Bandung, Pupusnya Parijs Van Java

Oleh Yenti Aprianti

(Dimuat Kompas, 28 Februari 2006)

Aug. Hangelsteens Md Tailleur. Tulisan itu masih menempel pada dinding gedung tua di sebelah Gedung Pusat Kebudayaan Asia Afrika di Jalan Braga, Kota Bandung.

Gedung tersebut kini tidak lagi dihuni. Karena itu, seorang pedagang bakso dengan seenaknya menaruh gerobak dagangannya di depan pintu gerbang gedung tersebut.

Bukan mustahil pedagang bakso itu merupakan satu dari banyak warga Kota Bandung yang tidak tahu peran bangunan tua tersebut di masa lalu. Gaya hidup warga Kota Bandung zaman dahulu sesungguhnya terekam dalam gedung yang pernah berfungsi sebagai butik itu. Barangkali gaya hidup warga kota yang gemar bersolek dan berbusana mengikuti mode-di masa lalu-itulah yang membuat Bandung dijuluki Parijs van Java.

Haryoto Kunto dalam bukunya, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, menulis, gaya hidup yang modis itu melekatkan julukan Parijs van Java pada Bandung. Setiap malam minggu peragawan dan peragawati memamerkan pakaian mode Paris terbaru.

Gedung yang gerbangnya kini dimanfaatkan pedagang bakso itu dulunya adalah Butik Au Bon Marche. Butik ini terkenal karena selalu menjual gaun model terbaru dari Paris, Perancis. Butik itu milik Firma Au Bon Marche, yang didirikan A Makkinga pada tahun 1931.

Tidak sendirian

Braga menjadi pusat mode di Bandung. Au Bon Marche bukan satu- satunya rumah mode di kawasan tersebut. Di seberang toko pakaian Paris itu berdiri pesaingnya, toko serba ada paling besar bernama Onderling Belang yang mengkhususkan diri pada mode dan pakaian.

Onderling Belang berkiblat ke Amsterdam, Belanda. Cabang pertama di Hindia Belanda dibuka di Surabaya oleh K van Doodenweerd. Di Bandung toko yang dimiliki HJM Koch ini mendatangkan laba besar.

Di Jalan Braga juga terdapat konfeksi paling tenar, bertitel Keller Mode-Magazijn. Konfeksi ini didirikan oleh pasangan GJ Keller dari Belanda. Di negeri asalnya Keller sudah berkecimpung lama dalam bisnis ini, tetapi baru masuk Bandung sekitar tahun 1923. Kini bangunan bekas Keller Mode-Magazijn terletak di sebelah Braga Permai.

Tidak hanya butik untuk perempuan yang tenar di Braga. Kaum pria pun bisa mendapatkan pelayanan memuaskan dalam segi berbusana.

Seorang penjahit bernama August Savelkoul yang sejak tahun 1891 berbisnis pakaian di Gambir, Batavia (sekarang Jakarta), pindah ke Jalan Braga pada tahun 1912. Butik August Savelkoul-lah yang pertama kali memperkenalkan teknik menjahit pakaian sesuai dengan ukuran badan pemakai. Butiknya pula yang menjadi langganan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu.

Butik August Savelkoul memiliki penjahit andalan bernama A Nipius yang bisa menjahit dengan baik sesuai dengan ukuran pemesannya, hanya dalam beberapa jam. Untuk ukuran saat itu, kemampuan seperti ini sangat langka.

Toko lainnya

Gaya hidup Parijs van Java juga diwakili oleh kehadiran toko cerutu Tabaksplant dan toko jam tangan Horlogerie Stocker.

Restoran-restoran berbau Perancis juga berada di kawasan ini, antara lain Maison Bogerijn. Semua menu dalam daftar yang diedarkannya ditulis dalam bahasa Perancis. Beberapa menu yang tersaji di sana, antara lain Hors d’Oeuvre de luxe, Petits Pois aux Laitues, dan Pommes Dauphine.

Para pengunjung restoran ini umumnya pengusaha perkebunan teh yang tinggal di gunung- gunung atau para guru besar dari Technische Hoogeschool yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pengamat Braga sekaligus arsitek dan Ketua Paguyuban Pedagang Braga, David B Soediono, menyebutkan, kegemilangan di sekitar Braga hanya terjadi tahun 1920-1942. Memasuki masa perang, mode tidak lagi menjadi gaya hidup kawasan Braga sebab pada masa pendudukan Jepang untuk memiliki pakaian saja amat sulit. Bahkan banyak warga terpaksa menggunakan pakaian dari karung goni.

Dalam buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto disebutkan, julukan Parijs van Java mungkin juga lahir karena tahun 1920-an Bandung dibangun sebagai “kota kolonial” yang dihiasi banyak taman dan hampir seluruhnya dihuni oleh masyarakat Eropa.

Namun, menurut David, Bandung dengan Paris tidak sebanding untuk disetarakan. “Bandung jangan terbuai oleh julukan masa lalu,” ujarnya.

Seharusnya Bandung bisa meramalkan hidupnya di masa depan dengan cara memaksimalkan data statistik sehingga perkembangan kota bisa direncanakan agar dapat bertahan di masa depan. Yang tampak sekarang, perkembangan kota tidak jelas arahnya.

Kualitas kota yang makin menurun mungkin menjadi penyebab warga Kota Bandung cenderung menengok ke belakang, mengenang romantisme masa keemasannya di masa silam.

Akan tetapi, Kota Bandung di masa depan tentunya lebih penting. Jumlah penduduk akan terus bertambah dan mereka butuh tempat yang layak untuk hidup, tidak sekadar melamun tentang kegemilangan masa silam….

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: