Menyesal Setelah Paru Tak Berdaya

Oleh: Yenti Aprianti dan Lis Dhaniati

(Dimuat di Kompas, 31 Mei 2006)

Iben Berdaya (68) tergolek tak berdaya di ruang inap Rumah Sakit Paru Dr HA Rotinsulu, Bandung, Selasa (30/5). Sudah setahun ia sakit sesak napas serta batuk. Namun, baru dua minggu dokter mendeteksi bahwa ia terkena kanker paru.

Kanker sudah menjalar ke beberapa bagian tubuhnya. Menurut istri- nya, Rohani (66), sebuah benjolan terdapat di belakang pinggul suaminya sehingga ia tidak bisa duduk. Tubuh Iben pun sangat kurus.

Pensiunan guru agama dan elektronik di beberapa sekolah menengah di Bandung ini memiliki kebiasaan merokok sejak muda. “Apalagi saat masih mengajar, Bapak selalu merokok dan minum kopi agar tidak diejek mengantuk oleh murid-muridnya,” ujar Rohani.

Selain itu, pekerjaannya sebagai guru tidak hanya dilakukan di sekolah, Iben selalu membawa tugas sekolah ke rumah. Sambil memeriksa pekerjaan rumah dan mempersiapkan pelajaran untuk murid-muridnya, ia merokok. Karena banyak pekerjaan, Iben kerap telat makan.

Setahun lalu ia baru merasakan tubuhnya melemah. Batuk yang dideritanya tidak berhenti hingga berbulan-bulan dan ia sering sesak napas. Ia dilarikan ke rumah sakit dan menjalani rawat inap selama dua minggu, lalu berobat jalan setiap dua minggu sekali.

Karena tidak juga berhenti merokok, dua minggu lalu ia kembali dirawat inap. Namun, operasi atas tumornya tidak bisa segera dilakukan karena ia menderita penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi. Kakek yang memiliki uang pensiun Rp 1,2 juta per bulan dan menggunakan kartu sehat untuk berobat ini sudah mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah selama dua minggu dirawat. Kini ia tidak lagi merokok.

Melihat kondisi Iben yang tidak berdaya, anak-anaknya yang dulu merokok mulai menyadari pentingnya kesehatan paru. Mereka juga mulai menghentikan kebiasan merokok.

Di seberang kamar rawat inap Iben, Endang Ishak (68), juga seorang guru, menderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Lelaki yang sudah merokok sejak tahun 1957 ini mengaku merokok karena mengikuti kebiasaan orang Belanda. “Awalnya saya hanya iseng meniru orang Belanda,” ujar Endang, yang akhirnya kecanduan dan merokok lebih dari 24 batang per hari.

Endang mengaku sejak muda lebih suka merokok dan minum kopi. “Rokok membuat saya kehilangan selera makan,” ujarnya.

Saat muda Endang memang sering merasa sakit flu. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa hal tersebut merupakan gejala awal akumulasi zat racun dalam tubuhnya.

Setelah puluhan tahun merokok, baru dua minggu lalu ia merasakan gejala yang menakutkannya. Ia merasa sesak napas cukup parah, tubuh- nya panas dingin, kepala pusing, dan terus-menerus batuk disertai lendir.

Karena gejalanya cukup parah, keluarga membawanya berobat ke rumah sakit. Endang diminta untuk menjalani rawat inap.

“Sekarang saya menyesal pernah merokok. Setiap instansi sebaiknya bertanggung jawab untuk mempromosikan agar orang tidak hidup dengan rokok,” lanjutnya.

Kampanye antirokok

Menurut Dr Azril Hasan, spesialis paru dari RS Paru Dr HA Rotinsulu, ada mitos di masyarakat bahwa kopi bisa menetralisasi racun rokok. Padahal, kopi bisa menyebabkan jantung berdetak lebih kencang sehingga mempersempit pembuluh darah. Akibatnya menjadi parah karena pada perokok fungsi paru terganggu dan pembuluh darah menyempit, sehingga sangat mudah timbul stroke.

Seniman keramik, Bonzan Eddy R Setyo (54), juga menyesali kebiasaannya merokok. Kini, dalam keadaan sakit, ia memilih untuk serius “berkampanye” antirokok. Bonzan memang tidak berbicara di forum yang luas, tetapi setidaknya tiap ada orang menjenguk, ia pasti menceritakan pengalamannya.

“Berdasarkan pengalaman, saya bisa ngomong bahwa rokok berakibat buruk,” ujar Bonzan di rumahnya di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, beberapa waktu lalu.

Seniman yang memelopori inovasi keramik di Desa Sitiwinangun ini memulai kebiasaan merokok sejak kelas I SMP.

“Kelas III SMP saya sudah termasuk perokok berat untuk remaja seusia saya,” ujarnya. Saat kuliah di Institut Teknologi Bandung hingga menggeluti profesi seniman keramik, ia bisa menghabiskan rokok tiga bungkus per hari.

Ia berhenti merokok setelah sakit parah. Menurut dia, awalnya memang sulit berhenti merokok meskipun napas sudah sesak. “Sekarang keinginan merokok masih sering muncul, tapi saya redam kuat-kuat,” katanya.

Dengan kondisinya saat ini, aktivitasnya sangat terbatas. “Tenaga ada, tetapi susah bernapas. Berjalan 10 meter saja sudah terengah- engah,” ujar Bonzan yang tidak lagi berkarya. “Rasanya sangat tersiksa. Tetapi mau bagaimana lagi,” katanya. Tubuhnya sekarang terlihat sangat kurus. “Dulu berat badan saya mencapai 42 kilogram, sekarang hanya 32 kg,” tuturnya.

Ia rutin mengeluarkan uang Rp 150.000 per bulan untuk berobat. Ketidakmampuan bekerja seperti semula membuat pemasukan keluarga sangat seret. “Untung saudara-saudara banyak membantu,” katanya. (yenti aprianti/lis dhaniati

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: