UHO, ANAK PEJUANG YANG TERDESAK

Dimuat Kompas, Jumat 10 Juni 2005

PASAR Ciroyom adalah persinggahan terakhirnya. Pedagang sayur asal Lembang ini sudah berkali-kali pindah berdagang dari pasar induk satu ke pasar induk lainnya, mengikuti keinginan pemerintah. Meski harus berutang jutaan rupiah, Uho (70) tetap berusaha tunduk pada aturan yang sering kali tidak berpihak pada dirinya. Perjalanan hidup Uho adalah perjuangan dan pengabdian yang tidak berbalas.

DI sebuah lapak sayur di Pasar Ciroyom, sambil menanti pembeli yang agak jarang datang ke lapaknya, Uho bertutur.

Enam puluh tahun lalu ia kehilangan ayahnya. “Ayah saya ditembak Belanda karena ikut memberontak memperjuangkan nasib rakyat di desa kami,” katanya. Ia adalah lelaki asal Kampung Sukamanah, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.

Tak lama kemudian masyarakat di desanya diserang dan didesak keluar oleh penjajah. “Kakak saya mengungsi ke Yogyakarta, sedangkan saya jalan kaki bersama ibu dan adik-adik ke arah Subang,” ujar Uho, anak kedelapan dari sepuluh bersaudara itu.

Di kamp pengungsi Subang, bersama dengan kawan-kawan seusianya, tiap hari Uho mengumpulkan daun pisang. lalu dipikulnya ke dapur umum. Daun- daun pisang dipakai untuk membungkus nasi untuk para tentara. Upahnya, Uho mendapatkan sebungkus nasi untuk ia makan bersama keluarganya.

Meski masih muda, Uho harus segera bekerja karena keluarganya membutuhkan bahan makanan. Sekitar tahun 1950, Uho berjualan daun tisuk untuk membungkus ikan. Hasilnya adalah dua liter beras dan sebungkus ikan asin untuk keluarganya.

Dua tahun setelah itu Uho mulai memikul hasil ladangnya berupa labu kuning dan lobak serta buncis yang dititipkan tetangga untuk dipasarkan di Bandung. Dari Lembang ke Pasar Kosambi dan Cicadas harus ia tempuh selama empat jam karena belum ada kendaraan. Uho, yang saat itu masih berusia 15 tahun, berangkat dari rumahnya pada pukul 22.00 menuju Pasar Kosambi.

Tahun 1950, keadaan sepanjang jalan Lembang-Dago masih rawan, terutama di sekitar gua di Dago Pakar. “Di situ sering ada perampok dagangan,” kenang Uho.

Para pedagang itu biasanya singgah di perbatasan kota yang kini dikenal sebagai Simpang Dago. Biasanya Uho baru sampai Simpang Dago pada pukul 01.00. Puluhan pedagang biasanya duduk-duduk di sepanjang jalan yang kini dikenal sebagai Jalan Juanda. Mereka menanti hingga jam malam berakhir pukul 04.00.

Jika Simpang Dago tidak dijaga polisi, Uho meneruskan perjalanan ke kompleks Institut Teknologi Bandung. Tapi, tak jarang ia dihadang polisi yang memintanya menghentikan perjalanan. Uho pun terpaksa menanti hingga waktu yang ditetapkan. Ia baru sampai di Pasar Kosambi pada pukul 06.00. Jika sayurannya belum habis, ia berkeliling kampung di sekitar daerah Kosambi hingga Pasar Cicadas. Baru pukul 10.00 ia kembali ke Lembang.

Sekitar tahun 1965 adalah awal ia mengakhiri perjalanannya sebagai pedagang keliling. Seorang pedagang yang ia kenal di Pasar Kosambi memintanya untuk bekerja di tempatnya sebagai pelayan. Itu berjalan selama tiga tahun.

Uho akhirnya mampu menggelar dagangannya sendiri, masih berupa sayur-mayur, untuk dijual di Pasar Induk Dulatip. Karena pasar induk dipindahkan ke Ciroyom, mulai tahun 1981, Uho ikut pindah ke Ciroyom. Ia membuat sebuah lapak beratap plastik.

***

PENJUALAN sayur tidak pernah memberinya untung besar. Uho bahkan tidak mampu menyekolahkan delapan anaknya. “Anak-anak saya hanya tamatan sekolah menengah pertama,” ujar Uho. Kini dua anaknya ikut berjualan di lapaknya.

Beberapa kali ia diminta pindah dari Pasar Ciroyom. “Ganti pejabat, ganti aturannya,” kata Uho, yang tidak pernah merasa tenang berjualan akibat sering kali diusik pemerintah. Setelah Ciroyom, pedagang dipindahkan ke Pasar Induk Caringin.

Delapan bulan lalu pemerintah menata Pasar Ciroyom. Lapak-lapak para pedagang yang tadinya beratap plastik diubah beratap asbes dengan tiang-tiang lapak yang sudah beratap baru itu. Ia sudah membayar Rp 2,05 juta berasal dari hasil pinjaman anak-anaknya.

Belum setahun mencicil lapaknya, Uho kini pindah lagi ke Pasar Ciroyom Bermartabat. Ia harus membeli lapak tersebut seharga Rp 10,08 juta. Lagi-lagi ia harus meminjam uang. “Lapak itu baru saya bayar Rp 8 juta. Sisanya Rp 2,08 juta belum dibayar karena saya tidak tahu harus mencari ke mana lagi,” kata Uho.

Jauh di lubuk hatinya, Uho sesungguhnya kecewa dan tak ingin menuntut. Mengikuti pemerintah adalah cara berdamai dengan keadaan yang mengimpitnya. Pengorbanan di masa lalu tak pernah memberinya kemerdekaan. (Yenti Aprianti

~ oleh warungminum pada Juli 9, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: