MENGATASI DEMAM PADA ANAK TANPA PANIK

Demam pada Anak

 

Anak saya demam. Usianya sudah hampir lima tahun. Harusnya saya sudah tidak panik lagi karena sudah beberapa kali menghadapinya. Tapi karena hati sedih, tidak ada teman ngobrol/berbagi kesedihan di rumah (karena suami sedang bekerja dan saya juga memilih tidak punya Asisten Rumah Tangga), saat itulah kepanikan pun menggoda untuk ditanggapi.

Kadang saya perlu mengingat-ingat lagi, waktu menghadapi anak yang sedang demam, biasanya saya melakukan apa ya hingga dia sehat kembali?

Nah, biar saat anak demam, saya tak lupa lagi dan terutama tidak panik lagi, ada baiknya saya catat saja pengalaman-pengalaman mengatasi demam anak. Siapa tahu berguna juga untuk Anda.

Melawan dengan Suhu Tinggi

Kunci pertama menghadapi demam adalah memahami apa itu demam. Demam adalah gejala, bukan penyakit. Demam menjadi tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi dari bakteri maupun virus. Suhu tubuh yang tinggi berguna untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri atau virus.

Demam cukup ditangani di rumah, kecuali jika anak sudah demam lebih dari tiga hari sebaiknya temui dokter. Saya merasa beruntung, karena anak saya biasanya demam maksimal tiga hari. Selain itu, pada banyak kejadian, anak saya demam tetapi tetap ceria. Meskipun pernah juga ia demam dan tampak lemas saat menderita flu dan infeksi pencernaan.

Memahami apa itu demam, terus terang sangat membantu untuk menenangkan saya. Alih-alih khawatir, dalam kondisi tenang, saya bisa bersyukur ketika tubuh anak saya masih mampu melawan kuman yang menyerang hanya dengan menaikkan suhu tubuh. Yang bikin sedih adalah melihat anak tidak nyaman dengan suhu tingginya. Iya, kan Bu, Pak? Beberapa hal menghadapi situasi ini selalu saya lakukan.

 

Menelusuri sejarah demamnya

Oh ya, sebaiknya telusuri sejarah sakit anak saat itu untuk membangun diagnose awal agar tahu bagaimana harus menangani demam anak. Kebetulan saya tidak berkerja di luar rumah alias ibu rumah tangga, jadi saya bisa mengingat apa saja yang disentuh anak saya, apakah dia mencuci tangan dengan sabun selepas main,   bagaimana lingkungan di luar rumah (apakah sebelumnya di kelasnya ada anak yang sakit? Kalau ya, apa sakit yang diderita temannya?), dengan siapa saja dia melakukan kontak, kemana saja dia pergi? Sakit apa yang sedang banyak diderita orang di saat itu.

Semua informasi yang saya dapat ini membantu saya mendiagnosa penyebab demam anak. Lalu, saya googling penyakit apa saja yang memiliki gejala mirip yang diderita anak saya. Begini cara saya mencari informasi lewat google.com tentang penyakit yang mungkin diderita anak saya;

sulit makan, suara serak, demam, muntah

atau

sulit makan, tidur gelisah,  BAB (buang Air Besar) cair dan hitam, sedikit berlendir

Google akan memperlihatkan beberapa artikel. Sebagian besar artikel akan merujuk pada penyakit tertentu dengan gejala mirip yang dialami anak. Lalu, saya baca artikel yang saya anggap paling memberi informasi lengkap. Setelah merasa ada kemiripan yang cukup banyak dengan gejala anak saya, misalnya pada kasus anak saya dengan gejala infeksi pencernaan, saya akan cari blog-blog dokter yang pengalaman   dan tempat kerjanya dapat diketahui dengan mudah. Identitas dokter penting untuk memastikan bahwa dokter tersebut cukup kompeten membahas penyakit yang ingin saya cari. Saya biasanya tidak melayangkan pertanyaan karena banyak dokter tidak selalu dapat menjawab pertanyaan di dunia maya saat itu juga. Jadi akan sangat efektif jika kita yang aktif “berselancar” untuk mencari jawabannya.

Setelah memiliki informasi tentang apa penyakit yang kira-kira diderita anak, merujuk pada gejala-gejala yang ada, saya pun “meluncur” kembali untuk menemukan sifat penyakit tersebut, bagaimana mengatasinya, apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Seluruh informasi ini sangat membantu saya memiliki “modal” untuk lebih tenang menghadapi demam dan penyakit yang menyebabkannya.

 

Pelukan sebagai obat

Agar bisa nyaman saat demam,  saya peluk anak saya. Oh ya, dalam kondisi tidak nyaman, seringkali anak saya merajuk minta mimi/menyusui padahal dia sudah disapih (berhenti menyusui) beberapa tahun sebelumnya. Tapi saya tetap berikan sebagai “obat penenang”. Anak saya akan sangat cepat tenang jika berada lekat dengan saya. Saya kadang menganggap, persentuhan kulit ibu pada anak sebagai pengganti kompres.

Oh ya, dengan bersentuhan kulit dengan kulit, anak akan menjadi nyaman karena panas tubuh anak ditransfer sebagian ke tubuh ibunya. Saat memeluk anak yang sedang demam, saya merasakan suhu tubuh saya ikut meningkat juga. Itu sebabnya, sebaiknya ibu lebih banyak minum, mengonsumsi buah serta sayur, dan makan protein lebih banyak agar tetap fit.

Saya mendapatkan resep ini  dari seorang penyapu kebun di Universitas Indonesia, “Kalau anak saya panas, Bu. Saya belum tentu punya uang buat berobat. Jadi saya dekap saja, saya peluk-peluk anak saya seharian. Nanti badan kita ketularan panas. Enggak apa-apa. Panasnya cepat turun. Kita tinggal nyembuhin sakitnya. Kalau karena flu, ya kita bikin dia istirahat aja. Kadang masak aja saya gendong-gendong. Anak mah, kalau sakit enggak ngebeka (banyak maunya). Apalagi kalau demamnya cuma karena flu, dipeluk-peluk, digendong-gendong, banyak istirahat, sama jangan telat makan. Itu aja udah bikin dia sembuh,” katanya.

Setelah saya coba resepnya, saya pun merasakan kemujarabannya. Kalau kita tahu, anak demam karena flu atau infeksi pencernaan disebabkan tangannya yang kotor atau ditularkan binatang seperti lalat dan lainnya, upayakan fokus pada penanganan penyebab sakitnya. Soal demam, saya mengatasinya dengan pelukan, belaian, dan usapan sambil sesekali saya balur menggunakan minyak telon dan diberi pijatan halus agar nyaman.

Oh ya, selain karena suhu tubuh yang tinggi bisa ditransfer ke tubuh kita, saat berdekapan anak bisa merasakan detak jantung kita. Semakin tenang ibu, semakin anak nyaman.

 

Trik memberi minum

Selain didekap, anak juga harus minum yang cukup agar suhunya bisa turun. Tapi dalam kondisi demam, mengharapkan anak mau makan dan minum susahnya minta ampun. Biasanya saya sering kehilangan akal menghadapi penolakan-penolakannya. Saat itulah panik mulai datang.

Saya biasa menyiapkan berbagai minuman, air putih hangat, teh manis hangat, sirup cocopandan atau sirup pisang susu hangat, susu coklat hangat, dan berbagai merk susu fermentasi. Dengan banyak pilihan, anak merasa tidak sedang dipaksa minum dan tidak cepat bosan untuk minum.

Saya berikan minum sedikit-sedikit agar tidak mudah kembung. Apalagi dalam kondisi demam dan lemas anak biasanya tiduran terus. Diminta bangkit sebentar pun ia tak mau. Saya memberi minum menggunakan sedotan saat dia tiduran dengan kepala diganjal bantal.

Usahakan tetap membuat tempat tidur bersih, tidak ada tumpahan makanan atau minuman. Sebab, kalau anak saya tidak suka melihat tempat di sekitarnya kotor atau basah. Kalau ada yang tumpah, segera ganti sprei atau sarung bantal/guling yang terkena noda agar anak nyaman.
Kalau flu, banyak minum kadang memancing dahak untuk dikeluarkan melalui muntah. Biasanya saya sediakan kantung-kantung plastik bersih pada dus kecil bekas kemasan kopi atau lainnya, lalu tempatkan di dekat tempat tidur anak sehingga ia bisa cepat meraihnya saat hendak muntah.

 

Beri Makanan yang Menyegarkan

Pertemuan dengan orang lain sering diikuti dengan pertukaran pengetahuan. Ini juga terjadi saat saya bertemu seorang pedagang bakso beretnis Tionghoa. Ia bilang pada saya, “Dulu, kalau anak saya demam, saya selalu kasih air perasan dari labu siam,” ujarnya. Kini anak-anaknya yang lulusan sekolah-sekolah di luar negeri itu tetap menggunakan resep turun temurun dari leluhurnya saat menghadapi anak yang demam.  Ia pun memberi resep lengkapnya sebagai berikut:

Ambil labu siam kecil satu buah. Labu siam dicuci bersih dan tidak perlu dikupas. Lalu diparut beserta kulitnya. Peras airnya. Berikan seperempat cangkir air perasan labu siam  pada anak. Ampas parutan labu siam yang sudah diperas dibungkus ke kain tipis,lalu kompreskan sejenak ke atas ubun-ubun anak.

Perlu diketahui, air dan parutan labu siam itu dinginnya…. nyessss!! Saya sih tidak pernah mengompreskan ke kepala anak, karena takut terjadi reaksi yang mengejutkan tubuh anak. Badan yang sedang panas, tiba-tiba mendapat sesuatu yang dingin, apa tidak  “syok” tubuh anak saya? Jadi… saya cuma kasih minum perasan labu siamnya saja. Memang bener sih, suhu tubuh anak akan cepat turun dan kembali ceria. Kalau anak sudah ceria,  nafsu makannya kembali meningkat, lebih rajin minum, dan tidurnya lebih lelap.

Tapi memberi perasan labu siam itu bukan hal yang mudah karena bau air perasannya enggak enak. Kayak bau getah gitu.  Kalau rasanya sih enak, manis seperti sari apel. Kalau anak tetap menolak, saya campur perasan labu siam dengan sedikit  sirup penambah nafsu makan yang memiliki aroma buah yang segar.

Setelah berhasil minum perasan labu siam, saya tawarkan apel agar bau getahnya tidak melekat terus dalam benaknya.  Beruntung anak saya suka banget sama apel. Saat sakit, ia bisa makan apel beberapa buah. Selain apel, saya juga sediakan beberapa buah kesukaan anak saya. Mengenalkan buah pada anak harus dari sejak masa perkenalan makanan di usia 8 bulan agar anak terbiasa dengan aroma dan rasanya.

Selain dari buah-buahan, saya beri makanan-makanan yang menyegarkan bagi anak. Biasa saya buatkan puding, jelly, dan agar-agar dengan rasa yang segar seperti rasa anggur, mangga,leci, stroberi, dan lainnya. Semua makanan yang rasanya asam itu saya berikan kalau yakin demam anak disebabkan flu. Tapi kalau disebabkan infeksi pencernaan, biasanya saya beri agar-agar atau jeli yang tidak asam.

 

Bumbu Sederhana

Saat demam, anak susah makan, uh… rasanya pusing tujuh keliling. Prinsip saya sih beri makan yang anak suka. Biasanya saya kasih sop. Bisa sop daging sapi atau ayam. Bumbunya dibuat sesederhana mungkin, yaitu bawang putih, garam, dan sedikit gula.

Bisa juga saya beri makan bubur lemu/bubur sumsum. Cara membuatnya sederhana, dua sendok tepung beras dilarutkan dengan air 1,5 gelas dan diberi sejumput garam. Lalu, didihkan sambil diaduk hingga kental dan licin.

Bubur lemu bisa dimakan dengan air gula dan santan atau dengan sirup rasa cocopandan. Bisa juga dengan sirup rasa pisang susu. Buat sedikit saja karena yang sedikit itu pun belum tentu dihabiskan. Tapi kalau anak minta lagi, membuat bubur lemu ini tak makan waktu banyak. Cuma lima menit sudah jadi.

Kalau anak males banget makan,saya kasih aja pisang. Kalau masih juga males, pisangnya saya kerok dan saya berikan padanya. Oh ya, kalau sedang sakit anak saya enggak suka makan makanan dengan bumbu berlebihan. Seperti pisang coklat keju dan susu kental manis. Udah pasti langsung ditolak. Tapi itu anak saya, anak Anda mungkin masih punya selera makan pisang coklat keju susu sehingga makanan cepat saji dan bergizi ini bisa Anda tawarkan padanya.

Masih enggak mau makan pisang, sup jagung, asparagus, atau jamur sangat bisa diandalkan. Biasanya saya buat sup jagung sebagai berikut:

 

2 sendok jagung muda yang sudah dipipil

1 siung bawang putih

1 sendok teh tepung beras

1,5 gelas air

1 sendok sup jagung bubuk

Garam secukupnya

Gula secukupnya.

 

Caranya: Semua bahan saya masukkan ke blander untuk dihaluskan. Lalu dididihkan. Berikan setelah sup agak hangat.

 

Sup ini biasanya enggak ditolak anak saya. Tapi kalau lagi enggak beruntung dan tetap ditolak, ya sudah…saya berikan susu kesukaannya. Oh ya, biar hati tenang, baca lagi kandungan gizi dalam segelas susu. Dengan mengetahui bahwa segelas susu mengandung beberapa nutrisi yang dibutuhkan anak, kita akan merasa lebih tenang. Saat genting seperti itu kesadaran bahwa anak mendapatkan nutrisi yang diperlukan adalah hal terpenting. Jangan mudah terganggu dengan bisikan hati; “aduh anak saya kenyang ga ya. Cukup makan tidak?” Lebih baik fokus membangun cerita-cerita yang memotivasi anak agar mau makan agak lahap di jam makan berikutnya.

 

Dongeng yang Memotivasi

Anak senang mendengar kisah tentang kehebatan anak lainnya dalam menghadapi tantangan. Buatlah dongeng yang mengisahkan kehebatan seorang anak melawan musuh dalam dirinya dengan makan teratur, cukup, dan bergizi. Tentu saja tema ini bisa dibuat bervariasi dengan tokoh yang berbeda, tantangan yang tidak sama, dan humor-humor yang lain sehingga setiap anak sakit, anak mendapatkan cerita motivasi yang berbeda-beda.

 

Gambar Makanan Bangkitkan Selera

Soal meningkatkan nafsu makan, akan sangat mudah jika kita memperlihatkan gambar makanan yang akan kita berikan padanya. Kalau mau buatkan puding rasa mangga, kita bisa googling gambar menu tersebut, lalu ditunjukan padanya. “Puding mangga yang kayak gini loh, Nak, mau enggak?”

Gambar makanan membantu membangkitkan selera makan anak. Kalau ditolak cari menu lain yang kita bisa buat, misalnya tunjukan gambar sup jagung, sop daging, sop ayam jamur, dan lainnya. Bersyukur banget berada di masa dimana semua informasi yang kita butuhkan berada di ujung jari kita. Tinggal klak-klik, semua datang dengan cepat. Itu sebabnya kalau anak sakit, tugas utama suami adalah memastikan pulsa istri selalu dalam keadaan baik, hehehe…dan jangka waktu paket internetan masih cukup lama. Ahaha…

 

Jaga Mood

Saat sakit, saya jaga mood anak agar tetap ceria. Biasanya saya putarkan tontonan yang dia suka. Paling gampang sih nyari di youtube. Saya carikan film-film atau klip musik kesukaan dia.

Kadang dia minta saya nyerocos sepanjang hari menceritakan sesuatu, entah itu cerita misteri, kisah-kisah humor, atau kisah masa kecil saya saat sedang sakit (meski kadang cerita saya ngarang, yang penting bisa kasih anak saya motivasi untuk segera sembuh).

Jaga mood ini ga bisa kebablasan. Saat sakit anak malah jadi kerajingan nonton atau main game. Walaupun tampak tenang,tapi kegiatan tersebut membuat lelah mata dan tubuh anak. Jadi, kita juga harus bisa mengalihkan perhatiannya dari gamegame atau film-film tersebut. Kalau saya sih biasanya mengajak dia main di gendongan saya. Buka pintu agar anak bisa melihat-lihat ke luar atau duduk sejenak di teras rumah kalau memungkinkan.

 

Mandi Air Hangat

Anak saya agak sulit dikompres air hangat, tidak betah katanya. Risi kalau bajunya nanti ikut basah. Itu sebabnya saya selalu memandikan anak secara teratur dua kali sehari saat anak demam. Mandinya pakai air hangat tentunya. Anak juga akan senang jika diminta berendam beberapa saat di air hangat. Mandi atau berendam di air hangat sama dengan mengompres keseluruhan tubuhnya. Oh ya, jangan lupa untuk terus memberi anak minum walau sedikit demi sedikit sebelum dan sesudah mandi.

 

Kunjungi Dokter

Untuk menurunkan demam, beberapa langkah sebelumnya bisa dicoba. Kalau tidak turun juga setelah tiga hari, saya biasa berikan anak saya obat penurun panas dalam bentuk sirup yang rasanya disukai anak. Biasanya saya pakai paracetamol. Tapi menurunkan panas dengan obat-obat tersebut harus disesuaikan dosisnya dengan berat badan anak, jadi saya biasa berikan obat-obat tersebut berdasarkan resep dokter.

Saya sih tidak terlalu suka datang ke rumah sakit besar. Selain karena antrinya lama, biasanya dokternya cepat-cepat dalam memberi konsultasi. Ongkos berobat pun mahal, bisa lebih dari 500 ribu untuk menyembuhkan flu yang tak perlu obat itu. Itulah kenapa saya lebih suka datang ke klinik-klinik kecil saja. Di sana saya bisa bertemu dokter yang bisa memberi saya dosis penurun panas yang sesuai untuk anak.

Sambil mengatasi panas, saya biasa atasi sumber sakitnya. Kalau cuma flu, saya upayakan anak berisitirahat dengan baik. Biasanya saya gendong agar dia mau tidur. Lebih enak kayaknya kalau di rumah ada ayunan sederhana untuk mengayun anak agar bisa tidur lelap.

Banyak, kan hal yang bisa kita lakukan saat anak sedang demam. Oh ya, pada artikel selanjutnya saya akan ceritakan juga pengalaman saya memberi Obat Enak untuk Anak  saat mengatasi flu dan infeksi pencernaan. Semoga bermanfaat. (Ynt)

https://warungminum.wordpress.com/wp-admin/post.php?post=676&action=edit&message=6&postpost=v2

~ oleh warungminum pada Agustus 13, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: