Napi Anak Bicara Masa Depan

Oleh: Yenti Aprianti

(Dimuat di Kompas, Lembar Jawa Barat, 4 April 2006 dengan judul: “Saya Mau Jadi Apa, Ya?)

“Saya mau jadi apa, ya?” ujar Adnil (16), nama samaran, pelaku pencurian motor yang kini ditahan di Rumah Tahanan atau Rutan Kebonwaru, Bandung, di sela-sela waktu belajar yang difasilitasi Lembaga Swadaya Masyarakat Edukasia.

Setelah berpikir sejenak, Adnil mengaku suka mengotak-atik motor dan ingin mendapatkan keterampilan soal perbengkelan.

“Betul deh, setelah ini saya tidak akan ngotak-atik motor untuk mencuri,” ujar Adnil, yang ingin bisa mandiri dan menghasilkan uang dari keterampilannya setelah menjalani hukumannya.

“Eh, kalau kita bebas, nanti kamu renovasi motor saya, ya,” ujar Aman (16), tahanan lainnya sambil memeluk bahu Adnil.

Adnil menatap temannya sambil mengangguk-angguk. “Bener, nih. Saya serius,” lanjut Aman.

Sementara itu, Dadang (16), yang tinggal dua bulan lagi menjalani masa hukumannya-karena melakukan pencurian motor diikuti kekerasaan- mengaku tidak memiliki persiapan setelah keluar dari rutan.

“Saya suka seni,” katanya. Dadang berharap, bakat seninya dapat digunakan untuk menghasilkan uang. Ia ingin mempelajari desain gambar untuk menghias kendaraan.

Lain lagi Endro (16), yang baru masuk Rutan Kebonwaru dua minggu dan tengah menunggu proses pengadilan. Endro mengaku ditahan karena mencuri kotak amal di masjid di daerah Leuwipanjang, Bandung.

Saat itu ia sangat ingin pulang dan bertemu keluarga setelah beberapa bulan menggelandang di Bandung mencari pekerjaan. “Andaikan saya mau berusaha lebih keras untuk mendapatkan uang, pasti tidak akan begini,” kata Endro.

Endro sangat ingin kembali bekerja dan menghasilkan uang untuk membantu keluarganya di desa. “Saya selalu memikirkan kakak saya, yang suaminya menganggur,” kata Endro.

Ajang penyegaran

Setiap Kamis, penghuni Rutan Kebonwaru belajar bersama pengajar dari jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terdiri dari Lembaga Advokasi Hak Anak, Solidaritas Masyarakat Anak (Semak), dan Kalyana Mandira. Sementara Selasa dan Sabtu, diisi para pengajar dari LSM Edukasia.

Pendidikan yang diselenggarakan oleh LSM tidak hanya belajar baca, tulis, dan menghitung, tetapi juga berbagai keterampilan dan hiburan.

Bagi anak-anak di rutan, kegiatan belajar merupakan ajang penyegaran. “Bosan juga di dalam sel,” kata Doni (17).

Doni mengaku jika tidak ada jam belajar atau tugas dari petugas rutan, mereka menghabiskan waktu di kamar sel.

Itu sebabnya dengan wajah murung mereka menagih janji pengajar dari Edukasia. “Mana gitarnya, Kak? Katanya mau bawa sekarang,” ujar seorang anak.

“Bosan nih, sudah dua minggu televisi dimatikan kalau siang,” ujar anak lainnya.

Menurut Lista Cahyowati (23), pengajar dari LSM Edukasia, anak- anak yang pernah berbuat kriminal bukan berarti harus diabaikan. “Mereka juga memiliki banyak harapan, termasuk kembali ke sekolah dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya. Sebelum mengakhiri pelajaran Matematika, Lista bertanya,” Minggu depan mau belajar apa?”

“Bahasa Inggris,” ujar seorang anak. “Seni dan sastra juga boleh,” lanjutnya. (Yenti Aprianti)

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: