TEROPONG MATAHARI, SAHABAT PETANI

Dimuat di Kompas, 11 Juni 2005

Stasiun peneropongan matahari di Sumedang, selain digunakan untuk mengamati aktivitas matahari, juga dimanfaatkan petani untuk menentukan masa tanam.

Stasiun peneropongan matahari di Sumedang, selain digunakan untuk mengamati aktivitas matahari, juga dimanfaatkan petani untuk menentukan masa tanam.

JIKA Bandung memiliki Stasiun Peneropongan Bintang Bosscha, kota Sumedang memiliki Stasiun Peneropongan Matahari yang kini dikenal sebagai Stasiun Pengamatan Dirgantara atau SPD. Inilah sahabat baru para petani dan para penggila “langit”. Penampilan SPD atau stasiun peneropongan Matahari ini sangat sederhana, jauh dari kecanggihan teknologi modern.

KALAU ingin mengamati Matahari, sebaiknya datang pagi- pagi, sebelum jam 09.00, karena pengamatannya akan lebih jelas,” kata Kepala SPD Bambang Suhadi di Sumedang, Kamis (9/6).

Stasiun ini berada di Desa Haurgombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Dari Bandung, lokasi ini bisa dicapai dengan menggunakan bus dari Terminal Bus Cicaheum menuju Tasikmalaya atau Garut. Setelah bus keluar dari pintu tol Cileunyi, Bandung, bus akan menuju Pasirmuncang. Dari persimpangan Pasirmuncang, ada mobil angkutan yang melintasi stasiun tersebut. Namun, jika tidak ingin repot, pengunjung bisa menggunakan ojek motor dengan ongkos Rp 4.000.

Stasiun berada satu kilometer sebelum desa penghasil ubi cilembu. Stasiun pengamat ini sangat sederhana. Ada dua kubah di dalam kompleks stasiun. Ukurannya kecil, persis seperti kubah masjid. Luas kubah hanya sekitar 13 meter persegi. Menuju ruang peneropongan, pengunjung harus melewati tangga besi. Ruang peneropongan amat sempit, hanya mampu menampung 7-10 orang berikut seorang pemandu.

Dasimun (36), lelaki yang saban hari mengamati Matahari, segera mengubah kenop pada dinding kubah yang terbuat dari kayu. Terdengar bunyi besi berderak-derak, lalu kubah pun terbuka. Tiba-tiba, dari atas kubah ada tumbuhan jatuh menjuntai. Rupanya atap kubah sudah ditumbuhi tanaman liar. Pada beberapa bagian, papan kubah sudah mengelupas dimakan usia.

SPD ini dirintis pada tahun 1975, tetapi pembangunan fisik dilakukan tahun 1977 dan diresmikan tiga tahun kemudian. Stasiun ini adalah salah satu dari enam SPD yang dikelola Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Pada awalnya, stasiun ini digunakan untuk mengamati aktivitas Matahari memakai frekuensi 200 MHz. Frekuensi yang datang dari Matahari diterjemahkan dalam bentuk grafis untuk mengetahui rendah atau tinggi aktivitas Matahari. Tahun 1989, namanya sempat berubah menjadi Stasiun Pengamat Matahari dan Ionosfer. Sejak tahun 2001, namanya diganti menjadi SPD. Masyarakat awam sering kali menghubungkan istilah dirgantara hanya dengan aktivitas Angkatan Udara. Padahal, dirgantara adalah ruang yang melingkupi Bumi, termasuk antariksa.

Selain mengamati Matahari, teleskop-teleskop di stasiun ini juga bisa digunakan di malam hari untuk mengamati benda- benda langit, seperti Bulan dan planet. Jika ada informasi akan terjadi fenomena alam istimewa di angkasa, petugas stasiun akan memberi tahu warga melalui radio komunitas yang digunakan warga desa sekitar. Penduduk sekitar yang menggemari astronomi berdatangan untuk ikut mengamati benda- benda langit. Biasanya, untuk menjawab pertanyaan penduduk tentang benda angkasa, didatangkan pakar dari kantor Lapan di Bandung.

Penampilan stasiun yang sederhana mampu mengakrabkan astronomi dengan masyarakat awam. Pagarnya yang hanya setinggi satu meter membuat setiap penduduk yang melintasi stasiun bisa melihat apa yang terjadi di stasiun itu. Peralatan klimatologi ini akan mencatat data radiasi surya, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan angin, suhu tanah, dan curah hujan. Data ditransfer secara otomatis ke komputer.

Utjup (48), satpam stasiun ini yang juga seorang petani, sering menceritakan kepada sesama petani bahwa alat itu bisa memprediksi iklim. Saat ingin menentukan waktu tanam, para petani pun bertanya dulu kepada Utjup, kapan kira-kira musim hujan akan tiba, terutama petani ubi cilembu. Mereka harus memperhitungkan betul masalah iklim. Sebab, jika tanaman ubi terguyur hujan, panen pun gagal karena ubi akan busuk di tanah.

“Saya membandingkan saja karakteristik iklim sekarang dengan iklim tahun-tahun lalu yang amat mirip. Dari sana, saya coba prediksi kapan musim hujan atau kemarau akan datang sesuai data yang ada,” kata Nur, pengamat di SPD itu.Diakui Nur, dirinya tidak bisa memberikan data tentang prakiraan iklim bagi petani sebab hal tersebut merupakan tugas Badan Meteorologi dan Geofisika. Ia mencoba membantu memberi informasi secara informal. Untung, prediksinya tidak pernah meleset. Menurut Bambang, pihaknya tidak secara tepat meramal iklim. “Petani bisa rugi jutaan rupiah jika salah menentukan waktu tanam. Tapi, petani butuh informasi iklim,” katanya.

SPD menyadarkan bahwa astronomi bukan hanya milik ilmuwan, tetapi petani bermodal kecil pun amat terbantu oleh ilmu ini.

(Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Juli 9, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: