Melihat Bandung Purba dari Taman Batu

Oleh: Yenti Aprianti

(Dimuat Kompas, Lembar Jawa Barat, 20 November 2006)

Pagi itu aktivitas di sekitar pegunungan kapur Padalarang sudah ramai. Sebuah truk tua berjalan berderak-derak mengangkut sekitar 10 meter kubik kapur yang dikumpulkan dari tubuh gunung yang terkoyak.

Gunung-gunung menganga. Di dalamnya, truk pengeruk dan orang- orang berkulit gelap dengan peluh yang tak sempat dilap mondar- mandir mengumpulkan kapur. Tempat itu berdebu, dan hawanya sangat panas.

Di tempat lain, lelaki dan perempuan bergerak hilir mudik mengangkut kapur dalam keranjang. Pohon-pohon kaliandra di sekeliling gudang kapur meranggas.

Pagi itu, sejumlah orang datang dengan “seragam” berbeda, memaki kaus, jins, sepatu bersol karet, plus topi. Mereka datang untuk mempelajari kehidupan di Padalarang dahulu dan kini.

Mereka adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus). Dari kampus di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, mereka menggunakan bus menuju Padalarang.

Dari kaki Gunung Masigit, rombongan berjalan kaki menuju Pasir Pawon. Di sana terdapat taman batu yang indah. “Itu Kampung Cinyusuan,” kata T Bachtiar, pemandu rombongan, yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Ketua Masyarakat Geografi Indonesia.

Bachtiar menunjuk Pasir Balukbak, bukit yang sudah dikupas. Kupasan bukit memperlihatkan lapisan pasir yang berbeda warnanya. Yang warnanya paling tua merupakan debu letusan Gunung Sunda, dan yang agak muda warnanya dari debu letusan Gunung Tangkubanparahu.

Rombongan menebarkan benih pohon kaliandra untuk menghijaukan bukit. Mereka berjalan di antara bebatuan yang pasti memikat para pecinta suiseki atau seni batu indah.

Dari atas bukit, Bachtiar menunjuk Sungai Cibuku yang dahulu merupakan rawa purba tempat binatang liar berkaki empat hidup. Di sana manusia purba berburu dan mencari makanan.

Bachtiar mengajak rombongan ke tempat pertemuan manusia purba di puncak Pasir Pawon, yang ditandai dengan batu melingkar dan sebuah batu pipih besar di tengahnya. Tempat perkumpulan manusia itu terus dipakai, bahkan oleh manusia modern. Hal itu ditandai dengan dibangunnya sebuah makam berlapis keramik. Masih banyak kehidupan masa lalu yang bisa diungkap di Padalarang. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: