Ada yang Cuma Membeo, Ada yang Lupa Bicara

Oleh:  Yenti Aprianti

(Dimuat di Kompas, Lembar Jawa Barat, Jumat 31 Maret 2006)

 

 

Mata Jefri (12) melongok ke segala arah di ruang kelas yang hanya dihuni dirinya dan seorang guru. Meskipun terus tertawa, ia tampak gusar. Sahabatnya, sebuah boneka Micky Mouse yang biasa diletakkan di meja depan kursinya tidak ada. Itulah yang membuat konsentrasi belajarnya buyar.

Kegusaran membuatnya mengompol. Ketika gurunya meletakkan kembali boneka itu di tempat semula, Jefri tertawa girang. “Pelan-pelan kami ingin menurunkan ketergantungannya pada boneka ini,” kata Deded Koswara, Kepala Sekolah Luar Biasa (SLB) Muhammadiyah Pusat Sumber Autis, Sumedang, Rabu (29/3).

Jefri satu dari 22 siswa autis di sekolah itu. Sejak kecil ia menderita cerebral palsy atau kekakuan otak yang mengganggu fungsi motorik, sehingga tubuhnya layu. Dengan berbagai terapi, Jefri mulai bisa berjalan.

Hingga usia dua tahun, Jefri bisa menyebut beberapa kata. Namun, kini kata-kata itu tidak pernah diucapkan lagi. Bersama gurunya, Yoyoh Rohaeti (39), Jefri diajak berbicara dan belajar menyentuh benda-benda berbagai bentuk dan tekstur agar sensor tubuhnya terlatih.

Di ruang berbeda, Nurhayati (39) membimbing Ifa (6) untuk mengerti bahasa-bahasa perintah. “Ambil…ambil,” kata Nurhayati sambil menunjuk sebuah benda dari karet yang diletakkan di atas meja. Namun, Ifa malah berputar-putar di kelas sambil meraung. Ifa menunjukkan perilaku autis sejak usia tiga tahun, karena virus toksoplasma saat ia masih dalam rahim ibunya, yang mengganggu pertumbuhan sel otak janin.

Hiperaktif

Di ruang kelas yang lain, Yeni Suryanitanti (40) melatih Hana (7) merawat diri. Hana belum bisa memakai sendiri kaus kaki, sepatu, dan lainnya.

Konsentrasi belajar Hana sering terganggu ketika ia mendengar suara yang lain. Tidak seperti anak-anak autis lain yang sulit mengenal kata, Hana mengerti hampir semua nama benda. Namun, ia sangat tertarik meniru kata-kata orang lain. Ia juga mengulang kata- kata tersebut.

Sementara itu, di kelas lainnya dua remaja, Reza (15) dan Deni (16) sedang dibimbing mengenal gambar bentuk.

“Anak autis memiliki kasus yang berbeda-beda. Itu sebabnya mereka harus dibimbing secara individual,” ujar Deded.

Dari 22 siswanya, ada tiga yang sudah masuk ke taman kanak-kanak dan sekolah dasar umum. “Tapi kami terus memantau perkembangan mereka,” kata Deded.

Menurut Nurhayati, kesulitan mengajar anak autis adalah saat mereka berperilaku hiperaktif. Perilaku ini terpicu zat kimia yang terdapat dalam tepung, gula putih, dan susu.

Menurut Deded, mayoritas anak autis juga tidak akrab dengan orangtuanya yang sibuk bekerja. Ketika anak membutuhkan, mereka tidak dapat meladeni karena capek. “Melihat anak-anak autis, baru terasa betapa berharganya sebuah pelukan,” ujar Deded. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: