anak saya senang menggambar,” tutur suami dari Ivie Siti Fatimah (39) ini.  (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 9, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: