PASUPATI, JEMBATAN KECAPI SULING ORANG SUNDA

 

paupati

 

MALAM sungguh gelap, namun suasana di sekitar Sungai Cikapayang, Kota Bandung, begitu ceria. Beberapa anak berlari-lari sambil tertawa di pinggir sungai mengikuti perahu-perahu mereka yang melaju menuruti arus sungai. Perahu-perahu sepanjang 15-25 sentimeter itu terbuat dari kulit buah sepatu dewa atau Spathodea campanulata yang banyak tumbuh di Jalan Tamansari dan Jalan Sumatera. Di atas perahu ditancapkan sebatang lilin yang menyala.

ITULAH sepenggal cerita masa lalu Kota Bandung yang diceritakan kembali oleh Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Kini Sungai Cikapayang yang merupakan bagian dari Sungai Cikapundung tersebut sudah lenyap dari pandangan. Yang tampak hanyalah sebuah beton panjang yang tingginya menyamai pohon pinus yang dulu banyak tumbuh di sisi Jalan Cikapayang.

Beton yang melintang sepanjang Jalan Dr Junjunan, Jalan Pasteur, menyeberangi Lembah Cikapundung, melalui Jalan Cikapayang, dan berakhir di Jalan Surapati, sekitar Jalan Aria Jipang tersebut kini dinamai Jalan Layang dan Jembatan Pasupati.

Menurut Arief Witjaksono, Direktur Proyek Pasupati, nama Pasupati diambil dari wilayah yang dihubungkan, yaitu Pasteur-Cikapayang- Surapati. Tadinya, jalan ini bertitel Paspati. Tetapi dalam bahasa Sunda, paspati berarti tepat saatnya mati. Demi kenyamanan perasaan, nama pun diganti menjadi Pasupati yang terdengar seperti pasopati, panah sakti milik seorang tokoh pewayangan.

Jalur Pasupati ini sudah diidamkan selama 74 tahun lalu. Sejak tahun 1931, Pemerintah Kota Bandung sudah menuliskan impiannya tersebut dalam dokumen Carsten Plan melalui program Autostrada. Autostrada merupakan program untuk menyambungkan missing link atau penghubung yang hilang antara Bandung bagian barat dan timur. Sebelum Pasupati berdiri, Bandung barat dan timur dihubungkan oleh Jalan Wastukencana dan Jalan Siliwangi. Diperkirakan pada tahun 2006, jalan ini sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan dari barat ke timur atau sebaliknya.

Obsesi untuk mempertemukan barat dan timur Kota Bandung ini dituangkan juga dalam Master Plan Bandung 1971, Rencana Induk Kota Bandung tahun 1985 melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 1986, Rencana Umum Tata Ruang Kota Bandung 2003 melalui Perda No 2/1992, dan Rencana Detail Tata Ruang Kota Bandung melalui Perda No 2/1996.

Tahun 1988, Pemerintah Kota Bandung mengusulkan Pasupati pada Departemen Pekerjaan Umum, lalu ditindaklanjuti dengan membuat studi kelayakan oleh Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB) pada tahun 1992. Sementara itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menawarkan proyek ini pada Kuwait Fund for Arab Economic Development (KFAED).

Pihak Kuwait langsung setuju mengucurkan dana sebesar Rp 252,7 miliar untuk proyek ini karena terpesona pada desain jembatan cable stayed Pasupati.Jembatan cable stayed adalah jembatan artistik yang ditopang oleh kabel baja. Keartistikannya tercipta dari susunan kabel- kabel baja yang merentang. “Jembatan jenis ini banyak dibuat di dunia sejak tahun 1990-an. Indonesia termasuk ketinggalan tren,” kata Arief.

Indonesia baru memiliki dua jembatan seperti ini, sebelum di Bandung sudah dibuat di Batam. Jembatan jenis ini akan segera dibangun di Selat Madura, Pekanbaru, Manado, dan Tol Cikampek.

Cable stayed Pasupati terbuat dari baja berdiameter 15,7 milimeter yang didatangkan dari Korea Selatan dan Perancis. Desain kabelnya sengaja dibuat tidak simetris. Kabel sebelah timur terdiri dari lima kabel dobel merentang sepanjang 55 meter, sementara di sebelah barat berjumlah sembilan buah dengan rentangan lebih panjang, yaitu 106 meter. Menara jembatan setinggi 37,5 meter sesuai dengan regulasi dari Bandar Udara Hussein Sastranegara. Panjang jembatan 303 meter, termasuk cable stayed sepanjang 161 meter.

Menurut Arief, jembatan cable stayed ini telah diterjemahkan oleh para budayawan Sunda sebagai jembatan kecapi suling. Kecapi digambarkan oleh rentangan kabel-kabel yang menyerupai dawai kecapi. Sementara menara dengan pucuk miring dan berkesan berlubang-lubang pada tubuhnya menggambarkan suling bambu.

Di lihat dari atas ke bawah, struktur cable stayed ini mirip seperti sebuah busur. Pas sekali untuk menggambarkan busur panah Pasopati. Akhirnya, cable stayed yang diciptakan desainnya untuk pertama kali oleh orang Spanyol itu, kini sudah berkesan Sunda sekali. Jembatan ini akan menjadi penanda baru Kota Bandung.

Jalan Layang dan Jembatan Pasupati memiliki panjang sekitar 2,147 kilometer dengan lebar 21,53 meter tersebut menghabiskan luas lahan sekitar 46.000 meter persegi. Jalan ini memiliki lima pintu masuk, yaitu di Jalan Surapati, Tamansari, Cihampelas, Pasirkaliki, dan Junjunan.

Pembangunan Jalan Layang dan Jembatan Pasupati dimulai tahun 1999, diawali penandatanganan kontrak antara Departemen Pekerjaan Umum dan kontraktor tender, PT Wijaya Karya, PT Waskita Karya, dan Combained Group CO (Kuwait) Joint Operation. Pembangunannya sempat tersendat selama tiga tahun karena situasi ekonomi dan politik negeri, serta masalah pembebasan lahan, maka nilai kontrak yang awalnya Rp 252,7 miliar berubah menjadi Rp 437 miliar. Untuk mewujudkan Pasupati, Pemerintah Kota Bandung membebaskan lahan seluas 56.000 meter persegi dengan biaya dari Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan Pemerintah Pusat sebanyak Rp 47 miliar.

Proyek Pasupati yang berada di antara wilayah berpohon rindang tersebut telah menebang 600 pohon besar. “Tapi kami sudah menanam kembali 1.000 pohon pengganti. Mungkin lima tahun lagi akan besar,” kata Arief. Pohon-pohon yang ditanam antara lain mahoni, trambesi, tanjung, dan palem.

Secukil wajah Bandung masa depan telah terbentuk. Pahatan lainnya akan terus dilanjutkan karena berdasarkan gambar rencana tata ruang Bandung di sebelah utara Pasupati akan dibangun rumah susun, masjid, dan Pasar Balubur baru. Rumah susun juga tampak di sebelah selatan sekitar Cihampelas. Koridor di bawah jalan layang akan dijadikan tempat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.  Semua itu, entah kapan akan terwujud.

Untuk sementara, bertahun- tahun ke depan, dari atas Pasupati, masyarakat cukup mengurut dada saja melihat wajah Bandung sesungguhnya. Di sebelah selatan, Masjid Raya Bandung dikepung kemacetan. Di utara, Gunung Tangkubanparahu pudar keindahannya karena dihiasi perumahan kumuh di mana-mana. Tamat sudah cerita gelak tawa anak-anak mengiringi perahu daun yang ditebari cahaya lilin di arus sungai Cikapayang. Sungainya pun kini sudah terkurung aspal jalanan.

Semoga Pasupati bisa mengatasi persoalan kemacetan lalu lintas Kota Bandung. (Yenti Aprianti)

 

sumber:  Kompas 25 juni 2005

~ oleh warungminum pada Agustus 16, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: