Bandung, Kota Bagi Para Peminat Buku-Buku Tua

Oleh: Yenti Aprianti

(Dimuat Kompas, 9 Juni 2006)

Sejak tahun 1800-an, Bandung direncanakan oleh Belanda untuk menjadi ibu kota. Para intelektual Belanda didatangkan ke Bandung, tinggal, dan tersebar di daerah utara. Mungkin itu sebabnya, di daerah tersebut kehidupan perbukuan terus berlanjut.

Para pedagang buku mencari buku-buku lama dari sampah rumah-rumah tua di daerah utara. Mawardi (65), pedagang buku di Pasar Palasari, mengatakan, Bandung menjadi salah satu kota yang diburu para kolektor buku, selain Ambon, Medan, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta.

Mawardi memulai perdagangan buku antik tahun 1970-an. Saat itu ia kedatangan pedagang buku dari Yogyakarta, yang membeli buku-buku lama di tokonya dengan harga mahal. Pada saat itu Mawardi menjual 18 buku antik dengan harga Rp 180.000, padahal harga 1 gram emas saat itu di bawah Rp 1.000, dan harga rumah Rp 25.000 -Rp 40.000. Dengan uang itu, Mawardi meneruskan mengontrak rumah di Jalan Lengkong Besar selama 17 tahun.

Buku antik tersebut biasanya berupa buku tentang Indonesia yang ditulis mulai tahun 1800-an, berbahasa Belanda, dan berisi tentang seni budaya, sejarah, pertambangan, dan lainnya. “Selama saya menjual buku antik, saya tidak pernah rugi,” kata Mawardi.

Indra Prayana (30) dan Dandan Merdiana (29), pemilik Jaringan Buku Alternatif di Pasar Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Bandung menjual buku tua sejak 2003.

Buku-buku tua tentang Indonesia masa lalu, baik yang berbahasa Indonesia, Melayu Kuno, maupun Belanda, merupakan buku yang paling banyak dicari. Kolektor tidak hanya memburu buku beraksara Latin, tetapi juga tulisan Arab, Jawa, dan Sunda. Tidak semua pemburu suka membaca. Mereka memiliki buku tua sebagai kebanggaan.

Bandung sebagai kota perburuan buku tua erat hubungannya dengan regenerasi penulis Sunda di tatar Jawa Barat sejak 1800-an.

Sejak tahun 1850 sudah ada orang Sunda yang menulis buku dan diterbitkan, seperti Muhammad Musa dan temannya orang Belanda bernama Karel Frederick Holle yang menulis Panji Wulung.

Karya bahasa Sunda dulu merupakan puisi naratif, kemudian berkembang menjadi novel pada tahun 1870. Perubahan ini diawali dengan banyaknya buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda. Tokoh penting dalam masa ini adalah Kantawinata Lasminingrat.

Tahun 1914, novel Sunda pertama Baruang Ka Nu Ngarora (Racun bagi remaja) diterbitkan. Abad ke-20, di Bandung muncul berbagai percetakan kecil, yakni Toko Boekoe MI Prawira-Winata, NV Sie Dhian Ho, Insulinde, Sindang Djaja, HM Affandi, Dachlan Bekti, Kaoem Moeda, dan Nanie.

Hingga kini perbukuan di Kota Bandung masih semarak. Menurut Deni Rachman dari Penerbit Dipan Senja, yang melakukan pemetaan perbukuan di Kota Bandung, pada tahun 2006 kota ini memiliki 50 titik kantong literasi, belum termasuk penerbit. (Yenti aprianti)

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: