Marlon

Oleh: Yenti Aprianti

 

Entah bagaimana ceritanya aku bisa tersesat sejauh ini. Mungkin ini nasib buruk yang diteteskan moyangku. Kami para lelaki berbadan tegap dan tinggi, berkaki ramping dan kokoh, bermata bulat dan besar, berpupil hitam dan bening seperti kaca, berkulit coklat dengan bulu yang lembut dan indah, bergigi kotak tersembunyi di rahang yang kokoh. Atas segala hal yang baik pada diri ini, kami terpilih untuk menjalani hal yang sulit.

 

Kardi adalah salah satu yang mempersulit sekaligus memudahkan hidupku dan kaum sepertiku. Aku tidak suka Kardi. Lelaki berkumis yang selalu mengusap kepalaku di kala kami bertemu. Hari ini Kardi sengaja menemuiku atas permintaan Dorman.

 

Dorman adalah…emmm…keluargaku. Dia lelaki yang saban hari menjajakan tubuhku di jalan depan sebuah kampus kenamaan. Sebagai seorang pemasar, ada saja cara yang dilakukannya agar orang terpikat padaku. Bulan lalu, dia menata rambutku agar lebih bergaya. Rambut yang tadinya coklat kehitaman, diganti menjadi ungu tua. Menurutku sih enggak keren, tapi Dorman memang punya selera yang aneh. Dia kurang berwawasan, agak malas berpikir, dan suka ikut-ikutan. Tak banyak orang yang tertarik padaku. Akhirnya ia mengembalikan warna rambut asliku.

 

Dorman memang sangat berkepentingan terhadap penampilan dan kesehatanku. Hari ini, kakiku lunglai bagaikan kaki meja yang reyot. Sehari kemarin, aku kesakitan. Otot kakiku seperti mlintir kesana-kemari. Tamu-tamuku kecewa karena aku terlalu loyo. Mereka tentu tak peduli pada rasa panas yang menjalari mata kaki hingga pahaku. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa ini terjadi padaku setiap hari.

 

Setiap yang datang dan tentu saja membayar, menuntut kegembiraan. Macam-macam bentuk kegembiraan yang mereka harapkan. Ada yang sepuas-puasnya bergoyang di punggungku sehingga setiap aku bergerak, dia ikut menggoyangkan tubuhnya agar terlontar tinggi dan kembali mendarat di tubuhku. Ada juga yang macam jagoan. Sebentar-sebentar memecut tubuhku agar aku terhentak dan beraksi lebih gagah lagi.

 

Aku sungguh tak mengerti, kegembiraan macam apa yang ada di hadapanku. Lebih mengesalkan, kegembiraan ini diturunkan dari waktu ke waktu. Mata mereka berbinar tiap kali melihatku. Mereka tidak pernah ingin membuka kacamataku. Padahal di balik kacamata itu tersembunyi mata jernih, bulat, besar, dan berpupil hitam yang berkaca-kaca. Aku tidak pernah bisa menatap ke masa depan yang menyenangkan. Hidupku tergantung Dorman saja.

 

Ini hari Jumat dan besok serta lusa akan banyak orang yang keluar rumah untuk mencari hiburan. Atas alasan itu pula, Dorman memanggil Kardi siang itu. Dia tentu saja menginginkan agar kami bisa perkasa kembali untuk mengumpulkan pundi-pundi yang sebetulnya tak pernah membuatnya kaya.

 

Aku disuruh Dorman berdiri di pinggir jalan, di bawah pohon kersen yang sejuk. Dari jauh kulihat Kardi berjalan mendekati kami. Suara drak…drak…drak…terdengar sangat khas. Suara itu keluar dari kotak kayu yang dijinjingnya.

 

Dia langsung menghampiriku. Seperti biasa mengusap kepalaku. Kasih sayang yang terasa ada maunya. Dia berlutut di kakiku, siap beraksi. Aksi yang aku sendiri tak tahu rasanya, senang atau benci?

 

Senang karena dengan begitu segala lelah berangsur berkurang. Kakiku sungguh tak nyaman sekali. Kardi lah yang biasanya datang menyembuhkan penderitaan yang satu itu.

 

Benci. Seharusnya aku tidak begini. Nasibku bukanlah melipir di jalan aspal atau beton. Seharusnya aku memijakkan kakiku di tanah lembut yang dipagari pohon-pohon pinus di pinggirnya. Harusnya aku ada di atas bukit-bukit, dengan rumput hijau yang lapang, menarikan tubuhku seirama burung warna-warni di angkasa. Bukan berdiri di jalanan, menanti orang yang membuatku terengah-engah 10 menit untuk satu putaran.

 

Kardi mulai mengupas permukaan kuku kakiku. Begitulah dia mengawali ritual perawatanku. Ngeri. Tentu saja. Charlie, teman lelaki seprofesi denganku berdiri tak jauh dariku. Lelaki berkulit putih, berambut pirang itu ikut berkaca-kaca melihat setiap gerak Kardi.

 

Sebelum kengerian yang akan kualami beberapa menit ke depan, aku mulai membayangkan hal-hal indah. Aku harus tenang agar Kardi tak grogi dan logam-logam kecil miliknya menembus dan mengoyak syarafku.

 

Kubayangkan anak-anak perempuan Dorman yang kurus kering. Dengan uang yang kukumpulkan, Dorman biasa membelikan mereka ayam goreng seharga dua ribu rupiah di pinggir jalan. Mungkin ayamnya…ayam tiren, mati kemaren. Itu oleh-oleh sederhana yang selalu mereka tunggu-tunggu. Perlu diketahui, Dorman memiliki dua anak perempuan yang lucu berambut panjang. Rambutnya selalu diikat satu ke belakang. Keduanya suka memelukku. Aku senang mendengar suara cekikikan dua gadis kecil itu saat berebut perhatianku di kamarku yang sempit. Mata kedua bidadari mungil itu jernih, bulat, besar, dan berpupil hitam sepertiku. Aku menyukai mereka dan merasa sangat bahagia bisa membelikan mereka makanan sederhana yang mengenyangkan setiap hari.

 

Air mataku mulai menetes. Pada tiap tetes air yang membasahi mata, tersimpan khayalan yang menghiburku. Aku selalu bermimpi bisa berlari-lari di padang yang hijau bersama kekasihku. Meringkuk di bawah pohon apel sambil membayangkan berguling-guling menghabiskan sore dengan anak-anakku kelak.

 

Aku habiskan banyak waktu untuk membayangkan itu, seperti yakin bahwa impian itu tak akan pernah aku kecap. Kadang-kadang aku menghitung waktu. Berapa lama lagi kiranya aku akan bertahan. Mungkinkah aku akan sampai di bukit bertanah lembut yang berisik oleh pucuk pohon-pohon pinus?

 

Ingatanku pada dua gadis kecil dan imajinasi pada kehidupanku yang seharusnya seperti bius yang membuatku lupa pada Kardi. Dia kini sudah jongkok di samping kakiku. Ingin kutendang saja wajahnya. Tapi dia sudah mengenal setiap gerak-gerikku. Kakiku sudah tertekuk sebelum ujung kakiku berhasil menyentuh wajah bulatnya. Dorman ikut meringkus kakiku.

 

Sigap, Kardi mengeluarkan segala macam besi. Dia tipe lelaki yang berbeda lagi. Dia yang paling berani dan sialan. Jarang ada orang tahu apa yang dia lakukan  setelah membelai kepalaku. Mengerikan. Dia akan mengeluarkan tang hitamnya. Melepaskan dengan sedikit kasar besi yang membuatku bisa terus menghasilkan uang, menggantinya dengan yang baru. Ini yang paling menyiksa.

 

Sebotol paku kecil berbentuk kotak dengan ujung yang runcing siap dipukulkan ke bagian terluar dari telapak kakiku. Tidak hanya satu, enam buah batang besi itu menembus kakiku. Banyak dari kaumku mati akibat tetanus karena orang-orang semacam Kardi salah menusukan besi itu. Itu sebabnya aku harus tenang menghadapi Kardi, meski itu sulit dilakukan.

 

Dari samping, kulihat wajah Kardi yang begitu bernafsu. Sakitnya tidak seberapa, tapi aku takut luar biasa. Kardi terus saja menusukku dengan batang besinya. Andai saja kamu yang mengalaminya, angkasa tentu sudah terbelah oleh teriakanmu. Tapi aku, bisa apa? Dari mulutku liur  meluber melewati batang besi yang menempel ke rahang.

 

Dorman mengusap-usap kepalaku, seperti yang dilakukan Kardi. Ah, aku membencinya sekaligus membutuhkannya. Saban hari dia yang membawaku ke jalanan. Saban hari pula dia menyediakan makanan untukku, memijat punggungku di rumah setelah capek seharian melayani orang-orang yang mencari kesenangan pada tubuhku. Tak jarang Dorman memberiku segelas besar jamu agar staminaku tetap baik. Makanan dan jamu itu dibeli dari uang hasil jerih payahku, sisanya diambil Dorman untuk menghidupi anak istrinya. Kali ini aku betul-betul ingin menendang wajah dua lelaki yang bahu-membahu di dekat kakiku.

 

“Sudah…sudah…Marlon. Sudah selesai,” kata Dorman menepuk-nepuk punggungku. Kurasakan sesuatu yang baru di telapak kakiku. Dingin, keras, dan berisik. Katanya sepatu itu yang cocok di jalan aspal tempat aku bekerja. Kukibaskan kepalaku hingga ludah-ludahku memerciki wajah Dorman dan Kardi. “Bersyukurlah kalian tak jadi kuda tunggang sepertiku,” batinku geram.

 

Bandung, 9 November 2015

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: