Pemantau Jentik, Seribu Rumah dan Sepatu Baru Setiap Bulan

 

Oleh: Yenti Aprianti

(Dimuat Kompas,  2 Februari 2007)

“Lai…lai…lai…lai…lai, panggil aku si Jablai….”

Beberapa orang perempuan menyanyi begitu riang. Bukan, bukan karena sedang galau, justru mereka tengah bergembira karena berhasil menaklukan Si Jablai, Aedes Aegypti.  Berkat para ibu itu, nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dulu jarang “dibelai” kini berhasil diganyang habis.

 Ibu-ibu juru pemantau jentik atau jumantik bersama kader-kader Pendidikan Kesejahteraan Keluarga bernyanyi riang siang itu di ruang tunggu Puskesmas Telagabodas, Kota Bandung, Rabu (31/1), usai melaporkan hasil kerja mereka selama setahun, termasuk kondisi lingkungannya yang bebas dari jentik nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD.

Para jumantik itu adalah ibu rumah tangga berusia 30-60 tahun yang memantau jentik nyamuk di wilayah Kelurahan Burangrang, Malabar, dan Cikawao sejak 2005.

Hari itu mereka libur memantau jentik setelah enam hari dalam seminggu bekerja tanpa dibayar. Setiap orang bertanggung jawab memeriksa seribu rumah dalam sebulan.

Evi (30), ibu dua anak warga Kampung Karapitan Timur, Kelurahan Burangrang, biasa bangun setelah subuh dan segera menyiapkan makanan untuk keluarga serta membereskan pekerjaan rumah. Pada pukul 09.00 ia sudah siap berangkat bekerja. Modalnya hanya sebuah buku catatan bersampul coklat berisi data penduduk di kelurahannya dan sebuah senter.

Setiap hari ia berjalan kaki dari rumah satu ke rumah lainnya, masuk ke gang-gang kumuh di daerah Karapitan. Tugas utamanya ialah memeriksa jentik nyamuk Aedes Aegypti. “Memeriksa rumah di daerah kumuh menyenangkan. Mereka ramah dan mempersilakan kami memeriksa rumahnya,” kata Evi. Ia memeriksa kamar mandi, genangan di penampungan dispenser, pot bunga, belakang kulkas, dak rumah, hingga baju bergantung di kamar.

Kasus menurun

Hal yang sama dilakukan juga oleh Lia Rosmalia (37), ibu dua anak remaja. “Kebetulan di wilayah kerja saya di Karapitan banyak toko. Biasanya jentik Aedes Aegypti ditemukan di genangan dispenser dan kamar mandi,” kata Lia.

Tak heran, Lia sering memberi catatan pada pemilik rumah agar segera menguras bak dan dispensernya. “Alhamdulillah, mereka selalu menurut, kata Lia, yang amat senang jika dari tahun ke tahun jumlah kasus DBD di lingkungannya terus menurun. “Turunnya jumlah kasus DBD di lingkungan saya menjadi kebanggaan dan cukup sebagai bayaran atas kerja keras saya selama ini,” katanya.

Tahun 2004, sebelum ada jumantik, jumlah kasus di wilayah kerja Puskesmas Telagabodas mencapai lebih dari 300 kasus per tahun. Tahun 2006 hanya 34 kasus.

Tugas sebagai kader pemberantasan penyakit menular dan jumantik tak sebatas mengurusi nyamuk penyebab DBD. Jika ada unggas mati pun penduduk segera mengiriminya pesan singkat atau SMS, dan ia melaporkannya ke puskesmas.

Kisah menarik juga dialami Kiki (52). Ibu empat anak ini mengaku pada awal kerjanya sering ditolak oleh para pemilik rumah. Padahal, rumah-rumah yang ia datangi bukan perumahan kumuh, melainkan perumahan elite di Kelurahan Malabar, Kota Bandung.

“Memeriksa jentik dan menyuluh orang dari kalangan ekonomi menengah ke atas dan berpendidikan tinggi sulit. Sering kali saya tidak dipersilakan masuk. Saya cuma diterima di luar pintu pagar yang tinggi,” kata Kiki.

Mereka biasanya menolak diperiksa dengan mengatakan bahwa rumahnya cukup bersih. “Bersih menurut Anda, belum tentu bersih menurut saya,” ujarnya ngotot di awal kerjanya.

Jika tak juga diizinkan, terpaksa jurus terakhir meluncur dari mulutnya. “Kalau sampai dari rumah Anda ada yang terkena DBD, Anda mau jika warga mengetahui Anda lalai membersihkan rumah?” ujar nenek beberapa cucu ini tegas.

Akhirnya pada pemeriksaan berikutnya, pemilik rumah-rumah gedong itu mempersilakannya memeriksa jentik dengan senter yang selalu digenggamnya.

“Biasanya kalau dinding bak licin, dijadikan sarang jentik. Saya menyenter air bak sampai lima menit untuk memastikan tidak ada jentik Aedes Aegypti. Nyamuk itu biasanya naik ke permukaan air tiap lima menit. Dengan sinar dari senter, gerakannya mudah diamati,” kata Kiki. Ia mengaku, karena jalan kaki hampir tiap hari dari rumah ke rumah, setiap bulan sepatunya hancur dan harus diganti dengan sepatu baru.

Jika sedih karena penolakan-penolakan itu, mereka menelepon pembinanya, bidan Siti Aisyah, Koordinator Program Pemberantasan Penyakit Menular di Puskesmas Telagabodas, atau pegawai puskesmas lainnya untuk sekadar berkeluh kesah dan mendapatkan masukan.

Hanya pada hari Minggu para pejuang kesehatan masyarakat itu berlibur dan menghabiskan waktu bersama keluarga selama sehari penuh. Mereka juga libur jika harus melaporkan hasil kerja ke puskesmas, seperti Rabu itu.

Menyanyi, berkumpul, sambil berjoget bersama di ruang tunggu puskesmas bersama seluruh pegawai medis Puskesmas Telagabodas menjadi bayaran yang memuaskan bagi para ibu jumantik setelah bekerja tiada henti.

Siang menjelang sore, mereka pulang ke rumah masing-masing diiringi entakan musik dangdut yang terus menggema dari ruang tunggu puskesmas. Pesta sederhana yang menyegarkan telah usai. Esok mereka bekerja kembali mengunjungi rumah-rumah penduduk, berhadapan dengan anjing galak atau bau selokan di permukiman kumuh sambil membayangkan model sepatu apa lagi yang akan mereka beli bulan depan.

Salah Kaprah

“Untuk menghadapi DBD, gerakan masyarakat untuk memberantas sarang nyamuk harus dilakukan lebih intensif,” ujar dr. Gunadi Sukma Binekas. “Para juru pemantau jentik (jumantik) harus diaktifkan. Kota Bandung memiliki lebih dari 500 orang jumantik,” tambahnya lagi.

“Saat DBD melanda, biasanya masyarakat mudah sekali diajak memberantas sarang nyamuk. Sayangnya cara pemberantasannya kadang tidak tepat. Mereka biasanya membersihkan selokan dan membabat rumput-rumput liar di lingkungannya. Padahal, nyamuk dan jentik Aedes aegypti tidak akan hidup di air yang bersentuhan dengan tanah,” kata Anhar Hardian, Pelaksana Tugas Kepala Seksi Surveillance Dinkes Kota Bandung tahun 2007.

Hal penting dalam pemberantasan sarang nyamuk justru sering diabaikan. Misalnya, banyak keluarga masih mengabaikan genangan air di bawah vas bunga, di bawah dispenser, di belakang kulkas, dan dalam botol minuman yang terbuka tutupnya. “Padahal, setetes air bersih saja menggenang di dekat rumah, bisa menjadi surga bagi nyamuk Aedes aegypti,” ujar Anhar.

Siti Aisyah (39) pembentuk Juru Pemantau Jentik di wilayah Talagabodas, Bandung mengatasi DBD saat kejadian saja tidak efektif. “Yang efektif adalah mengubah pola hidup, dan itu harus dilakukan terus-menerus,” ujarnya yang melibatkan ibu rumah tangga dan warga lainnya menjadi juru pemantau jentik sejak 2005.

Kini para ibu di wilayah tersebut setiap hari selama dua tahun ini rajin berkeliling dari rumah ke rumah untuk memantau ada tidaknya jentik di kamar mandi, halaman, dan sudut-sudut ruangan rumah penduduk dari permukiman elit hingga permukiman kumuh. Hasilnya, kini wilayah tersebut bebas jentik. Januari lalu hanya satu penduduk yang terjangkit DBD.

~ oleh warungminum pada Maret 5, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: